Selasa, 02 Juni 2009

Peran Guru Sebagai Motivator

Implementasi KTSP berimplikasi pada pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif. Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: guru) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para siswanya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya.
Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi guru dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa.
1. Memperjelas Tujuan yang Ingin Dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para siswa pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.
2. Membangkitkan Minat Siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa, diantaranya :
• Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian guru perlu enjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa.
• Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelaaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa, akan tidak diminati oleh siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat siswa akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.
• Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.
3. Ciptakan Suasana yang Menyenangkan dalam Belajar.
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.


4. Berilah Pujian yang Wajar terhadap Setiap Keberhasilan Siswa.
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikanpujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.
5. Berikan Penilaian
Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.
6. Berilah Komentar terhadap Hasil Pekerjaan Siswa
Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

7. Ciptakan Persaingan dan kerjasama
Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk siswa yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antarkelompok.
Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar siswa di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

Sumber:
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Contoh Laporan PTK

Peningkatan Kebiasaaan Sholat Lima Waktu Melalui Pemberian Motivasi Multi Aspek pada Siswa SMKN 3 Jakarta

ABSTRAKSI
Penulis berasumsi bahwa pembiasaan sholat lima waktu masih minim dilaksanakan oleh remaja, termasuk siswa-siswi SMKN 3 Jakarta, setelah kami tanyakan dikelas, hampir setiap kelas hanya rata-rata 15% yang terbiasa sholat lima waktu, itupun umumnya anak-anak Rohis. Kami berasumsi bahwa kebiasaan sholat lima waktu dapat ditingkatkan. Asumsi tersebut jelas memerlukan metode yang jitu. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode yang akurat dalam memacu siswa guna pembiasaan sholat lima waktu. 1. Judul PTK ini adalah “ Meningkatkan kebiasaan sholat lima waktu melalui pemberian motivasi multi aspek” Sholat dicanangkan oleh Allah untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang tangguh, dalam sholat Allah mengajarkan hidup disiplin, hidup sabar,bermasyarakat, mengajarkan hidup sehat, hidup bersih lahir dan batin, menahan dan pengendalian diri, berkomunikasi dengan Khaliknya, 2. Permasalahan kurangnya kesadaran siswa untuk membiasakan sholat lima waktu. Inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji kebiasaan sholat lima waktu yang sudah jauh dari yang dicontohkan Rasulullah, beberapa kali survey kecil, setiap kelas yang kami survey tidak lebih 15 % yang sudah melaksanakan sholat lima waktu secara rutin lima kali sehari semalam, survey secara kwantitas belum lagi sebagai kwalitas tentu lebih banyak lagi. 3. Metode yang saya gunakan adalah pemberian motivasi melalui memperdalam kajian sholat, melalui kajian nikmat umumnya, melalui kajian diri pribadi siswa, melalui video penciptaan Alam semesta. Sehingga semua potensi rohani dan jasmaninya bisa berfungsi dengan lebih baik. Sehingga terdorong untuk mensyukuri nikmatNya salah satunya adalah melakukan shalat lima waktu

LAPORAN

BAB. I.PENDAHULUAN
A. Latar belakang
....................
B. Rumusan Masalah
Sholat adalah merupakan pangkal tolak pembinaan kepribadian seseorang muslim, yang dijadikan oleh Rasulullah sebagai tiang Agama Islam, satu-satunya ibadah yang diwajibkan secara berulang setiap hari, seumur hidup. Apabila pembinaan sholat itu terabaikan akan meruntuhkan sendi-sendi Islam itu sendiri sekaligus meluluhlantahkan pembinaan umatnya. Oleh sebab itu peningkatan pembiasaan sholat itu merupakan hal yang urgen untuk diterapkan kepada siswa.
• Bagaimana memotivasi siswa untuk membiasakan sholat lima waktu?
• Bagaimana mengelola waktu yang singkat untuk tatap muka tapi efektif dan efesien dalam membina mereka?

C. Tujuan Penelitian
Penulis berasumsi bahwa pembiasaan sholat lima waktu masih minim dilaksanakan oleh remaja, termasuk siswa-siswi SMKN 3 Jakarta, setelah kami tanyakan dikelas, hampir setiap kelas hanya rata-rata 5% yang terbiasa sholat lima waktu, itupun umumnya anak-anak Rohis. Kami berasumsi bahwa kebiasaan sholat lima waktu dapat ditingkatkan . Asumsi tersebut jelas memerlukan metode yang jitu. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode yang akurat dalam memacu siswa guna peningkatan pembiasaan sholat lima waktu
D. Manfaat Penelitian
.............................

BAB.II.KAJIAN TEORI

Kajian sholat Lima waktu.
Sholat adalah tiangnya agama Islam, sholat merupakan amal yang pertama kali dipertanggungjawabkan nanti di hari kiamat, bila sholatnya baik maka amal yang lain jadi baik, jika sholatnya rusak maka amal yang yang lain jadi tercemar. Sholat dicanangkan oleh Allah SWT untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang tangguh, dalam sholat Allah mengajarkan hidup disiplin, hidup sabar,bermasyarakat, mengajarkan hidup sehat, hidup bersih lahir dan batin, menahan diri dan pengendalian diri, berkomunikasi dengan Khaliknya, Inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji kebiasaan sholat lima waktu yang sudah jauh dari yang dicontohkan Rasulullah, beberapa kali survey kecil, setiap kelas yang kami survey tidak lebih 15 % yang sudah melaksanakan sholat lima waktu secara rutin lima kali sehari semalam, survey secara kwantitas belum lagi sebagai kwalitas tentu lebih banyak lagi.
Peningkatan kebiasaan sholat lima waktu.
Yang dimaksud kebiasaan disini ,adalah nilai yang sudah menjadi sikap pribadi seseorang, yang dapat dikerjakan tanpa berpikir, kebiasaan seperti ini yang disebut dengan akhlak. Dengan harapan semoga sholat itu akhirnya menjadi akhlak bagi siswa yang mengamalkannya.
Motivasi multi aspek.
Yang kami maksudkan motivasi multi aspek. Terdiri dari kata motivasi, multi dan aspek. Yang dimaksud mativasi adalah unsur yang mendorong seseorang untuk menggerakkan mengerjakan sesuatu, multi aspek artinya beragam bentuk. Multi yang saya maksud disini antara lain: motivasi melalui kajian sholat, melalui kajian diri siswa ,melalui kajian nikmat, meleui video penciptaan alam semesta.
Metode yang digunakan.
Metode yang digunakan adalah memberian motivasi melalui memperdalam kajian sholat, melalui kajian nikmat umumnya, melalui kajian diri pribadi siswa, melalui video penciptaan Alam semesta. Sehingga semua potensi rohani dan jasmaninya bisa berfungsi dengan lebih baik. Sehingga terdorong untuk mensyukuri nikmatNya salah satunya adalah melakukan shalat lima waktu.

BAB.III.PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN

A. Lokasi dan Subyek Penelitian
..........................
B. Prosedur Peneltian
1. Mengadakan survey awal.
Survey awal yang dimaksud ialah menanyakan secara lisan tentang kebiasaan sholat siswa kelas X, kelas XI dan kelas XII. Saya mendapat data hanya + 15 % dari kelas itu yang sholat sudah rotin lima kali sehari dan semalam. Oleh sebab itu saya terdorong untuk mengetahui apakah yang menyebabkan hal itu terjadi bagaimana jalan keluarnya.
2. Membuat tahapan penelitian dan evaluasi.
a. Pada siklus pertama memotivasi siswa dengan kajian makna sholat supaya siswa lebih paham makna sholat secara keseluruhan. Sehingga dia dapat menyayangi sholat dan membiasakannya.Setelah itu memberikan format isian keadaan sholatnya selama tujuh hari, setelah tujuh hari format yang diisi siswa dan ditandatangai oleh orang tua diambil kembali untuk dianalisa dan dievaluasi untuk menyetahui hasilnya.
b. Pada siklus kedua (siklus pertama diambil sebagai acuan) siapa berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi malas, maka pada siklus kedua ini sudah diadakan pendekatan yang intensif kepada siswa yang berubah menjadi malas, disamping itu memotivasi dengan kajian nikmat yang diberikan Allah baik bersifat pribadi ataupun bersifat umum. Setelah itu siswa diberi format isian untuk diisi sesuai sholat yang mereka laksanakan dalam tujuh hari berikutnya. setelah format itu diisi siswa dan ditandatangai oleh orang tua diambil kembali untuk dianalisa dan dievaluasi untuk menyetahui hasilnya.
c. Dari evaluasi siklus kedua hasilnya ada peningkatan namun masih ada siswa yang cendrung turun maka pada siklus ketiga saya analisa beberapa pribadi yang cendrung acuh serta diadakan pendekatan dengan memanggil serta mengoreksi informasi dan melalui informasi diadakan motivasi yang sesuai dengan siswa yang bermasalah tersebut. Setelah format itu diisi siswa dan ditandatangai oleh orang tua diambil kembali untuk dianalisa dan dievaluasi untuk mengetahui hasilnya dan mengevaluasi kegiatan

BAB.IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Rekapitulasi Siklus I
REKAPITULASI SHOLAT LIMA WAKTU SISWA
Diteliti dari tanggal 23 s/d tanggal 29 bulan September 2007 Siklus I
No Nama Siswa Zhuhur Ashar Magrib Isya Shubuh Keterangan
1 Andriyansyah 7 7 7 7 7 100.00
2 Ariyana 6 6 7 7 7 94.29
3 Dede Nursapni 7 6 6 5 4 80.00
4 Dita ulandari 4 4 6 7 7 80.00
5 Etik Damayanti 7 7 7 7 7 100.00
6 Faazin H Af 7 7 7 7 7 100.00
7 Feni Hernita 7 5 6 6 7 88.57
8 Fenny Greace A 4 6 7 6 4 77.14
9 Iis Febriyani Utami 6 7 7 6 3 82.86
10 Insi Aulia Kh 4 4 6 4 4 62.86
11 Irma Nuarti 7 4 7 5 7 85.71
12 Kurnia Eka Abdillah 6 7 7 7 7 97.14
13 Lila Fitriani 5 4 4 7 7 77.14
14 Luthfiah Ilma 4 5 7 7 7 85.71
15 Melisa Puspitasari 6 7 7 7 4 88.57
16 Mia Satriana 3 1 5 6 7 62.86
17 Nurfitri Apriliandina 4 3 7 4 1 54.29
18 Nury Indriyani 7 2 7 4 5 71.43
19 Resti Fauziyah 5 5 5 5 3 65.71
20 Rika Umami 3 5 7 7 5 77.14
21 Rizka Yuliana 6 5 7 7 7 91.43
22 Septiyani 6 3 7 1 7 68.57
23 Shinta Ramadhani 7 7 7 7 7 100.00
24 Sri Damayanti 7 7 7 7 7 100.00
25 Sri Mistari 7 7 7 7 7 100.00
26 Sri Suyati 7 7 7 7 7 100.00
27 Susanti Oktaviani 4 6 6 6 5 77.14
Persentase 80.95 76.19 93.65 86.24 83.07 84.02
Diketehaui Oleh Jakarta 1 Oktober 2007
Kepala SMKN 3 Jakarta Peneliti


Drs. Dedi Dwitagama MM. Msi Drs. Bustamam Ismail

B. Rekapitulasi Siklus II
REKAPITULASI SHOLAT LIMA WAKTU SISWA
Diteliti dari tanggal 23 s/d tanggal 29 bulan Oktober 2007 Siklus II
No Nama Siswa Zhuhur Ashar Magrib Isya Shubuh Persentase
1 Andriyansyah 7 7 7 7 7 100.00
2 Ariyana 4 7 7 7 7 91.43
3 Dede Nursapni 5 5 7 6 5 80.00
4 Dita Suci Wulandari 3 5 6 7 6 77.14
5 Etik Handayani 7 7 7 7 7 100.00
6 Faazin H Af 7 7 7 7 7 100.00
7 Feni Hernita 6 6 5 4 2 65.71
8 Fenny Greace A 4 7 6 7 5 82.86
9 Iis Febriyani Utami 5 7 7 5 0 68.57
10 Insi Aulia Kh 7 7 7 7 7 100.00
11 Irma Nuarti 4 5 6 0 6 60.00
12 Kurnia Eka Abdillah 7 7 7 7 7 100.00
13 Lila Fitriani 6 7 7 7 5 91.43
14 Luthfiah Ilma 3 4 5 4 6 62.86
15 Melisa Puspitasari 4 7 7 7 6 88.57
16 Mia Satriana 7 7 7 7 7 100.00
17 Nurfitri Apriliandina 5 6 7 5 5 80.00
18 Nury Indriyani 4 2 7 3 5 60.00
19 Resti Fauziyah 7 7 7 7 7 100.00
20 Rika Umami 4 5 7 7 3 74.29
21 Rizka Yuliana 3 5 6 5 4 65.71
22 Septiyani 6 6 7 6 6 88.57
23 Shinta Ramadhani 7 7 7 7 7 100.00
24 Sri Damayanti 7 7 7 7 7 100.00
25 Sri Mistari 7 7 7 7 7 100.00
26 Sri Suyati 6 6 7 7 5 88.57
27 Susanti Oktaviani 5 7 7 7 6 91.43
Persentase 77.78 88.36 95.77 86.77 80.42 85.82
Diketehaui Oleh Jakarta 30 Oktober 2007
Kepala SMKN 3 Jakarta Peneliti


Drs. Dedi Dwitagama MM. Msi Drs. Bustamam Ismail

C. Rekapitulasi Siklus III
REKAPITULASI SHOLAT LIMA WAKTU SISWA
Diteliti dari tanggal 2 s/d tanggal 8 bulan November 2007 Siklus III
No Nama Siswa Zhuhur Ashar Magrib Isya Shubuh Persentase
1 Andriyansyah 7 7 7 7 7 100.00
2 Ariyana 5 3 7 5 5 71.43
3 Dede Nursapni 6 6 7 7 5 88.57
4 Dita ulandari 5 5 6 7 6 82.86
5 Etik Damayanti 7 7 7 7 7 100.00
6 Faazin H Af 7 7 7 7 7 100.00
7 Feni Hernita 4 7 4 0 4 54.29
8 Fenny Greace A 6 6 7 6 6 88.57
9 Iis Febriyani Utami 7 7 7 7 6 97.14
10 Insi Aulia Kh 6 6 7 7 5 88.57
11 Irma Nuarti 7 6 7 5 7 91.43
12 Kurnia Eka Abdillah 7 7 7 7 7 100.00
13 Lila Fitriani 6 6 7 7 7 94.29
14 Luthfiah Ilma 5 5 7 7 6 85.71
15 Melisa Puspitasari 7 7 7 7 7 100.00
16 Mia Satriana 4 4 4 4 4 57.14
17 Nurfitri Apriliandina 7 7 7 7 7 100.00
18 Nury Indriyani 6 0 7 1 7 60.00
19 Resti Fauziyah 6 7 7 7 6 94.29
20 Rika Umami 4 6 7 6 2 71.43
21 Rizka Yuliana 6 7 7 5 5 85.71
22 Septiyani 6 6 7 4 7 85.71
23 Shinta Ramadhani 7 7 7 7 7 100.00
24 Sri Damayanti 7 7 7 7 7 100.00
25 Sri Mistari 7 7 7 7 7 100.00
26 Sri Suyati 5 6 7 5 6 82.86
27 Susanti Oktaviani 5 6 7 6 6 85.71
Persentease 85.71 85.71 96.30 84.13 86.24 87.62
Diketehaui Oleh Jakarta 10 Nopember 2007
Kepala SMKN 3 Jakarta Peneliti


Drs. Dedi Dwitagama MM. Msi Drs. Bustamam Ismail


D. ANALISIS DATA YANG DIPEROLEH DARI TIGA SIKLUS.
Pada langkah pertama kami memberikan motivasi kepada siswa kelas II Ak 1 untuk mendalami arti sholat dan kandunganya, bagaiman manfaatnya bila kita merotinkan sholat, sekaligus merupakan tanda syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang berlimpah kepada kita. pemberian motivasi melalui memperdalam kajian sholat,. Dan diberikan pendataan yang diisi oleh siswa selama satu minggu sesuai dengan sholat yang mereka kerjakan ,
1. Siklus pertama.
Siklus pertama kami laksanakan dari tanggal 23 sampai 29 September 2007. Dari data itu diperoleh data sholat Zuhur yang dilaksanakan =80,95%, sholat ashar =76,19%, Sholat Magrib=93,65 , sholat Isya=86,24 , sholat shubuh=83,07 Kumulatif=84,02.
2. Siklus kedua.
Siklus kedua kami laksanakan berdasarkan hasil yang belum maksimal dari siklus I maka diadakan pendekatan bagi siswa yang masih jauh dari yang diharapkan tentang kebiasaan sholatnya. Kami dorongan siswa untuk lebih mengenal sholat, pemberian motivasi melalui kajian nikmat umumnya, melalui kajian diri pribadi siswa, mendorong yang masih sangat jarang sholat untuk lebih memahami dan manfaat syukur kepada Allah melalui sholat, Pelaksanakan tanggal 23 Oktober 2007 sampai 29 Oktober 2007, dengan membagikan formulir isian, saya memperoleh data sebagai berikut yang melaksanakan sholat zuhur=77,78 , sholat ashar=88,36 , sholat Magrib=95,77 , sholat Isya =86,77 , sholat shubuh =80,42 , kumulatif=85,42 .
3. Siklus ketiga.
Siklus ketiga kami laksanakan dari tanggal 2 sampai tanggal 8 Oktober 2007. Siklus ini berdasar data siklus kedua yang belum memuaskan, sehingga mengadakan pendekatan kepada siswa yang masih malas untuk sholat, supaya rajin sholat, dan memotivasi melalui video penciptaan Alam semesta.
Pada siklus ini siswa didorong untuk menggunakan semua potensi mereka yang diamanahkan Allah kepada mereka, kami memperoleh data sebagai berikut: Yang melaksanakan sholat Zuhur=85,71 , sholat ashar=85,71 , sholat Magrib=96,30, sholat Isya=84,13 , sholat shubuh=86,24 , kumulatif=87,62.
4. Analisa Kemajuan kemajuan pada siswa.
Dari Tabel I ,II dan III dapat kita baca pelaksanaan sholat Zuhur berbanding sebagai berikut Siklus I 80.95 %, siklus II turun 77.78 % dan siklus III meningkat menjadi 85.71%. cendrong naik.Pelaksanaan Sholat Ashar berbanding sebagai berikut Siklus 76.19%, Siklus II naik menjadi 88.36% dan siklus III turun sedikit menjadi 85.71%. cendrong naik.Pelaksanaan sholat Magrib berbanding sebagai berikut siklus I 93.65%, Siklus II naik menjadi 95.77% dan siklus III naik menjadi 96.3% cendrong naik.Pelaksanaan sholat isya berbanding sebagai berikut siklus I 86.24% , Siklus II naik menjadi 86.77 dan siklus III turun 84.13% cendrong turun.Pelaksanaan sholat Shubuh berbanding sebagai berikut siklus I 83.07%, Siklus II turun 80.42% dan siklus III naik menjadi 86.24% cendrong naik. Dari lima sholat hanya satu yang cendrong turun yaitu sholat Isya sedangkan empat sholat yang lain cendrong. Lebih lanjut dapat dilihat dari grafik dibawah ini.
5. Apabila dilihat presentase keseluruhan.
Secara keseluruhan dapat lihat dari tabel pada siklus pertama 84.02 %, pada siklus II naik menjadi 85.82 dan pada siklus III naik menjadi 87.82. dari data ini dapat lihat ada kecendrongan makin naik.
Lebih lanjut dapat dilihat dari grafik.

6. Bila dikelompokkan antara
A. antara 89.99%- 100%, A bobotnya 4
B. antara 69.99%-89.99%, B bobotnya 3
C. antara 50.00% – 69.99%, C bobotnya 2
D <.50.00% D bobotnya 1.
a. Pada siklus I A terdapat = 10 orang, B terdapat =12 orang , C terdapat = 5 orang,
b. Siklus II A terdapat 13 orang, B terdapat 8 orang , C terdapat 6 orang.
c. Siklus III A terdapat 13 orang, B terdapat 11 orang C terdapat 3 orang.
Sik I Sik II Sik III
A-4 10 40 13 52 13 52
B-3 12 36 8 24 11 33
C-2 5 10 6 12 3 6
KUM 86 88 91
Dari keadaan itu ada kecendrongan makin baik dan makin sempurna sholatnya. Lebih lanjut lihat grafik.
8. Secara keseluruhan dapat dilihat lebih kemajuannya


DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN –LAMPIRAN :

Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK)

Meningkatkan Motivasi Siswa Kelas IIa SMPN 2 Amuntai Utara Pada Pembelajaran Biologi Semester Genap Tahun 2005/2006 Melalui “Strategy Based Student’s Request”
Rita Murtafi’ah
(Guru Biologi SMPN 2 Amuntai Utara)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pembelajaran Biologi menurut Depdikbud (1993: 1), ialah agar siswa mampu melakukan pengamatan dan diskusi untuk memahami konsep, mampu melakukan percobaan sederhana untuk memahami konsep dan mengkomunikasikan hasil percobaan, mampu menginterpretasikan data yang dikumpulkan dan melaporkannya. Berdasarkan hal ini maka perlu digunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan mempelajari biologi tersebut.
Pencapaian tujuan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Keberhasilan proses belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran. Guru adalah subjek yang sangat berperan dalam membelajarkan dan mendidik siswa sedangkan siswa merupakan subjek yang menjadi sasaran pendidikan.
Masalah utama dalam pembelajaran biologi adalah bagaimana menghubungkan fakta yang pernah dilihat dan dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep biologi, sehingga menjadikan pengetahuan yang bermakna dalam benak siswa.
Selama ini pemahaman siswa hanya terpaku pada jabaran konsep biologi yang ada dalam buku, tanpa memahami apa dan bagaimana makna yang terkandung dalam konsep tersebut.
Di sisi lain lingkungan menyediakan fenomena alam yang menarik dan penuh misteri. Anak sebagai young scientist (peneliti muda) mempunyai rasa keingintahuan (curiousity) yang tinggi. Adalah keharusan di dalam pendekatan pembelajaran biologi untuk memelihara keingintahuan anak tersebut, memotivasinya sehingga mendorong siswa untuk mengetahui apa, mengapa, dan bagaimana terhadap objek dan peristiwa di alam (Puskur, 2002).
Kenyataan di lapangan masih banyak ditemukan keingintahuan anak yang tinggi itu tidak didukung oleh suatu kondisi yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat lebih berkembang. Masih banyak guru mengajar hanya menggunakan metode konvensional. Guru merupakan satu-satunya sumber utama pengetahuan. Pembelajaran cenderung text book oriented dan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa kesulitan untuk memahami konsep akademik yang telah diajarkan. Konsep-konsep tersebut diajarkan menggunakan cara-cara yang abstrak dan metode konvensional, padahal mereka sangat memerlukan pemahaman konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, motivasi belajar siswa sulit ditumbuhkan dan pola belajar mereka cenderung menghafal dan mekanistik.
Dari kenyataan tersebut, dapat dikatakan guru terlalu sering meminta anak untuk belajar, namun jarang sekali mengajari anak cara belajar, padahal menurut Nur pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri (Nur, 2002: 9). Melihat salah satu kelemahan yang dimiliki guru ini, peneliti mencoba menggunakan sebuah strategi pembelajaran, di mana anak diminta untuk menentukan sendiri keinginan mereka cara belajar yang menarik hati dan memotivasi mereka untuk belajar. Materi yang diajarkan adalah materi sistem syaraf dan sistem indra. Dalam materi ini banyak hal yang harus diinformasikan kepada anak, bersifat cukup abstrak, agak sulit dipahami, namun bisa disampaikan dengan strategi belajar yang bervariasi. Guru, dalam hal ini peneliti berusaha untuk mencover keinginan anak tersebut dengan menyerahkan kepada mereka cara belajar yang mereka inginkan, kemudian guru berusaha membawa dan membimbing mereka dalam kondisi yang diinginkan tadi, dengan harapan belajar sesuai dengan keinginan siswa akan mampu memotivasi dan mempercepat pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Ini akan diindikasikan dengan tingginya motivasi dan hasil prestasi belajar pada ulangan harian mereka pada materi sistem syaraf dan sistem indra.

B. Rumusan masalah
Bagaimana motivasi siswa dapat ditingkatkan melalui “Strategy based Student’s Request?”

C. Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan motivasi siswa yang tergambar dari aktivitas/ respon dan hasil belajar siswa dalam PBM melalui “Strategy based Student’s Request”.

D. Manfaat penelitian
Diharapkan melalui “Strategy based Student’s Request” membantu guru meningkatkan motivasi siswa dalam beraktivitas dan dalam nilai hasil belajar dalam PBM.


II. KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Motivasi
Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai suatu poses internal (dari dalam diri seseorang) yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam rentang waktu tertentu (Baron,1992; Schunk,1990 dalam Nur, 2001). Dalam bahasa sederhana,motivasi adalah apa yang membuat anda berbuat dan menentukan arah mana yang hendak anda perbuat.
Motivasi dapat berbeda dalam intensitas (kekuatan) dan arah. Gage dan Berliner (1984) dalam Nur, 2001, menganalogikan motivasi dengan sebuah mobil, dimana mesin analog dengan intensitas dan kemudi analog dengan arah.
Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik (Garner, Alexander, Gillingham, Kulikowich, & Brown,1991; Graham & Golan,1991 dalam Nur 2001).
Tugas penting bagi guru adalah merencanakan bagaimana guru akan mendukung motivasi siswa. Motivasi dapat timbul dari karakteristik–karakteristik intrinsik. Motivasi juga dapat timbul dari sumber–sumber motivasi di luar tugas.
Darliana (1999: 2) mengemukakan fungsi utama guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator dan pembimbing yang menyediakan hal-hal yang harus diamati, diperhatikan, dibaca, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.
Menurut Biddueph, Symington, dan Osborn, 1986 dalam Martin dkk. (1994 : 179), dikemukakakan bahwa, Metode pengajaran guru akan mempengaruhi cara berpikir siswa. Guru yang mengharapkan siswa untuk berpikir pada tingkat tertentu, menyusun dan memakai pertanyaan, dan menerima respon siswa sesuai dengan tingkat yang diharapkan guru. Guru dapat mengendalikan apa tingkatan berpikir siswa. Bertanya pada diri sendiri dan memperkirakan jawabannya menyebabkan berpikir kreatif, merupakan sarana untuk memecahkan masalah yang pelik dan dapat membantu seorang anak untuk belajar “ menemukan situasi yang menyenangkan, meskipun orang lain merasa jemu”.

B. Makna dan Pentingnya Strategi Belajar
Strategi belajar merujuk pada perilaku dan proses-proses berpikir yang digunakan oleh siswa yang mempengaruhi apa yang dipelajarinya, termasuk ingatan dan proses metakognitif (Nur, 2000: 7).
Tujuan utama dari strategi belajar adalah mengajar siswa untuk belajar mandiri. Bagaimanakah siswa yang dikatakan dapat mengatur dirinya sendiri? Menurut Nur (2000: 9), siswa mandiri mampu secara cermat mendiagnosis suatu situasi belajar tertentu, bisa memonitor keefektifan strategi tersebut, serta cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalah itu terselesaikan.
Menurut Weinstein dan Meyer (1986), dalam Nur (2000: 5) mengajar yang baik mencakup mengajari siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri sendiri. Banyak pendidik sepakat dengan Weinstein dan Meyer bahwa mengajar siswa cara belajar adalah tujuan pendidikan yang penting dan mungkin yang paling utama. Mereka menyadari bahwa pendidik belum berhasil mencapai tujuan ini. Menurut Norman (1980), dalam Nur (2000: 6), perlu waktu lebih banyak untuk mengajari siswa bagaimana belajar, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri sendiri.
“Merupakan hal yang aneh apabila kita mengharapkan siswa belajar, namun kita jarang mengajarkan mereka tentang belajar. Kita mengharapkan siswa memecahkan masalah namun jarang mengajarkan mereka tentang pemecahan masalah. Dan. Sama halnya, kita kadang-kadang meminta siswa mengingat sejumlah besar bahan ajar namun jarang mengajarkan mereka seni menghafal. Sekarang tibalah waktunya kita membenahi kelemahan kita tersebut, tiba waktunya kita mengembangkan ilmu terapan tentang belajar dan memecahkan masalah dan memori. Kita perlu mengembangkan prinsip-prinsip umum tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana memecahkan masalah, dan bagaimana mengemasnya dalam bentuk pelajaran yang siap diterapkan, dan kemudian memasukkan metode-metode ini dalam kurikulum”. Weinstein & Meyer dalam Nur (2000: 6)

Mengajarkan strategi belajar berpedoman pada premis bahwa keberhasilan siswa banyak bergantung pada kemahiran mereka untuk belajar sendiri dan untuk memonitor belajarnya sendiri. Hal ini menunjukan pentingnya strategi-strategi pembelajaran dan belajar diajarkan kepada siswa, dimulai dari kelas-kelas sekolah dasar dan berlanjut pada sekolah menengah dan perguruan tinggi. Siswa harus mempelajari strategi-strategi yang tersedia dan tahu kapan mengunakannya dengan benar.
Belakangan ini iklim pendidikan sudah membaik, peneliti dan guru telah mulai mengembangkan strategi belajar terinci mengunakannya bersama siswa. Strategi ini pada awalnya berfokus pada membaca tetapi selanjutnya telah berhasil diterapkan pada bidang sains dan menulis (Arends, 1997).

III. METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas IIA pada SMPN 2 Amuntai Utara.
B. Kondisi Objektif Penelitian
SMPN 2 Amuntai Utara adalah tempat peneliti bertugas mengajar pada mata pelajaran Biologi. Siswa kelas IIA terdiri dari 14 orang siswa, di mana sebagian besar dari mereka selama ini mengalami kesulitan belajar dengan metode konvensional yang sering dipakai guru dalam memberikan materi pelajaran. Ini terlihat dari hasil beberapa kali ulangan harian pada materi-materi biologi selama 3 bulan terakhir. Waktu penelitian pertengahan Maret sampai akhir April 2006.
C. Pelaksanaan Penelitian
Metode yang dipakai oleh peneliti untuk meningkatkan motivasi siswa kelas IIA SMPN 2 Amuntai Utara adalah sebuah strategi belajar dengan menggunakan “Strategy By Student Request”, dimana strategi ini merupakan sebuah inovasi dari guru untuk mencoba memotivasi anak dengan meminta mereka untuk menentukan sendiri cara yang mereka kehendaki dalam mempelajari sistem syaraf dan sistem indra. Indikasi yang menunjukkan bahwa siswa termotivasi untuk belajar adalah ditunjukkan oleh respon/aktivitas yang positif dan nilai yang baik setiap dilakukan tes harian.
Dari hasil “request” siswa, disaring beberapa strategi yang telah dipilih siswa, mampu dilaksanakan, mudah dan tidak mengurangi makna pembelajaran itu sendiri. Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 kali pertemuan (3 siklus) dengan setiap kali pertemuan selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran). Dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
1) Pada tahap persiapan, guru mengajak siswa memikirkan strategi belajar tentang sistem syaraf dan sistem indra yang akan dipelajari dengan memberikan sejumlah alternatif strategi belajar yang guru ketahui kepada siswa.
2) Meminta siswa menuliskan di atas kertas “request” mereka akan strategi yang mereka pilih kemudian menyaring beberapa “request” dan memilih 3 strategi yang terbanyak dipilih siswa.
3) Pada siklus I (pertemuan 1) guru memulai pelajaran dengan strategi yang tersaring terbanyak berdasarkan hasil pilihan siswa, kemudian melakukan observasi terhadap kegiatan siswa dan mengadakan tes untuk melihat hasil prestasi siswa pada saat mengikuti pembelajaran
4) Melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya dengan menggunakan strategi hasil pilihan siswa yang lebih sedikit (siklus II/ pertemuan 2), kemudian melakukan observasi terhadap kegiatan siswa dan mengadakan tes untuk melihat hasil prestasi siswa pada saat mengikuti pembelajaran
5) Pada siklus III (pertemuan 3 dan 4) dengan menggunakan strategi yang tersaring paling sedikit dipilih siswa, kemudian melakukan observasi terhadap kegiatan siswa dan mengadakan tes untuk melihat hasil prestasi siswa pada saat mengikuti pembelajaran
Rincian kegiatan tersebut dapat dilihat pada siklus berikut:

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh 6 strategi belajar yang diinginkan oleh siswa yaitu; dengan bermain, praktikum, diskusi, teka-teki silang, mengerjakan tugas, dan mencatat/meringkas. Dari hasil ”request” tersebut tersaring 3 strategi yang dipilih terbanyak, yaitu ; bermain (urutan 1 dipilih 10 siswa), praktikum (urutan 1 dipilih 2 siswa, dan urutan 2 dipilih 7 siswa) dan diskusi (urutan 2 dipilih 4 siswa dan urutan 3 dipilih 8 siswa), sedangkan strategi lainnya dipilih kurang dari angka-angka di atas. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas/respon siswa dan hasil nilai siswa pada ketiga siklus yang terdiri dari 3 strategi (4 pertemuan) terpilih diperoleh data nilai dan data respon siswa yang dapat dilihat pada gambar 4.1 dan tabel 4.1 pada lampiran yang dapat diuraikan dalam refleksi hasil penelitian sebagai berikut:
Refleksi pertemuan 1
Dengan setting belajar sambil bermain yang dipilih oleh siswa sebagai strategi belajar yang paling mereka senangi, guru dan siswa mencoba mengkondisikan materi pembelajaran Sistem Syaraf sedemikian rupa sehingga siswa yang tadinya tidak banyak beraktivitas/pasif mulai terlibat dalam permainan, setiap siswa diberi kesempatan untuk ikut bermain dan belajar dalam kelompoknya dan dalam kelas. Guru menggambarkan sel syaraf secara sederhana, kemudian siswa meletakkan kartu nama-nama bagian sel syaraf tersebut. Kemudian guru juga menyediakan kartu untuk menyebutkan bagian-bagian dari system syaraf, sehingga siswa berebut untuk menyusun kartu yang sesuai dengan jalur/aliran system syaraf sehingga terjadinya gerak.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran ini terlihat sangat jelas. Semua siswa antusias mengerjakan tugas dan tidak terlihat rasa enggan atau takut untuk mengerjakan dan maju ke papan tulis, berebut mencari kartu jawaban serta mengacungkan tangan untuk merespon salah atau benar rekannya mengerjakan tugas. Memang ada beberapa di antaranya yang belum pas jawaban tugas, namun mereka tidak malu, karena hal tersebut juga dilakukan berulang-ulang dan bergantian, akhirnya semua siswa dapat mereplay kembali ingatan mereka untuk memahami materi syaraf tersebut. Hal ini juga terlihat pada hasil tes tentang sitem syaraf pada akhir pelajaran. Sebanyak 5 orang siswa memperoleh nilai 10. Dari gambaran di atas, materi pelajaran syaraf ternyata dapat dilakukan sambil bermain, siswa gembira dan karena mereka melakukannya sendiri akhirnya mereka memperoleh nilai yang lumayan bagus.
Refleksi pertemuan II:
Strategi yang digunakan adalah praktikum. Materi yang diajarkan tentang sistem indra. Pada pertemuan kedua ini siswa diinformasikan bahwa penilaian yang dilakukan adalah penilaian kelompok. Jika kerjasama antar mereka dalam kelompok terjalin dengan baik, maka setiap siswa yang berada dalam kelompok akan memiliki nilai yang sama satu sama lain. Jika satu orang nilainya jelek, maka yang lain juga akan jelek. Begitu juga sebaliknya. Dari pengamatan guru yang mengobservasi siswa tercatat ada 2 orang siswa yang tidak terlibat secara penuh. satu orang lebih banyak diam sedangkan satunya lagi lebih banyak mengganggu rekannya yang lain. Ketidakterlibatan 2 orang siswa secara penuh ini dikarenakan guru lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk mengerjakan LKS yang disediakan secara mandiri. Guru hanya mengontrol sekali-sekali di samping guru juga sambil mengobservasi murid. Namun secara umum, siswa terlibat aktif dalam praktikum, baik dalam mengerjakan tugas seperti tertuang dalam LKS, bekerjasama dalam kelompok praktikum dan melakukan diskusi dalam kelompok mereka. Kegiatan PBM dengan strategi praktikum dapat berjalan dengan baik dan motivasi anak dapat dipelihara sampai akhir pelajaran.
Refleksi pertemuan 3 dan 4:
Strategi yang digunakan adalah diskusi. Materi yang diajarkan masih tentang sistem indra. Siswa yang tercatat tidak terlibat dalam diskusi kelas ada 5 orang. Ketidakterlibatan mereka terekam dalam lembar observer karena tidak ada memberikan pertanyaan, menjawab pertanyaan atau pun menanggapi diskusi. Ada kemungkinan suasana yang lebih serius dibandingkan dua strategi sebelumnya mempengaruhi keberanian siswa dalam beraktivitas. Ini terlihat dari respon siswa dalam 2 kali pertemuan diskusi ada saja siswa yang tidak terlibat aktif. Namun hal ini tidak mengurangi keterlibatan siswa yang lain dalam berdiskusi. Guru mencoba untuk memberikan motivasi/dorongan lebih agar anak yang belum terlibat dapat bergabung, namun dominasi di antara beberapa orang siswa yang terlihat cukup antusias dalam bertanya, mengeluarkan pendapat maupun menjawab pertanyaan dari rekan maupun guru menyebabkan siswa yang kurang partisipasi tadi tetap dalam kondisinya. Namun guru juga memaklumi keberanian siswa untuk berkomunikasi masih memerlukan waktu lebih lama dalam berlatih. Nilai yang diperoleh oleh siswa pada saat akhir pelajaran juga kurang maksimal, mungkin karena banyaknya hasil diskusi yang belum focus pada inti pembelajaran. Pada strategi ini siswa lebih banyak bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat pribadi, waktu yang diperlukan lebih lama, sementara pengarahan guru juga kurang focus. Tetapi nilai positif yang dapat diperoleh dengan strategi ini, anak yang berkemampuan lebih secara verbal dapat terayomi. Mereka akan merasa partisipasi mereka dalam aktif berdiskusi dapat tertampung.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Motivasi siswa dapat meningkat dalam setiap kali pertemuan dengan menggunakan strategi pembelajaran berdasarkan permintaan mereka (strategy based student’s request). Hal ini terlihat dari respon/aktivitas positif (+) yang dilakukan siswa dalam kegiatan PBM, di samping nilai siswa juga dapat lebih diperbaiki.
B. Saran
Memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam perencanaan pelajaran dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk ikut aktif dalam PBM dan dapat memotivasi siswa dalam memperoleh nilai yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Depdikbud.
Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. NewYork: The Mc Graw Hill Companies, Inc.
Darliana .
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Nur, M. 2001. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Buku ajar mahasiswa: Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Pusat Kurikulum. 2002. Kurikulum dan Hasil Belajar, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Biologi, SMP dan MTs. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Reed, J.S. Arthea & Bergemann E.V. 1994. A Guide To Observation, Participation, and Reflection in The Classroom, Ed-4. Toronto, University of North Carolina at Asheville.

Minggu, 31 Mei 2009

140 Model Pembelajaran Aktif

1. Bertukar Tempat

URAIAN SINGKAT
Strategi ini memungkinkan siswa untuk lebih mengenal. berbagi pendapat dan membahas gagasan, nilai-nilai atau pemecahan masalah baru. Ini merupakan cara yang luar biasa bagus untuk meningkatkan keterbukaan-diri atau bertukar pendapat secara aktif.

PROSEDUR
1. Berikan siswa satu buku catatan merek apa saja. [Putuskan apakah aktivitasnya akan berjalan lebih baik dengan membatasi siswa pada satu atau beberapa sumbang saran.]
2. Mintalah mereka untuk menulis pada buku catatan tersebut salah satu dari hal-hal berikut ini:
a. Nilai-nilai yang mereka anut
b. Pengalaman. yang mereka dapatkan belakangan ini.
c. Gagasan. atau solusi kreatif atas persoalan yang anda kernukakan
d. Pertanyaan yang mereka miliki tentang materi yang diajarkan di kelas
e. Pendapat mereka tentang topik yang anda pilih.
f. Fakta tentang mereka sendiri dan mata pelajaran di kelas.
3. Perintahkan siswa untuk melekatkan kertas catatan pada baju mereka dan berkeliling di sekitar ruang kelas untuk saling membaca catatan mereka.
4. Selanjutnya, perintahkan siswa untuk kembali ke kelompok masing-masing dan merundingkan pertukaran catatan satu sama lain. Pertukaran itu harus didasarkan pada keinginan untuk memiliki nilal, pengalaman. gagasan, pertanyaan, pendapat atau fakta tertentu dalam jangka pendek. Buatlah aturan bahwa semua pertukar¬an harus berlangsung timbal-balik. Perintahkan siswa, untuk melakukan pertukaran sesering mungkin.
5. Perintahkan siswa untuk kembali ke tempat masing-masing dan berbagi pengalaman tentang pertukaran apa yang telah dia lakukan dan apa sebabnya. (Misalnya, "Saya bertukar catatan dengan Sally, yang isinya menjelaskan bahwa dia pemah mengunjungi Eropa Timur. Saya sungguh ingin bepergian ke sana karena saya memiliki leluhur dari Hungaria dan Ukraina.")

VARIASI
1. Perintahkan siswa untuk membentuk sub kelompok, bukannya bertukar catatan, dan suruhlah siswa mendiskusikan isi catatan mereka.
2. Perintahkan siswa untuk menempelkan catatan mereka di tempat terbuka (misalnya papan tulis, whiteboard. dsb) dan diskusikan persamaan dan perbedaannya.

2. Siapa Saja yang Ada di Kelas?

URAIAN SINGKAT
Akivitas pembuka yang terkenal ini merupakan perburuan atau pencarian teman sekelas, bukannya pencarian benda. Perburuan ini bisa dirancang dalam sejumlah cara dan untuk ukuran kelas apapun. Cara ini membantu terbentuknya semangat tim dan memungkinkan adanya gerakan flslk semenjak awal pelajaran.

PROSEDUR
1. Susunlah 6 hingga 10 pernyataan deskriptif untuk melengkapi frase: Carilah seseorang yang .
Sertakan pernyataan yang mengidentifikasi informasi pribadi dan/atau isi kelas. Gunakan sebagian dari penggalan kalimat awal Ini:
Carilah seseorang yang....
menyukal _____
mengetahui apa itu _____
menganggap bahwa _____
mahir dalam hal telah_____
termotlvasi oleh _____
percaya bahwa _____
belakangan ini telah membaca buku tentang_____
berpengalaman dengan ______
tidak menyukai ______
telah mempelajari_____
memlliki usul yang balk untuk _____
memiliki sebuah ______
menginginkan atau tidak menginginkan_____
2. Bagikan pernyataan tertulis itu kepada siswa dan beri-kan perintah berikut ini:
Kegiatan ini tidak ubahnya perburuan binatang, namun yang kalian buru adalah orang, bukan binatang. Bila saya katakan "mulai," berkelilinglah ke seputar ruangan kelas untuk mencari siswa yang cocok dengan pernyataan-pernyataan tertulis yang kalian pegang. Kalian bisa menggunakan masing-masing teman untuk satu pernyataan yang cocok, sekalipun dia cocok dengan lebih dari satu pernyataan. Bila kalian sudah menemukan yang cocok, tulislah nama depan teman kalian itu.
3. Bila sebagian besar siswa sudah selesai, perintahkan untuk menghentikan perburuan dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
4. Anda mungkin perlu menawarkan hadiah penghargaan kepada .siswa yang selesai paling duluan. Dan yang lebih penting, surveilah masing-masing butir pernyataan semua siswa. Perintahkan siswa untuk melakukan diskusi singkat tentang beberapa butir yang mungkin dapat menstimulasi minat terhadap topik pelajaran.

VARIASI
1. Hindarilah persaingan dengan cara mengalokaslkan cukup waktu bagi semua siswa untuk menyelesalkan perburuan mereka.
2. Perintahkan siswa untuk menemui teman-temannya dan mencari tahu seberapa banyak kecocokan yang bisa didapatkan oleh tiap siswa.



3. Resume Kelompok

URAIAN SINGKAT
Resume biasanya menjelaskan hal-hal yang telah dicapai individu. Resume kelompok merupakan cara menarik untuk membantu siswa lebih mengenal satu sama lain atau melakukan semacam pembentukan tim yang anggotanya sudah saling mengenal. Aktivitas ini bisa sangat efektif jika resume itu sangat relevan dengan materi pelajaran yang anda ajarkan.

PROSEDUR
1. Bagilah kelas menjadi sejumlah kelompok beranggotakan 3 hingga 6 siswa.
2. Katakan kepada siswa bahwa aktivitas ini akan menggali bakat mereka dan merupakan pengalaman yang luar biasa.
3. Katakan bahwa satu cara untuk mengenali dan membanggakan sumber daya kelas adalah dengan membuat resume kelompok. (Anda mungkin perlu menunjukkan tugas atau kontrak imajiner yang akan ditawarkan kepada kelas.)
4. Berikan kertas koran dan spidol kepada kelompok untuk menunjukkan resume mereka. Resume ini harus mencantumkan informasi yang membanggakan kelompok secara keseluruhan, data-data berikut ini bisa disertakan di dalamnya:
Latar belakang pendidikan; sekolah yang sudah dimasuki
Pengetahuan tentang isi mata pelajaran
Pengalaman bekerja
Posisi yang diduduki
Ketrampilan
Hobi, bakat, perjalanan, keluarga
Prestasi
5. Perintahkan semua kelompok untuk rnenyajikan re¬sume dan memaparkan semua sumberdaya dalam keseluruhan kelompok. Berikut adalah resume yang bisa dibuat oleh kelompok dalam pelajaran tulis-menulis bisnis:















VARIASI
1. Untuk mempercepat kegiatari tersebut, berikan garis-garis besar resume yang telah dipersiapkan yang isinya menyebutkan informasi apa saja yang mesti dikumpulkan
2. Perintahkan siswa untuk saling mewawancarai tentang kategori yang anda sediakan, bukannya memlnta siswa menyusun resume sendiri.


4. Prediksi

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara menyenangkan guna membantu siswa lebih rnengenal satu sama lain. Kegiatan ini juga merupakan eksperimen berkesan menarik.

PROSEDUR
1. Bentuklah sub-sub kelompok beranggotakan 3 atau 4 siswa (yang relatif kurang akrab satu sama lain).
2. Katakan kepada siswa bahwa tugas mereka adalah memprediksi bagaimana masing-masing siswa di dalam kelompok mereka akan menjawab pertanyaan tertentu yang telah anda siapkan. Berikut ini adalah alternatif pertanyaannya:
1. Jenis musik apakah yang kamu sukai?
2. Apa keglatan favoritmu di kala senggang?
3. Berapa jamkah biasanya kamu tidur malam?
4. Berapa banyak saudara kandung kamu, dan kamu ini anak keberapa?
5. Di manakah kamu dibesarkan?
6. Seperti apakah kamu waktu kecil?
7. Orang tuamu punya sikap keras ataukah lembut sih?
8. Pekerjaan apa yang pemah kamu punyai?

Catatan: Pertanyaan lain bisa ditambahkan atau diku-rangi tergantung pada siswa di dalam kelas pelajaran anda.

3. Perintahkan sub-sub kelompok untuk memulai dengan menyeleksi satu orang sebagai "subyek" pertama. Desaklah anggota kelompok untuk sedetail mungkin dalam memprediksi subyek itu. Katakan pada mereka untuk tidak takut dalam melakukan prediksi secara blak-blakan! Ketika membuat dugaan, perintahkan "subyek" untuk tidak memberikan indikasi tentang ketepatan prediksi yang dilakukan terhadap dirinya. Ketika siswa yang lain sudah menyelesaikan prediksi mereka tentang si "subyek". si "subyek" kemudian harus mengemukakan jawaban atas pertanyaan tentang dirinya.
4. Perintahkan agar tiap anggota kelompok melakukan giliran menjadi sasaran prediksi.

VARIASI
1. Buatlah sejumlah pertanyaan yang mengharuskan siswa membuat prediksi tentang pendapat dan keyakinan (bukannya informasi faktual) masing-masing. Sebagai contoh, tanyakan: "Sifat apakah yang paling penting untuk dimliki oleh seorang teman?
2. Hilangkan prediksi. Sebagai gantinya, perintahkan siswa. satu demi satu. untuk menjawab pertanyaan itu segera. Kemudian, perintahkan tiap anggota sub kelompok untuk mengemukakan fakta-fakta apa saja—tentang sesama siswa—yang "mengejutkan" mereka (berdasarkan kesan pertama).


5. Iklan Televisi

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan kegiatan pembukan yang baik bagi siswa yang telah mengenal satu sama lain. Aktivitas ini dapat memunculkan semangat tim dengan cepat.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi sejumlah tim beranggotakan tidak lebih dart 6 orang.
2. Perintahkan tirn-tim tersebut untuk membuat Iklan tv tiga puluh detik yang menawarkan rnata pelajaran— menekankan. misalnya. nilai gunanya bagi mereka (atau bahkan bagi dunia!), tokoh-tokoh terkenal yang terkait dengan materi pelajaran ini, dan sebagainya.
3. Iklan tersebut harus berisi slogan (misalnya.. "Dengan Ilmu Kimia, Hidup Menjadi Lebih Baik") dan media vi¬sual (misalnya, produk kimia terkenal).
4. Jelaskan bahwa dengan membuat konsep umum dan garis-garis besar ikian saja sudah cukup. Namun jika sebuah tim ingin memperagakan ikiannya. itu boleh-boleh saja.
5. Sebelum masing-masing tim mulai merencanakan ikiannya, diskusikan karakteristik dari beberapa ikian yang belakangan sedang terkenal untuk menyemarakkan kegiatan (misalnya, gunakan karakter terkenal, humor, perbandingan hingga persaingan, daya tarik seksual).
6. Perintahkan tiap tim untuk menyajikan gagasannya pujilah kreativltas semua siswa.

VARIASI
1. Sebagai alternatif, perintahkan tiap tim untuk membuat ikian media cetak, bukannya ikian TV. Atau, jika mungkin, perintahkan mereka untuk benar-benar membuat iklan dengan menggunakan kamera video.
2. Perintahkan tim untuk mengiklankan kemampuan mereka atau sekolah mereka, bukannya mata pelajaran.


6. Teman yang Kita Miliki

URAIAN SENGKAT
Kegiatan ini memperkenalkan gerak fisik dari awal pelajaran dan membantu siswa lebih mengenal satu sama lain. Kegiatan ini berlangsungcepat dan sangat menyenangkan.

PROSEDUR
1. Buatlah daftar kategori yang menurut anda cocok dalam kegiatan pengenalan bag siswa yang anda ajar. Kategori umumnya meliputi:
• Bulan kelahiran
• Orang yang menyukai/tidak menyukai.....(kenali preferensi semisal, puisi, drama. ilmu pengetahuan, atau kornputer)
• Favorit (kenali segala benda atau barang, misalnya buku. lagu, atau restoran cepat saji).
• Tangan mana yang digunakan untuk menulis.
• Wama sepatu.
• Kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap pernyataan atau opini pada persoalan aktual (misalnya.. "Asuransi perawatan kesehatan harus bersifat menyeluruh.")
Kita juga dapat menggunakan kategori-kategori yang terkait langsung dengan mata pelajaran yang kita ajarkan, misalnya:
• Penulis favorit
• Orang yang setuju/tidak setuju.... (kenali sebuah persoalan yang terkait dengan topik pelajaran anda).
• Orang yang tahu/tidak tahu siapa atau apa (kenali orang atau konsep yang terkait dengan topik pelajaran anda)
2. Kosongkan sebagian ruang kelas agar siswa bisa bergerak lebihi bebas.
3. Sebutkan satu kategori. Arahkan siswa untuk menempatkan secepat mungkin orang-orang yang terkait dengan kategori yang diberikan. Sebagai contoh, siswa yang kidal dan yang tidak kidal akan dipisah menjadi dua kelompok, atau, mereka yang setuju dengan sebuah pernyataan akan dipisahkan dari mereka yang tidak setuju. Jika kategorinya berisi lebih dari dua pilihan (misalnya, bulan dari hari ulang tahun siswa), perintahkan siswa untuk berkumpul dengan mereka yang bulan kelahirannya sama, yang dengan demikian akan membentuk beberapa kelompok.
4. Ketika siswa telah membentuk regu yang pas, perintahkan mereka untuk berjabat tangan dengan "teman yang mereka memiki". Perintahkan semua untuk mengamati kira-kira berapa banyak orang dalam masing-masing kelompok.
5. Beranjaklah segera ke kategori berikutnya. Upayakan agar siswa terus bergerak dari satu kelompok ke kelom¬pok lain ketika anda mengumumkan kategori-kategori baru.
6. Perintahkan seluruh siswa untuk kembali ke tempat masing-masing. Diskusikan keragaman siswa yang terungkap dari aktivitas itu.

VARIASI
1. Perintahkan siswa untuk menempatkan seorang siswa yang berbeda dari mereka. jangan yang sama. Sebagai misal, anda dapat meminta siswa menemukan teman yang memiliki mata/kulit/rambut yang warnanya ber¬beda dengan mereka. (Bilamana terdapat jumlah yang tidak sama dalam kategori yang berbeda, ijinkan lebih dari satu orang dari satu kelompok untuk membentuk regu dengan seorang siswa dari kelompok lain.)
2. Perintahkan siswa untuk mengajukan kategorinya.


7. Benar-benar Kian Mengenal

URAIAN SINGKAT
Sebagian besar kegiatan perkenalan merupakan peluang emas untuk berjumpa dengan sesama siswa. Sebagai alternatifnya adalah menyusun sebuah kegiatan di mana pasangan siswa bisa benar-benar mengenal.

PROSEDUR
1. Pasangkan siswa dengan cara yang anda kehendaki. Kriteria untuk memasangkan siswa bisa mencakup:
• Dua siswa yang belum pernah bertemu sebelumnya
• Dua siswa yang tidak pemah bekerja bersama
• Dua siswa yang berasal dari jurusan atau latar belakang yang berbeda
• Dua siswa yang memiliki tingkat pengetahuan atau pengalaman yang berbeda.
2. Perintahkan pasangan-pasangan yang sudah terbentuk untuk saling berkenalan dan mengakrabkan diri selama 30 hingga 60 menit. Sarankan agar mereka berjalan-jalan bersama, minum kopi atau soda bersama, atau jika mungkin, untuk saling mengunjungi.
3. Berikan beberapa pertanyaan yang bisa digunakan oleh siswa untuk saling mewawancarai.
4. Bila seluruh siswa sudah kembali berkumpul, berikan pasangan-pasangan itu tugas untuk kerjakan bersama yang memungkinkan mereka untuk mulal mempelajari materi pelajaran. (Lihat "Sepuluh Tugas untuk memberikan Mitra Belajar" him 25).
5. Pertimbangkan kecocokan pasangan untuk kemudian dibentuk menjadi kemitraan belajar jangka-panjang.

VARIASI
1. Sebagai alternatif. bentuklah trio, atau kuartet, sebagai ganti pasangan.
2. Perintahkan siswa untuk memperkenalkan pasangan masing-masing kepada seluruh siswa di kelas.


8. “Benteng Pertahanan”

URAIAN SINGKAT
Seringkali, kegiatan belajar aktif akan menjadi lebih bergairah dengan menciptakan tim-tim belajar jangka panjang yang bisa belajar bersama, mengerjakan proyek, dan terlibat dalam kegiatan belajar bersama lainnya. Bila ini termasuk dalam rencana anda, ada baiknya melakukan semacam kegiatan pembentukan tim awal untuk memastikan awal yang baik. Memang banyak kegiatan pembentukan tim yang bisa menjadi bahan pertimbangan, namun yang berikut ini merupakan kegiatan favorit.

PROSEDUR
1. Sediakan setumpuk kartu indeks kepada tiap tim (akan lebih baik jika memiliki ukuran berbeda dalam masing-masing tumpukan).
2. Tantanglah masing-masing tim untuk menjadi kelompok yang seefektif mungkin dengan membentuk model tiga dimensi "Benteng Pertahanan" hanya dari kartu indeks. Melipat dan merobek kartu diperbolehkan, namun tidak boleh ada tambahan pasokan lain untuk melengkapi bangunan itu. Doronglah tim untuk merencanakan penarikan mundur mereka sebelum mulai rnembangunnya. Sediakan spidol agar tim bisa menggambari kartu dan menghiasi bentengnya bila mereka pandang cocok.
3. Berikan waktu minimal 15 menit untuk menyelesalkannya. Jangan mendesak atau membuat siswa terburu-buru. Penting bagi tim untuk merasakan pengalaman keberhasilan.
4. Bila bangunan itu sudah jadi. perintahkan siswa untuk melakukan tur penarikan mundur melalui benteng. Kunjungi tiap benteng dan perintahkan agar anggota tim menunjukkan karya mereka dan menjelaskan seluk-beluk bangunan yang mereka buat. Berikan tepuk tangan atas apa yang dicapal oleh tiap tim. Jangan membuat kondisi yang menyebabkan siswa saling Bersaing menbandingkan karya masing-masing.


VARIASI
1. Sebagai alternatif, perintahkan tim untuk membangun mouumen tim. Desaklah mereka untuk membuat monumen yang kokoh, tinggi. dan menyenangkan secara estetika.
2. Suruh tim untuk berkumpul kembali dan mintalah mereka untuk memikirkan kembali pengalaman tersebut dengan menjawab pertanyaan mi: Tindakan-tindakan apa sajakah yang agak membantu dan kurang membantn yang kita lakukan sebagai tim dan sebagai individu ketika bekerjasama?


9. Mengakrabkan Kembali

URAIAN SINGKAT
Pada mata pelajaran yang bekelanjutan ada baiknya meluangkan waktu untuk menghubungkan atau mengingatkan kembali siswa setelah lewat beberapa waktu dari pelajaran yang pernah diajarkan. Aktivitas ini mempertimbangkan sejumlah cara untuk melakukannya.

PROSEDUR
1. Sambut kembali kedatangan siswa ke dalam kelas. Jelaskan apa yang menurut anda berharga untuk meluangkan beberapa menit guna mengakrabkan kembali sebelum memulai pelajaran hari ini.
2. Ajukan satu atau beberapa pertanyaan berikut ini kepada siswa:
• Apa yang kalian ingat tentang pelajaran kita yang lalu? Apa yang menarik menurut kalian?
• Pernahkah kalian membaca/memikirkan/mengerjakan sesuatu yang distimulasi oleh pelajaran kita yang lalu?
• Pengalaman menarik apakah yang kalian dapatkan selama mengikuti mata pelajaran ini?
• Apa yang ada di pikiran kalian sekarang (misalnya, kecemasan) yang dapat mengganggu kemampuan kalian dalam memberikan perhatian penuh terhadap pelajaran hari ini?
• Bagaimana perasaan kalian harl in? (bisa juga disisipi canda semisal "Saya merasa seperti buah pisang yang kelewat matang.")
• (Buatlah pertanyaan anda sendlri.)
3. Mintakan jawabannya dengan menggunakan salah satu format, misalnya sub kelompok atau memanggil pembicara berikutnya. (Lihat "Sepuluh Metoda Untuk Mendapatkan Partisipasi Kapan Saja" pada halaman 22.)
4. Beralihlah ke topik pelajaran hari ini secara perlahan.

VARIASI
1. Lakukan wawancara tentang pelajaran yang laju.
2. Ajukan dua pertanyaan. konsep. atau beberapa informasi yang tercakup dalam pelajaran yang lalu. Perintahkan siswa untuk memilih mana yang paling mereka suka untuk ditinjau kembali dalam kelas.
10. Hembusan Angin Kencang

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan kegiatan pembuka yang cepat dan memberi siswa keleluasaan untuk bergerak dan tertawa. Kegiatan ini merupakan sarana pembentuk tim yang baik dan memungkinkan siswa untuk lebih mengenal satu sama lain.

PROSEDUR
1. Aturlah kursi secara melingkar. Perintahkan siswa untuk duduk pada salah satu kursi. Harus ada cukup kursi bagi semua siswa.
2. Katakan bahwa jika mereka setuju dengan pernyataan anda berikutnya. mereka harus berdiri dan berpindah ke kursi lain.
3. Berdirilah di tengah lingkaran dan katakan: "Nama saya adalah _____ dan ANGIN KENCANG BERHEMBUS bagi semua orang yang . . ." Pilihlah ending yang lebih pas untuk semua siswa dalam kelas, semisal "menyukai es krim coklat."
4. Sampai di sini, setiap siswa yang menyukai eskrim coklat berdiri dan berpindah ke kursi yang kosong. Ketika siswa berpindah, pastikan bahwa anda menempati salah satu kursi kosong. Jika sudah, selanjutnya satu orang siswa tidak akan mendapatkan kursi untuk duduk dan akan menggantikan anda sebagai orang yang berdiri di tengah-tengah.
5. Perintahkan agar siswa yang baru berdiri di tengah-tengah itu menyelesaikan kalimat tidak utuh yang sejenis. misalnya: "Nama saya adalah ____ dan ANGIN KENCANG BERHEMBUS untuk semua orang yang ..." dengan menambahkan ending yang baru. Ending ini bisa bernada canda (misalnya., "yang tidur dengan keremangan malam") atau serius (misalnya. "yang khawatir dengan deflsit anggaran pemerintah pusat"),
6. Mainkan permainan ini dengan mempertimbangkan kesesuaian situasi.

VARIASI
1. Sediakan daftar panjang ending yang bisa digunakan oleh siswa. Sertakan materi yang relevan dengan mata pelajaran (misalnya., "yang lebih menyukai Macintosh ketimbang IBM") atau ketimbang pengalaman kerja atau pengalaman hidup siswa ("yang merasa bahwa mengikuti ujian merupakan sesuatu yang membikin stres").
2. Perintahkan agar yang berada di tengah adalah pasangan siswa. bukannya satu orang siswa. Perintahkan mereka untuk secara bersama memilih ending yang tepat untuk kalimat yang dilontarkan.

11. Penyusun Aturan lasar Kelas

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan metoda jajak pendapat yang memungkinkan siswa untuk menetapkan aturan bagi perilaku mereka sendiri. Bila siswa merupakan bagian dari proses pernbentukan tim ini, mereka lebih cenderung mendukung norma atau aturan yang mereka tetapkan.

PROSEDUR
1. Tunjuk beberapa siswa untuk bertugas sebagai pewawancara (sesuai dengan jumlah siswa di kelas).
2. Dalam waktu 10 hingga 15 menit. perintahkan pewawancara itu untuk berkeliling dalam kelas, melakukan kontak dengan sebanyak mungkin sampel siswa dalam waktu yang tersedia. Perintahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan berikut ini kepada anggota kelas: "Perilaku apakah yang menurut kamu membantu atau tidak membantu yang kamu jumpai di kelas ini?" (Sediakan sejumlah contoh jawaban untuk mengarahkan jawaban yang dikehendaki.).
3. Pada akhir dari waktu yang disediakan, perintahkan pewawancara untuk melaporkan temuan mereka kembali kepada kelas. (Jika dikehendaki, cantumkan temuan-temuan itu pada papan tulis.)
4. Untuk mendapatkan gambaran tentang aturan dasar perilaku yang dikehendaki oleh kelompok, biasanya cukup dengan hanya mendengar ungkapan-ungkapan yang terkumpul dari siswa. Namun demikian, bukan tidak mungkin untuk menganalisa temuan-temuan itu, mencari tahu ada tidaknya ketumpang-tindihan dan kemudian menggabungkan daftar-daftar itu.

VARIASI
1. Sediakan daftar yang berisi beberapa kemungkinan aturan dasar. Perintahkan siswa untuk memilih tiga aturan yang ada dalam daftar. Butir-butir berikut ini boleh jadi cocok untuk daftar anda:
• Menghormati kerahasiaan
• Semua siswa berpartisipasi ketika bekerja dalam kelompok atau tim kecil.
• Mematuhi waktu dimulainya pelajaran.
• Memaharni perbedaan orang lain dari diri kita.
• Memberi kesempatan siswa lain menyelesaikan apa yang mereka bicarakan tanpa menginterupsinya.
• Tidak merendahkan atau mencemooh.
• Bicaralah untuk diri sendiri, bukannya mengung-kapkan pendapat orang lain.
• Berbicara singkat dan langsung ke pokok persoalan.
• Gunakan bahasa yang peka terhadap gender.
• Bersiap mengikuti pelajaran.
• Jangan duduk di kursi yang sama selama berlangsungnya pelajaran.
• Menghargai perbedaan pendapat.
• Memberi semua siswa kesempatan untuk bicara.
• Saling memahami pendapat sebelum melancarkan kritik.
2. Perintahkan kepada seluruh siswa untuk merumuskan aturan dasar partisipasi mereka. Kemudian gunakan prosedur yang disebut mutivoting untuk sampal pada daftar akhlr. Mulitvoting merupakan metoda untuk mengurangi daftar butir hingga setengahnya. Setiap siswa mengusulkan sebanyak mungkin butir sesuai yang ia inginkan; setengah dari butir-butir yang paling banyak dipilih akan tetap berada dalam daftar. (Prosedur ini bisa diulang sesering yang dikehendaki; setiap pilihan akan mengurangi daftar hingga setengahnya.).

Strategi Penilaian Sederhana
Strategi-strategi yang berikut ini dapat digunakan dalam kaitannya dengan upaya pembentukan tim. Semuanya dirancang untuk membantu mempeiajari kelas anda sembari melibatkan siswa semenjak awal. Beberapa di antara strategi itu memunginkan anda untuk menilai hal-hal tertentu tentang siswa, sedangkan sebagian lain cukup berguna untuk memberi anda gambaran umum. Strategi penilaian sederhana ini terutama berguna ketika anda tidak memliki kesempatan untuk mempelajari karakteristik siswa anda sebelum saat dimulainya pelajaran. Strategi-strategi itu juga bisa digunakan untuk memperkuat informasi yang anda kumpulkan sebelum dimulainya pemberian materi pelajaran.


12. Pertanyaan Penilaian

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara menarik untuk menilai kelas anda secara langsung dan pada saat bersamaan, melibatkan siswa dari awal untuk mengenal satu sama lain dan bekerjasama.

PROSEDUR
1. Susunlah tiga atau empat pertanyaan untuk mernpelajari seperti apa siswa anda. Anda dapat menyertakan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal berikut ini:
• Pengetahuan mereka tentang materi pelajaran
• Sikap mereka terhadap materi pelajaran
• Pengalaman-pengalaman siswa yang relevan dengan materi pelajaran".
• Keterampilan yang telah mereka dapatkan.
• Latarbelakang mereka
• Apa yang mereka butuhkan atau harapkan dari mata pelajaran ini.
Tulislah pertanyaan-pertanyaannya agar bisa didapatkan jawaban yang konkret. Hindari pertanyaan yang terbuka. Misalnya. tanyakan: "Berapakah dari____ yang berikut ini yang kalian ketahui?" Bukannya pertanyaan "Apa yang kalian ketahui tentang___?"
2. Bagilah siswa menjadi kelompok tiga orang (trio) atau empat orang (kuartet) (tergantung Jumlah pertanyaan yang telah anda buat, Beri setiap siswa satu dari masing-masing pertanyaan penilaian. Mintalah dia untuk mewawancarai siswa lain dalani kelompok dan dapatkan (serta catat) jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepadanya.
3. Kumpulkan kembali siswa dalam sub-sub kelompok yang telah diberi pertanyaan yang sama. Sebagai contoh. Jika terdapat 18 siswa, buatlah menjadi kelompok-kelompok tiga orang. 6 dari mereka akan mendapatkan pertanya¬an yang sama.
4. Perintahkan tiap sub kelompok untuk menyatukan data mereka dan mengikhtisarkannya. Kemudian perintahkan tiap sub kelompok untuk melaporkan kepada seluruh siswa apa yang telah mereka pelajari satu sama lain.

VARIASI
1. Perintahkan siswa untuk menyusun pertanyaan mereka sendiri.
2. Dengan mengguhakan pertanyaan yang sama. pasangkan siswa dan perintahkan mereka untuk mewawan¬carai satu sama lain. (Variasi ini cocok bila anda menangani kelas dengan jumlah siswa yang besar.)


13. Pertanyaan yang Dimiliki Siswa

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara yang tidak membuat siswa takut untuk mempelajari apa yang mereka dibutuhkan dan diharapkan. Cara ini memanfaatkan tehnik yang mengundang partisipasi melalui penulisan, bukannya pembicaraan.

PROSEDUR
1. Berikan kartu indeks kosong kepada tiap siswa.
2. Perintahkan tiap siswa untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran atau sifat dari pelajaran yang mereka ikuti (nama tidak. perlu dicantumkan). Sebagai contoh, seorang siswa dapat bertanya: "Bagaimana perbedaan Aljabar II dengan Aljabar I? Atau "Apakah pada akhir dari pelajaran ini siswa diwajibkan membuat karya tulis?"
3. Bagikan kartu tersebut ke seluruh kelompok searah jarum jam. Ketika masing-masing kartu dibagikan kepada siswa berikutnya. dia harus membacanya dan memberi tanda centang pada kartu itu jika berisi per¬tanyaan yang merupakan persoalan yang dihadapi siswa yang membacanya
4. Ketika semua kartu siswa kembali kepada pemiliknya, tiap siswa harus meninjau semua "pertanyaan" kelompok. Sampai di sini, kenali pertanyaan yang menerima banyak suara (tanda centang). Berikan jawaban kepada masing-masing pertanyaan ini dengan (a) memberlkan jawaban yang langsung dan singkat; (b) menunda pertanyaan hingga waktu yang lebih tepat; atau (c) mengemukakan bahwa untuk saat ini anda belum mampu menjawab pertanyaan atau persoalan ini (janjikan jawaban secara pribadi, jika memungkinkan).
5. Perintahkan siswa untuk berbagi pertanyaan mereka secara sukarela. sekalipun pertanyaan mereka itu tidak mendapatkan suara (tanda centang) paling banyak.
6. Kumpulkan semua kartu. Kartu-kartu itu mungkin berisi pertanyaan yang dapat anda jawab pada pelajaran atau pertemuan mendatang.


VARIASI
1. Jika kelas terlalu besar hingga waktunya tidak cukup untuk membagikan kartu ke seluruh kelompok. bagilah kelas menjadi sub-sub kelompok dan ikuti instruksi yang sama. Atau. kumpulkan saja kartu-kartu tersebut tanpa mengharuskan mereka mengedarkannya ke seluruh kelas dan merespon pada satu sampel pertanyaan.
2. Sebagai alternatif dari pengajuan pertanyaan pada kartu indeks, perintahkan siswa untuk menuliskan harapan dan/atau keprihatinan mereka tentang mata pelajaran ini, topik yang mereka harapkan akan dibahas oleh anda. atau aturan dasar untuk pertisipasi kelas yang mesti mereka dipatuhi.


14. Penilaian Instan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi yang menyenangkan dan tidak mengancam untuk mengetahui siswa anda. Anda bisa menggunakannya untuk menilai "secara instan" latar-belakang. pengalaman, sikap, harapan dan kepedulian siswa.

PROSEDUR
1. Buatlah sekumpulan kartu "responder" untuk tiap siswa. Kartu-kartu ini bisa berisi huruf A, B, atau C untuk per¬tanyaan pilihan ganda, B atau S untuk pertanyaan benar-salah, atau penilaian angka semisal 1 sampal 5. (Jika pembuatan kartu dirasa terlalu menyita waktu, perintahkan siswa untuk membuat kartu sendiri di tempat masing-masing).
2. Susunlah sekumpulan peryataan yang kira-kira bisa dijawab oleh siswa dengan salah satu kartu mereka. Berikut adalah contoh untuk tiap tipe kartu responder yang dijelaskan tadi
• Saya mengambil pelajaran ini karena
a. Diharuskan.
b. Sangat tertarik dengan pelajaran ini
c. Sepertinya mudah.
• Saya khawatir kalau-kalau akan kesulitan mengikuti pelajaran ini. Benar atau salah?
• Saya yakin bahwa pelajaran ini akan bermanfat bagi saya di masa depan.
1________2________3________4________5
Sangat tidak Sangat
Setuju Setuju
Anda dapat membuat pernyataan-pernyataan serupa tentang pengetahuan, sikap, dan pengalaman siswa.
3. Bacalah peryataan pertama dan perintahkan siswa untuk menjawab dengan memegang kartu pilihan mereka.
4. Nilailah dengan cepat tanggapan siswa. Perintahkan sejumlah siswa untuk mendiskusikan alasan pilihan mereka.
5. Lanjutkan dengan pernyataan-pernyataan yang tersisa.
VARIASI
1. Sebagai ganti penggunaan kartu. perintahkan siswa untuk berdiri ketika pilihan mereka diumumkan.
2. Gunakan sistem tunjuk jari, namun tambahkan unsur yang menarik dengan meminta siswa untuk mengangkat kedua tangan bila mereka sangat setuju dengan sebuah jawaban.


15. Sampel Perwakilan

URAIAN SINGKAT
Adakalanya jumlah siswa dalam kelas sedemikian banyaknya dan mustahil untuk segera memahami siapa saja mereka ini. Prosedur ini memungkinkan anda untuk menarik sampel perwakilan siswa dari seluruh kelas dan mengetahuinya dengan mewawancarai mereka di depan kelas

PROSEDUR
1. Jelaskan bahwa anda ingin mengenal semua siswa di kelas, namun tugas ini akan memakan banyak waktu.
2. Ingat bahwa cara yang lebih cepat untuk melakukannya adalah dengan membentuk sampel kecil siswa yang mewakili sejumlah keragaman di kelas.
3. Jelaskan beberapa hal yang membedakan siswa. Perin¬tahkan agar anggota pertama dari "sampel perwakilan kelas" untuk menjadi relawan siswa (siswa yang ditunjuk untuk diberi tugas). Bila siswa itu mengangkat tangan, ajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui siswa Itu dan memahami harapan, ketrampllan, peng¬alaman, latarbelakang, pendapatnya.
4. Setelah mendengar jawaban dari relawan pertama, perintahkan relawan kedua yang berbeda dalam beberapa hal dari relawan pertama.
5. Teruskan meminta beberapa siswa untuk menjadi relawan (anda yang memutuskan jumlahnya) yang berbeda dari mereka yang telah diwawancarai sebelumnya.

VARIASI
1. Tatalah meja dan kursi agar cocok untuk diskusi panel. Perintahkan tiap anggota sampel perwakilan untuk bergabung dalam panel setelah dia diwawancarai. Bila panel telah lengkap, ajukan pertanyaan panel secara keseluruhan tentang harapan, ketrampilan, pengalaman kerja. latarbelakang. pendapat mereka dan/atau perintahkan siswa yang lain untuk juga mengajukan per¬tanyaan.
2. Perintahkan siswa lain untuk menemui anda di luar kelas dan di pertemuan berikutnya agar anda bisa lebih mengenalnya. Jika memungkinkan, lakukan penggiliran pertemuan agar anda bisa bertemu dengan semua siswa.


16. Persoalan Pelajaran

URAIAN SINGKAT
Siswa biasanya memiliki persoalan terhadap pelajaran yang mereka ikuti untuk pertamakalinya, khususnya jika pelajaran ini menggunakan cara belajar aktif. Aktivitas ini memungkinkan diungkapkan dan didiskusikannya persoalan-persoalan tersebut secara bebas tapi sopan.

PROSEDUR
1. Jelaskan kepada siswa bahwa mereka mungkin memiliki persoalan dengan materi pelajaran. Persoalan itu boleh jadi mencakup hal-hal berikut ini:
• Seberapa sulit atau seberapa lamakah tugas-tugasnya nanti
• Bagaimana cara berpartisipasi secara bebas dan nyaman
• Bagaimana siswa akan berperan dalam kelompok kecil.
• Seberapa siapkah gurunya.
• Akses terhadap materi bacaan.
• Jadwal mata pelajaran.
2. Buatlah daftar wilayah persoalan ini di papan tulis. Dapatkan persoalan lain dari siswa.
3. Susunlah prosedur pemungutan suara yang memungkinkan siswa untuk memilih tiga atau empat persoalan umum yan palig umum dihadapi
4. Bentuklah kelas menjadi tiga atau empat sub kelompok. Perintahkan tiap kelompok untuk menjabarkan salah satu persoalan yang dihadapi. Perintahkan mereka untuk sejelas mungkin dalam memaparkannya.
5. Perintahkan sengap kelompok untuk mengikhtisarkan diskusinya untuk seluruh kelas. Mintalah reaksi atau tanggapan mereka.

VARIASI
1. Perintahkan kelompok untuk memikirkan beberapa solusi yang menurut mereka bisa dilakukan oleh siswa ataupun guru untuk mengatasi persoalan mereka.
2. Sebagai alternatif dari diakhrinya kegiatan dengan laporan kelompok, buatlah diskus panel atau terbuka (baca "Sepuluh Metoda untuk Mendapatkan Partislpasi Kapanpun," pada halaman 22.)

Strategi Pelibatan Belajar Langsung
Cara lain untuk menjadikan siswa aktif dari awal adalah dengan menggunakan strategi-strategi berikut. Strategi itu dirancang untuk mengenalkan siswa terhadap mata pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang mereka untuk berfikir. Siswa tidak bisa berbuat apa-apa jika pikiran mereka - atau jika "komputer" mereka - tidak di"on"kan! Banyak guru yang membuat kesalahan dengan mengajar terlalu awal - yakni sebelum siswa merasa terlibat dan siap secara mental. Penggunaan beberapa Strategi berikut ini akan mengoreksi kecenderungan ini.

17. Berbagi Pengetahuan Secara Aktif

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara bagus untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang anda ajarkan. Anda juga dapat menggunakannya untuk menilaiungkat pengetahuan siswa sembari melakukan kegiatan pembentukan tim. Cara ini cocok pada segala ukuran kelas dan dengan niateri pelajaran apapun.

PROSEDUR
1. Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran yang akan anda ajarkan. Anda dapat menyertakan beberapa atau semua dari kategori-kategori berikut ini:
• Kata-kata untuk didefinisikan (misalnya. "Apa arti arnblvalen”?)
• Pertanyaan pilihan ganda mengenal fakta atau konsep (misalnya. “Tes psikologi baru absah jlka ia (a) secara konsisten mengukur atribut dan (b) mengukur apa yang memang hendak ia ukur.")
• Orang yang hendak diidentifikasi (misalnya, "Siapakah George Washington Carver?")
• Pertanyaan-pertanyaan tentang tindakan yang bisa • diambil oleh seseorang dalam situasi tertentu (misalnya, "Bagaimana anda mendaftarkan diri untuk mendapatkan hak pilih?").
• Kailmat tidak lengkap (misalnya, "_____ mengidentifikasi kategori dasar dari tugas yang dapat kailan kerjakan menggunakan:program computer”
Sebagai contoh, seorang guru sejarah dapat mernulai pengajarannya tentang abad ke-20 dengari membagikan kuis berikut ini:
a. Apa yang terjadi dalam tahun-tahun berikut ini: 1928, 1945, 1965, 1998.?
b. Kenali nama-nama berikut ini:
Mussolini
Chamberlain
Trotsky
Mao
McCarthy (Joseph dan Eugene)
c. Menurut pendapat kalian, peristiwa terpenting apakah yang terjadi dalam abad ke-20?
2. Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa.
3. Kemudian perintahkan mereka untuk menyebar di dalam ruangan, mencari siswa yang dapat menjawab pertanyaan yang mereka sendiri tidak tahu cara menjawabnya. Doronglah siswa untuk saling membantu.
4. Perintahkan mereka untuk kembali ke tempat semula dan bahaslah jawaban yang mereka dapatkan. Isilah jawaban yang tak satupun siswa bisa menjawabnya. Gunakan informasi ini sebagai cara untuk memperkenalkan topik-topik penting dalam mata pelajaran anda.

VARlASI
1. Berikan satu lembar kartu indeks kepada tiap siswa. Perintahkan mereka untuk menuliskan satu informasi yang menurut mereka akurat tentang materi yang diajarkan. Suruhlah mereka untuk berpencar di dalam kelas, berbagi pendapat tentang apa yang mereka tuliskan pada kartu tersebut. Doronglah mereka untuk menuilskan informasi baru yang dikumpulkan oleh siswa lain. Bila mereka, sudah kembali ke kelompok masing-masing, bahaslah informasi yang berhasil dikumpulkan.
2. Gunakan pertanyaan opini, bukannya pertanyaan faktual. atau gabungkan pertanyaan faktual dengan pertanyaan opini.

18. Merotasi Pertukaran Pendapat Kelompok Tiga Orang

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara terperinci bagi siswa untuk mendiskusikan permasalahan dengan sebagian (dan biasanya memang tidak semua) teman sekelas mereka. Pertukar¬an pendapat ini bisa dengan mudah diarahkan kepada materi yang akan diajarkan di kelas.

PROSEDUR
1. Susunlah beragam pertanyaan yang dapat membantu siswa memulai diskusi tentang isi materi pelajaran. Gunakan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban benar-salah.
Sebagai contoh, seorang guru Bahasa Inggris boleh jadi akan bertanya:
• Apa. yang kalan sukai tentang drama Shakespeare? Kalau, kalian tidak menyukainya, kenapa?
• Mengapa. Shakespeare dianggap sebagai salah. satu. dramawan terbesar sepanjang waktu?
• Pilih salah satu dan drarnawan atau sineas abad ke-19 atau ke-20. Bagaimana kalian membandingkannya dengan Shakespeare?
2. Bagilah siswa menjadi kelompok tiga orang (trio). Aturlah kelompok trio tersebut di dalam ruang kelas agar masing-masing bisa melihat dengan jelas trio yang di sisi kanan dan di sisi kirinya, Formasi kelompok-kelompok trio itu secara keseluruhan bisa berbentuk bundar atau persegi.
3. Berikan tiap trio sebuah pertanyaan pembuka (pertanyaan yang sama untuk masing-masing trio) untuk dibahas. Pilihlah pertanyaan yang paling ringan yang telah anda susun untuk memulai pertukaran pendapat kelornpok-kelompok trio itu, Anjurkan agar tiap siswa di dalam kelompok mendapat giliran menjawab pertanyaan.
4. Setelah diskusi berjalan dalam waktu yang cukup, perintahkan masing masing kelompok untuk memberikan angka 0,1. atau 2 kepada tiap-tiap anggotanya. Arahkan siswa yang benomor 1 untuk berpindah ke kelompok trio satu searah jarum jam. Perintahkan siswa yang bernomor 2 untuk berpindah ke kelompok trio dua searah jarum jam. Perintahkan siswa yang bemomor 0 (nol) untuk tetap di ternpat duduknya karena ia adalah anggota tetap dan kelompok trio mereka. Suruh mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi sehingga siswa yang telah berpindah bisa menemukan mereka. Hasilnya adalah komposisi kelompok trio yang sepenuhnya baru.
5. Mulailah pertukaran pendapat baru dengan pertanyaan baru. Naikkan tingkat kesulitan atau "tingkat ancaman" dari pertanyaan manakala anda memulai babak baru.
6. Anda bisa merotasi trio-trio itu sebanyak pertanyaan yang anda miliki dan waktu diskusi yang tersedia. Gunakan selalu prosedur rotasi yang sama. Sebagai contoh, pada pertukaran trio sebanyak tiga rotasi, tiap siswa akan bertemu dengan enam siswa yang lain.

VARIASI
1. Setelah masing-masing babak pertanyaan. Segeralah meminta jawaban dari seluruh kelompok sebelum merotasi siswa ke kelompok trio baru.
2. Gunakan pasangan atau kuartet sebagai alternatif dari trio.


19. Kembali ke Tempat Semula

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara yang cukup dikenal untuk menyertakan gerakan fisik pada awal pelajaran. Strategi ini cukup fleksibel untuk digunakan pada beragam akuvitas yang dirancang untuk menstimulir minat awal terhadap mata pelajaran anda.

PROSEDUR
1. Tempelkan sejumlah tanda di seluruh dinding kelas. Anda dapat menggunakan dua tanda untuk menciptakan pilihan dikotomis atau beberapa tanda untuk menyediakan lebih banyak pilihan.
2. Tanda-tanda ini bisa menunjukkan beragam preferensi:
• Topik atau keterampilan yang menarik bagi siswa (misalnya, pengolahan kata, penyimpanan data).
• Pertanyaan tentang materi pelajaran (misalnya, "Bagaimana cara kerja mesin turbo?")
• Beberapa solusi yang berbeda terhadap persoalan yang sama (misalnya, hukuman mati versus hukuman seumur hidup)
• Nilal-nilai yang berbeda (misalnya, uang, ketenaran, keluarga)
• Karakteristik atau gaya kepribadian yang berbeda (misalnya, auditori, visual, kinestetik)
• Berbagai penulis atau orang-orang terkenal di bidangnya (misalnya, Thomas Jefferson, Franklin Delano Roosevelt, John F. Kennedy)
• Kutipan peribahasa, atau pasal di dalam naskah yang berbeda (misalnya. "Hormatilah Ibu dan Ayahmu" ver¬sus "Hak Bertanya")
3. Perintahkan siswa untuk melihat tanda-tanda tersebut dan memilih salah satunya. Sebagai contoh, beberapa siswa mungkin lebih tertarik pada pengolahan kata ketimbang penataan data Suruh mereka menunjukkan preferensi (kelebihsukaan) dengan beranjak menuju tempat di ruang kelas di mana tanda pilihan mereka ditempelkan.
4. Perintahkan sub-sub kelompok yang telah terbentuk untuk mendiskusikan alasan mereka menempatkan diri pada tanda yang mereka pilih. Mintalah perwakilan dari tiap kelompok untuk mengikhtisarkan alasan mereka.

VARIASI
1. Pasangkan siswa yang preferensinya berbeda dan perintahkan mereka untuk memperbandingkan pandangan mereka. Atau buatlah panel diskusi dengan perwakilan dari tiap kelompok preferensi.
2. Perintahkan tiap kelompok preferensi untuk membuat presentasi, membuat ikian atau menyiapkan sebuah lakon atau drama singkat yang memperagakan preferen¬si mereka.


20. Menyemarakkan Suasana Belajar

URAIAN SINGKAT
Sebuah kelas bisa dengan cepat mewujudkan iklirn belajar informal yang santai dengan meminta siswa menggunakan humor kreatif tentang materi pelajaran yang tengah diajarkan. Strategi ini tidak hanya akan membuat siswa berhumor ria, namunjuga berfilkir.

PROSEDUR
1. Jelaskan kepada siswa bahwa anda ingin melakukan latihan pembuka yang menyenangkan dengan mereka sebelum beranjak ke hal-hal serius dalam materi yang diajarkan.
2. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok. Beri mereka tugas yang secara gamblang meminta mereka membuat sesuatu yang lucu pada topik, konsep atau persoalan penting dalam materi yang anda ajarkan.
3. Contohnya antara lain:
• Pemerintah: Buatlah uraiah tentang pemerintahan yang paling kejam sekaligus paling bobrok yang bisa kita bayangkan.
• Matematika: Susunlah sebuah daftar berisi cara-cara penghitungan matematis yang paling tidak efisien
• Kesehatan: Buatlah menu makanan yang sama sekali tidak bergizi.
• Tehnik: Buatlah disain jembatan yang gampang ambruk.
4. Perintahkan sub-sub, kelompok untuk menyajikan "kreasi" mereka. Beri tepuk tangan.
5. Tanyakan: "Apa yang kalian pelajari tentang materi pelajaran kita dari latihan ini?"

VARIASI
1. Pengajar dapat membuat lelucon tentang materi pela¬jaran dengan kreasinya sendiri.
2. Buatlah pretest pilihan ganda tentang materi yang akan anda ajarkan. Tambahkan humor pada butir pilihan gandanya. Untuk tiap pertanyaan, perintahkan siswa untuk memilih jawaban yang menurut mereka merupakan jawaban yang tidak mungkin benar.


21. Bertukar Pendapat

URAIAN SINGKAT
Kegiatan ini bisa digunakan untuk menstimulasi keterlibatan siswa dalam pelajaran yang akan anda sampaikan. Kegiatan ini juga mengingatkan siswa untuk mendengarkan secara cermat dan membuka diri terhadap bermacam pendapat.

PROSEDUR
1. Berikan label nama kepada tiap siswa. Perintahkan siswa untuk menuliskan nama mereka pada label dan mengenakannya.
2. Perintahkan siswa untuk berpasangan dan memperkenalkan diri kepada siswa lain. Kemudian perintahkan pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi pendapat tentang jawaban atas pertanyaan atau pernyataan provokatif yang memancing opini mereka tentang persoalan seputar materi yang anda ajarkan.
• Contoh pertanyaannya adalah: "Apa batasan bagi imigrasi asing?"
• Contoh pernyataannya adalah: "Injil merupakan kitab suci."
3. Ucapkan, "kerjakan sekarang", dan arahkan siswa untuk bertukar label nama atau tanda pengenal mereka dengan pasangannya dan kemudian menemui siswa lain. Perintahkan siswa, bukannya untuk memperkenalkan diri. melainkan berbagi pendapat dari siswa yang merupakan pasangan sebelumnya (yakni siswa yang label/tanda pengenalnya ia kenakan sekarang.)
4. Selanjutnya, perintahkan siswa untuk berganti label nama lagi dan mencari siswa lain untuk diajak bicara," dan berbagi pendapat dari siswa yang tanda penge¬nalnya la kenakan sekarang.
5. Lanjutkan proses itu hingga sebagian besar siswa telah saling bertemu. Kemudian katakan kepada tiap siswa untuk mendapatkan kembali label namanya sendiri.

VARIASI
1. Gunakan proses pertukaran label nama ini sebagai pengantar pergaulan dengan menginstruksikan siswa untuk bertukar informasi latarbelakang mereka sendiri, sebagai ganti pertukaran pendapat tentang pertanyaan atau pernyataan provokatif.
2. Hilangkan pertukaran label nama. Sebagai gantinya, perintahkan siswa untuk terus menemukan siswa lain, dan mendengarkan selalu pertanyaan atau pernyataan yang anda berikan.


22. Benar atau Salah?

URAIAN SINGKAT
Aktivitas kerjasama ini juga segera menstlrnulasi keterlibatan tcrhadap pengajaran yang anda lakukan. Kegiatan ini meningkatkan pembentukan tim. pertukaran pendapat, dan pembelajaran langsung.

PROSEDUR
1. Susunlah sebuah daftar pernyataan yang terkait dengan materi pelajaran anda, yang setengahnya benar dan setengahnya salah. Sebagai contoh, pernyataan "Mariyuana bisa menimbulkan kecanduan" adalah benar. dan pernyataan, "Alkohol merupakan obat perangsang" adalah salah; Tuils tiap pernyataan pada kartu indeks yang terpisah. Pastikan jumlah kartunya sesuai dengan jumlah siswa yang hadir. (Jika siswa yang hadir jumlahnya ganjil, pilihliah satu kartu untuk anda sendiri.)
2. Bagikan satu kartu untuk satu siswa. Katakan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan benar) dan mana yang salah. Jelaskan bahwa mereka bebas memilih cara apapun yang mereka inginkan dalam menyelesaikan tugas ini.
3. Bila para siswa sudah selesai, perintahkan agar setiap kartu dibaca dan mintakan pendapat siswa tentang benar atau salahkah pernyataan tersebut. Beri kesempatan munculnya pendapat minoritas.
4. Berikan umpan balik tentang masing-masing kartu, dan catat cara-cara siswa dalam bekerjasama menyelesaikan tugas ini.
5. Tunjukkan bahwa dalam pelajaran ini diperlukan keterampilan tim yang positif karena hal ini menunjukkan kegiatan belajar yang sifatnya aktif.

VARIASI
1. Sebelum dimulainya kegiatan, rekrutlah beberapa siswa sebagai pengamat. Mintalah agar mereka memberikan umpan balik tentang kualitas kerja tim yang berlangsung.
2. Sebagai ganti pernyataan faktual, buatlah daftar opini dan tempatkan tiap opini pada sebuah kartu indeks. Bagikan kartu tersebut dan mintalah siswa agar berupaya mencapai mufakat tentang reaksi mereka terhadap tiap opini. Mintalah mereka supaya menghargai pendapat minoritas.


23. Bertanggung jawab terhadap Matapelajaran

URAIAN SINGKAT
Rancangan ini memberi peluang bagi siswa untuk memikirkan dan mengakui tanggungjawab Individual mereka dalam kegiatan belajar aktif di kelas

PROSEDUR
1. Buatlah salinan dari kontrak berikut ini:
Saya memahami bahwa dalam pelajaran ini saya akan mempelajari tentang - (diisi dengan matapelajaran). Tujuan dari mata pelajaran ini adalah - (diisi dengan tujuan anda). Saya berpegang pada tujuan ini dan akan berupaya keras mengerjakan hal-hal berikut ini:
• Menggunakan waktu saya di kelas untuk mendukung tujuan ini melalui partisipasi dalam kegiatan.
• Bertanggungjawab atas kegiatan belajar saya sendiri dan tidak akan menunggu siapapun untuk memovasi saya.
• Membantu siswa lain memaksimalkan belajar mereka dengan mendengarkan apa yang harus mereka katakan dan menawarkan tanggapan positif.
• Memikirkan, meninjau, dan menerapkan apa yang telah saya pelajari di luar kelas.
Tanda tangan Tanggal
2. Berjanilah bersama-sama siswa untuk melakukan apapun semampu kita guna menjadikan mata pelajaran ini sebagai pengalaman belajar yang efektif.
3. Bagikan salinan kontrak atau perjanjian itu dan mintalah mereka supaya membacanya. Jelaskan bahwa anda tidak bisa menjamin pencapaian tujuan mata pelajaran tanpa upaya dan komitmen mereka untuk belajar aktif. Perintahkan mereka untuk mempertimbangkan ke-seriusan bekerjasama dengan mau,menandatangani kontrak tertulis itu.
4. Sediakan waktu untuk berdiskusi dan berfikir. Jelaskan bahwa siswa harus mematuhi kontrak yang mereka tandatangani. Pasrahkan kepada siswa apakah mereka akan menandatanginya atau tidak.

VARIASI
1. Sediakan pernyataan tertulis tentang tanggungjawab anda dalam pelajaran ini. Pertimbangkan beberapa dari hal-hal berikut ini:
• Dengarkan secara aktif apa yang mesti dikatakan siswa.
• Bersikaplah mendukung upaya siswa untuk mengambil resiko belajar.
• Variasikan metoda mengajar anda.
• Mulai dan akhirilah pelajaran secara tepat waktu.
• Bagikan materi atau buku ajar yang mudah dibaca.
• Bersikaplah terbuka terhadap pendapat siswa.
• Sediakan instrumen visual.
2. Perintahkan siswa untuk mengemukakan apa yang mereka harapkan tentang perilaku anda sebagai pengajar.

Bagaimana Membantu Siswa Mendapatkan Pengetahuan, Ketrampilan, dan Sikap Secara Aktif

Jika strategi-strategi yang disajikan dalam bagian sebelumnya merupakan "hidangan pembuka" untuk kegiatan belajar aktif. strategi-strategi yang akan segera diperkenalkan kepada anda merupakan "entri"-nya. Pendidikan di segala jenjang pada umumnya dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan. ketrampilan, dan sikap. Pembelajaran kognitif (pengetahuan) mencakup pemerolehan informasi dan konsep. Pembelajaran ini tidak hanya berkenaan dengan pemahaman bahan ajar, namun juga dengan analisis dan penerapannya pada situasi baru. Pembelajaran perilaku (ketrampilan) men¬cakup pengembangan kompetensi pada kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas, memecahkan masalah. dan mengungkapkan pendapat. Pembelajaran afektif (sikap) mencakup pengkajian dan penjelasan tentang perasaan dan preferensi. Siswa dilibatkan dalam menilai diri mereka sendiri dan hubungan pribadi mereka terhadap materi pelajaran. Bagaimana pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang didapatkan bisa menimbulkan segenap perbedaan pada diri mereka? Akankah ini dilakukrn secara pasif ataukah aktif?
Pembelajaran aktif atas informasi, ketrampilan, dan sikap berlangsung melalui proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari bukan sekadar menerima (reaktif). Dengan kata lain, mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sendiri. Mereka mengupayakan pemecahan atas permasalahan yang diajukan oleh guru. Mereka tertarik untuk mendapatkan informasi atau menguasai ketrampilan guna'menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka. Dan mereka dihadapkan pada persoalan yang membuat mereka tergerak untuk mengkaji apa yang mereka nilai dan yakni. Semua ini terjadi bila siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak mereka untuk berfikir, bekerja, dan merasa. Kita dapat membuat jenis-jenis kegiatan ini dengan menggunakan banyak strategi yang akan kita jumpai dalam bahasan ini. Bahasan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

KEGIATAN BELAJAR DALAM SATU KELAS-PENUH
Bagian ini membahas cara-cara untuk menjadikan pengajaran yang dibimbing oleh guru lebih interaktif. Anda akan menjumpai strategi-strategi untuk menyajikan informasi dan gagasan yang melibatkan siswa secara metal.

MENSTIMULASI DISKUSI
Bagian ini menggali cara-cara untuk mengidentifkkan dialog dan debat tentang persoalan-persoalan utama, dalam materi yang anda ajarkan. Anda akan menjumpai sejumlah strategi yang mendorong partisipasi aktif dan menyeluruh dari siswa

PENGAJUAN PERTANYAAN
Bagian ini membahas cara membantu siswa agar mau mengajukan pertanyaan. Anda akan menjumpai strategi-strategi yang memungkinkan siswa merumuskan pertanyaan yang diajukan yang menjelaskan apa.yang telah anda ajarkan kepada mereka.

BELAJAR BERSAMA
Bagian ini menyajikan cara-cara untuk merancang tugas belajar yang dikerjakan oleh siswa dalam kelompok kecll. Anda akan menjumpai strategi-strategi yang mendorong kerjasama dan saling ketergantungan di antara siswa.

PENGAJARAN SESAMA SISWA
Bagian ini membahas cara-cara yang memungkinkan siswa untuk mengajar satu sama lain.

BELAJAR SECARA MANDIRI
Bagian ini terkait dengan aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa secara individual dan pribadi. Anda akan menjumpai strategi-strategi untuk rneningkatkan tanggungjawab siswa dalam menerapkan cara belajar mereka sendiri.

PEMBELAJARAN AFEKTIF
Bagian ini membahas peritang siswa dalam memahami perasaan. nilai-nilai dan sikap mereka. Anda akan men¬jumpai strategi-strategi untuk memfasilitasi pemahaman diri dan penjelasan nilai.

PENGEMBANGAN KETRAMPILAN
Bagian ini membahas tentang ketrampilan mempelajari dan mempraktikkan – baik teknis maupun non-teknis. Anda akan menjumpai strategi-strategi untuk memacu perkembangan ketrampilan awal dan penerapannya.


Kegiatan Belajar dalam Satu Kelas-Penuh
Strategi di bagian ini dirancang untuk memajukan pengajaran satu kelas penuh. Seperti yang akan anda baca penyampaian pelajaran dengan metoda ceramah pun bisa dijadikan aktif dengan memanfaatkan berbagai macam tehnik. Anda juga akan menjumpai cara-cara untuk mengkritisi tayangan video dan penampilan pre-senter tamu. Terakhir, anda akan menjumpai cara-cara baru untuk mengajarkan konsep dan gagasan yang sulit sehingga siswa bisa memahaminya secara maksimal


24. Pikiran yang Penuh Tanya Selalu Ingin Mengetahui

URAIAN SINGKAT
Tehnik sederhana ini menstimulasi rasa ingin tahu siswa dengan mendorong mereka untuk memikirkan tentang sebuah topik atau pertanyaan. Siswa lebih cenderung mengingat suatu pengetahuan tentang materi pelajaran yang belum pernah dibahas sebelumnya jika mereka dilibatkan semenjak awal dalam pengalaman kegiatan belajar satu kelas penuh.

PROSEDUR
1. Ajukan pertanyaan yang njelimet untuk menstimulasi keingintahuan tentang mata pelajaran yang hendak anda bahas. Pertanyaannya haruslah merupakan per¬tanyaan yang menurut anda ada beberapa siswa yang mengetahui jawabannya.
Berikut adalah beberapa contohnya:
• Pertanyaan. sehari-hari ("Mengapa kita mesti membayar pajak penghasilan?")
• Cara melakukan ("Menurut pakar, seperti apakah cara-cara terbaik untuk mengawetkan mumi?")
• Definisi ("Apa lubang hitam Itu?)
• Judul ("Menurut kalian, karya dramanya Ibsen, A Doll's House, berkisah tentang apa?)
• Cara kerja ("Apa yang menjadikan mobil bisa ber-jalan?").
• Akibat ("Menurut kalian, bagaimana akhir dari alur cerita ini? "Bagaimana pemecahan atas masalah ini?").
2. Doronglah siswa untuk berpikir dan membuat dugaan umum. Gunakan frase semisal, "Coba tebak" atau "Coba jawab".
3. Jangan buru-buru memberikan tanggapan. Tampung dulu semua dugaan siswa. Ciptakan rasa penasaran tentang jawaban yang "sesungguhnya."
4. Gunakan pertanyaan itu untuk mengarahkan siswa kepada apa yang hendak anda ajarkan. Sertakan jawaban atas pertanyaan anda dalam penyajian materi anda. Anda perlu memastikan bahwa siswa lebih menaruh perhatian dibanding biasanya.

VARIASI
1. Pasangkan siswa dan perintahkan mereka untuk secara kolektif membuat dugaan.
2. Sebagai ganti pertanyaan katakan kepada siswa apa yang hendak anda ajarkan dan mengapa hal Itu menarik. Cobalah untuk menghangatkan tahap pengenalan ini dengan cara seperti mengiklankan sebuah film yang akan segera ditayangkan.


25. Tim Pendengar

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan cara untuk membantu siswa agar tetap fokus dan jeli selama berlangsungnya pengajaran berbasis ceramah. Tim pendengar merupakan kelompok-kelompok kecil yang bertanggung jawab untuk mengklarifikasi materi pelajaran.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi empat tim, dan berikan tim-tim tersebut tugas berikut:
Tim Peran Tugas
1 Penanya Setelah pengajaran berbasis-ceramah, ajukan
setidaknya dua pertanyaan tentang materi
yang dibahas.
2 Penyetuju Setelah pengajaran berbasis-cera¬mah,
katakan hal-hal mana yang mereka setujui (atau
dirasa membantu) dan jelaskan alasannya.
3 Pembantah Setelah pengajaran berbasis-ceramah, beri
komentar tentang hal mana yang tidak mereka
setujui (atau tidak banyak membantu) dan jelaskan
alasannya.
3. Pemberi contoh Setelah pengajaran berbasis-ceramah, berilah
contoh dan materi atau pelajaran penerapan kusus.
2. Sajikan pengajaran berbasis ceramah anda. Setelah selesai, berikan waktu bagi tim untuk menyelesaikan - tugasnya.
3. Perintahkan tiap tim untuk menanyakan. menyetujui dan sebagainya. Anda mesti mendapatkan lebih banyak partisipasi siswa ketimbang yang anda bayangkan.

VARIASI
1. Buatlah peran lain. Sebagai contoh. perintahkan sebuah tim untuk mengikhtisarkan pengajaran “berbasis-ceramah”. atau mintalah sebuah tim untuk membuat pertanyaan yang menguji pemahaman siswa tentang materi pelajaran.
2. Ajukan pertanyaan-pertanyaannya terlebih dahulu, yang mana jawabannya akan ditemukan dalam penyajian materi pelajaran. Perintahkan siswa untuk mendengarkan dengan cermat guna mendapatkan jawabannya. Tim yang dapat menjawab sebagian besar pertanyaan akan menang.


26. Membuat Catatan dengan Bimbingan

URAIAN SINGKAT
Dalam tehnik yang populer ini, anda menyediakan formulir atau lembar yang telah dipersiapkan. Lembar ini menginstruksikan siswa untuk membuat catatan sewaktu anda mengajar. Gerak fisik yang minimal seperti ini pun akan lebih melibatkan siswa ketimbang jika kita sekadar menyediakan buku pegangan yang lengkap. Ada bermacam metoda untuk membuat catatan secara terarah. Yang paling sederhana di antaranya adalah mengisi bagian-bagian yang kosong.

PROSEDUR

1. Siapkan sebuah catatan yang mengikhtisarkan hal-hal utama pada penyajian materi pelajaran anda.
2. Sebagai ganti menyediakan teks secara lengkap, kosongkan bagian-bagian di dalamnya, dan untuk selanjutnya diisi oleh siswa.
3. Beberapa cara dalam melakukannya antara lain:
• Sediakan sejumlah istilah dan definisinya, bIarkan istilah atau definisinya kosong. ________: merupakan bentuk segilima, Oktagon: ________
• Kosongkan satu atau beberapa poin.
Peran Majelis Perwakilan Roma
a. Menerapkan. undang-undang dan ketetapan yang dibuat oleh konsul
b. ________________________
c. Menerima duta besar luar negeri.
d. ________________________
• Kosongkan kata-kata kunci dalam paragraf pendek.
Di masa kini, manajer seringkali menghadapi permasalahan semisal rendahnya ________, tingginya________, dan________ kualitas pelayanan. Solusi manajemen tradisional seringkali cenderung seperti________ ________, untuk menghasilkan________ persoalan baru untuk satu persoalan yang sudah dipecahkan.
4. Bagikan lembar kerja kepada siswa. Jelaskan bahwa anda memang sengaja mengosongkan beberapa bagian kalimat untuk membantu mereka mendengarkan secara aktif terhadap apa yang anda ajarkan.

VARIASI
1. Siapkan lembar kerja yang memuat sub-sub topik utama dari materi yang anda ajarkan. Kosongkan sejumlah bagian kalimat untuk membantu pembuatan catatan. Hasilnya akan tampak seperti ini:
Empat Jenis Masyarakat yang Tidak Adil Menurut Socrates
Timokrasi:
Oligarki:
Demokrasi:
Tirani:
[Opsionol: Setelah pemberian pelajaran, beri siswa salinan kedua dari lembar catatan yang beberapa bagiannya dikosongkan. Tugaskan mereka untuk mengisi bagian yang kosong itu tanpa melihat catatan.]
2. Buatlah penyajian materi pelajaran anda menjadi bebe¬rapa bagian. Perintahkan siswa untuk mendengarkan dengan cermat sewaktu anda berbicara, namun jangan membuat catatan. Sebagai gantinya, perintahkan mereka untuk menulis catatan selama jeda waktu dalam penyajian materi pelajaran berbasis-ceramah.

27. Mata Pelajaran Ala Permainan Bingo

URAIAN SINGKAT
Pelajaran bisa menjadi tidak menjemukan dan siswa akan leblh menaruh perhatian jika anda menjadikannya dalam bentuk permainan bingo. Di sini, poin utamanya didiskusikan sewaktu siswa bermain bingo.

PROSEDUR
1. Lakukan penyajian materi pelajaran berbasis-ceramah dengan 9 poin utama.
2. Susunlah kartu Bingo yang berisi poin-poin ini dalam 3X3 tumpukan. Tempatkan satu poin yang berbeda pada tiap kotak. Jika anda memiliki kurang dari 9 poin utama, kosongkanlah beberapa kotak.
3. Buatlah beberapa kartu Bingo tambahan dengan poin utama yang sama. namun tempatkan poin-poin itu dalam kotak yang berbeda. Hasilnya ialah bahwa hanya sedikit sekali kartu Bingo yang serupa.
4. Bagikan kartu Bingo kepada siswa. Juga sediakan siswa dengan satu strip kartu yang terdiri dari 9 titik wama (berdiameter sekitar setengah atau tiga perempat inci). Jelaskan kepada siswa bahwa ketika anda tengah menyajikan materi dari poin ke poin, mereka harus menempatkan satu titik pada kartu mereka untuk tiap poin yang anda bahas. (Catatan: Kotak yang kosong tidak dapat ditutup dengan satu titik.).
5. Ketika siswa mengumpulkan tiga titik vertikal, horizon¬tal, atau diagonal secara berturut-turut, mereka akan berteriak "Bingo!"
6. Selesalkanlah penyajian materi pelajaran anda. Biarkan siswa mendapatkan Bingo sebanyak yang mereka bisa.

VARIASI
1. Gunakan istilah atau nama-nama utama yang dijelas-kan dalam penyajian materi anda (sebagai ganti poin utama) sebagai dasar permainan kartu Bingo. Ketika istilah atau nama tersebut untuk pertama kallnya dijelaskan, siswa dapat menempatkan stiker pada kotak yang sesuai.
2. Buatlah tumpukan kartu Bingo berukuran 2X2. Lanjutkan dengan membahas beberapa poin. istilah atau nama-nama utama dalam pelajaran berbasis-ceramah anda. Tunjukan hanya empat di antaranya pada salah satu kartu Bingo. Cobalah untuk membuat beberapa kartu menjadi serupa dengan menyertakan informasi yang berbeda pada tiap kartu.


28. Pengajaran Sinergis

URAIAN SINGKAT
Metoda ini merupakan perubahan langkah yang sesungguhnya. Metoda ini memungkinkan para siswa yang memiliki pengalaman berbeda dalam mempelajari materi yang sama untuk saling membandingkan catatan.

PROSEDUR
1. Bagilah kelas menjadi dua kelompok.
2. Kirimkan satu kelompok ke ruang lain untuk membaca topik yang anda ajarkan. Pastikan bahwa materi bacaannya tertata dengan balk dan mudah dibaca.
3. Dalam pada itu, berikanlah pelajaran berbasis ceramah atau lisan tentang materi yang sama dengan yang sedang dibaca oleh kelompok yang ada di ruang sebelah.
4. Selanjutnya, baliklah pengalaman belajarnya. Sediakan materi bacaan tentang topik anda untuk kelompok yang telah mendengarkan penyajian mata pelajaran dan sediakan materi pelajaran untuk kelompok pembaca.
5. Pasangkan anggota dan tiap kelompok dan perintahkan mereka mengikhtisarkan apa yang telah mereka pelajari.

VARIASI
1. Perintahkan setengah dari siswa untuk mendengarkan penyajian materi pelajaran dengan mata tertutup sedangkan setengah siswa yang lain melhat informasi visual semisal melalui OHP yang menyertai penyajian materi pelajaran dengan telinga tertutup. Setelah penya¬jian materi pelajaran secara lisan tersebut usai, perintah¬kan tiap kelompok untuk membandingkan catatan tentang apa yang mereka lihat dan dengar.
2. Berikan contoh konkret tentang konsep atau teori yang hendak anda ajarkan kepada setengah dari jumlah siswa. Jangan katakan kepada mereka tentang konsep atau teori yang mereka gambarkan. Sajikan kepada setengah kelas konsep atau teori itu tanpa disertai contoh. Pasangkan siswa dari kedua kelompok dan perintahkan mereka untuk membahas pelajaran secara bersama.


29. Pengajaran Terarah

URAIAN SINGKAT
Dalam tehnik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metoda pengajaran terarah merupakan seilngan yang mengasyikkan dl sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan anda untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang anda ajarkan. Metoda ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak.

PROSEDUR
1. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal "Bagalmana kamu menjelaskan seberapa cerdasnya seseorang?”
2. Berikan waktu yang cukup kepada bagi siswa dalam pasangan atau kelompok untuk membahas jawaban mereka.
3. Perintahkan siswa untuk kembali ke tempat masing-masing dan catatlah pendapat mereka. Jika memungkinkan, seleksilah jawaban mereka menjadi beberapa kategori terpisah yang terkait dengan kategori atau konsep yang berbeda semisal "kemampuan membuat mesin pada kategori kecerdasan. kinestetika-tubuh.
4. Sajikan poin-poin pembelajaran utama yang ingin anda ajarkan. Perintahkan siswa untuk menjelaskan kesesuaian jawaban mereka dengan poin-poin ini. Catatlah gagasan yang memberi mformasi tambahan bagi poin pembelajaran dari pelajaran anda.

VARIASI
1. Jangan memilah-milah jawaban siswa menjadi daftar yang terpisah. Sebagai gantinya, buatlah satu daftar panjang dan perintahkan mereka untuk mengkategorikan gagasan mereka terlebih dahulu sebelum anda membandingkannya dengan konsep yang ada di pikiran anda.
2. Mulailah pelajaran dengan tanpa kategori yang sudah ada di benak anda. Cermati bagaimana siswa dan anda secara bersama bisa memilah-milah gagasan-gagasan mereka menjadi kategori yang berguna.


30. Menemui Pembicara Tamu
URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan cara yang baik untuk melibatkan pembicara tamu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk menyiapkan sebuah sesi pelajaran. Pada saat bersamaan, aktivitas memberi siswa peluang untuk berinteraksi dengan pakar pelajaran dengan cara yang unik dan mengambil peran aktif dalam menyiapkan pernbicara tamu.

PROSEDUR
1. Undanglah pembicara tamu untuk memberi ceramah kepada siswa anda sebagai pakar dalam pelajaran yang kini anda ajarkan. (Contoh; Pejabat pemerintah setempat dapat mengunjungi kelas di mana anda mengajarkan tentang kewarganegaraan atau tata-negara.)
2. Siapkan pembicara tamu dengan menjelaskan kepadanya bahwa sesi kelas ini akan dilaksanakan layaknya konferensi pers. Agar sesuai dengan format tersebut. pembicara mesti menyiapkan ceramah singkat atau pernyataan pembuka dan kemudian bersiap menerima pertanyaan dari "pers."
3. Sebelum hadirya pembicara tamu, persiapkan siswa dengan mendiskusikan bagaimana konferensi pers akan dilaksanakan, dan kemudian berilah mereka kesempatan untuk merumuskan beberapa pertanyaan untuk diajukan kepada pembicara.
VARIASI
1. Anda dapat memilih menghadirkan beberapa pembicara tamu dalam waktu bersamaan dan melakukan diskusi meja bundar. Tempatkan tiap tamu pada meja di bagian depan kelas atau pada deretan kursi yang ditata melengkung agar bisa berbagi informasi dan pengalaman dengan kelompok kecIl. Anggota kelompok akan diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan pembicara tamu dengan mengajukan pertanyaan dalam suasana yang lebih santai. Bagilah sesi pelajaran menjadi sejumlah babak. Tentukan panjang waktu masing-masing babak sesuai dengan waktu yang tersedia dan jumlah tamu-nya. Pada umumnya, 10 atau 15 menit untuk tiap babak sudah memadai. Arahkan kelompok kecil untuk mengalihkan pertanyaan dari satu pembicara tamu ke pem¬bicara berikutnya sesuai dengan beralihnya babak.
2. Undanglah sejumlah siswa yang sebelumnya pemah mengikuti pelajaran anda untuk menjadi pembicara "tamu."


31. Mempraktikkan Materi yang Diajarkan

URAIAN SINGKAT
Adakalanya sejumlah konsep atau prosedur masih belum bisa dipahami. betapapun gamblangnya penjelasan verbal atau visual yang anda berikan. Satu cara untuk rnembantu membangun gambaran tentang materi yang diajarkan adalah dengan meniinta sejumlah siswa untuk mempraktikkan atau menerapkan prosedur yang anda jelaskan.

PROSEDUR
1. Pilihlah sebuah konsep (atau sejumlah konsep terkait) atau prosedur yang bisa digambarkan dengan memperagakannya. Beberapa contohnya meliputi:
• Penyusunan kalimat.
• Menemukan persamaan.
• Sirkulasi jantung
• Arsitektur gotik
2. Gunakan salah satu dari beberapa metoda berikut ini:
• Perintahkan beberapa siswa untuk maju ke depan kelas dan tugaskan mereka untuk mensimulasikan aspek fisik dari konsep atau prosedur yang tengah anda terangkan.
• Buatlah kartu besar yang mencantumkan bagian-baglan dari suatu prosedur atau konsep. Berikan kartu-kartu itu kepada sejumlah siswa. Tempatkan siswa yang memegang kartu tersebut sedemikian rupa agar kartu itu berurutan dengan benar.
• Buatlah drama yang meminta siswa memperagakan materi yang anda ajarkan.
• Tunjuklah beberapa siswa untuk mempraktikkan prosedur itu setahap demi setahap.
3. Diskusikan drama pembelajaran yang telah anda buat. Kemukakan inti pengajaran apapun yang ingin anda sampaikan.
VARIASI
1. Rekamlah sekolompok siswa yang memperagakan konsep atau prosedur tersebut menggunakan kamera video dan perlihatkan kepada seluruh siswa.
2. Perintahkan siswa untuk membuat tata cara .mempera¬gakan konsep atau prosedur tanpa arahan dari anda.


32. Yang Manakah Kelompok Saya?

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini menawarkan pendekatan baru untuk membantu siswa mempelajari materi kognltif. Dengan menerapkan tayangan permainan lama dl televisi, siswa berkesempatan untuk membahas materi yang baru saja diajarkan dan menguji satu sama lain untuk memperkuat ingatan akan pelajaran anda.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi dua tim atau leblh.
2. Tulislah salah satu dari yang berikut ini pada slip kertas yang berbeda:
• Saya: (beri nama orang) misal. Saya Karl Marx
• Saya: (beri nama kejadian) misal. Saya "gerhana bulan."
• Saya: (beri nama teori) misal, Saya "Darwinisme."
• Saya: (beri nama konsep) misal, Saya "inflasi."
• Saya: (beri nama keahlian) misal, Saya "manuverHeimlich
• Saya: (beri nama kutipan) misal, Saya "ada atau tiada"
• Saya: (beri nama rumus) misal, Saya adalah e=mc2”.
3. Masukkan slip kertas ke dalam sebuah kotak, dan perintahkan tiap tim untuk memilih satu slip. Slip yang dipilh menunjukkan identitas dari tamu misteri.
4. Berikan tim waktu lima menit kepada tim untuk mengerjakan tugas berikut:
• Memilih anggota tim untuk menjadi "tamu misteri."
• Persiapkan pertanyaan yang akan di ajukan dan pikirkan cara menjawabnya.
5. Pilihlah tim yang akan menghadirkan tamu misteri pertama.
6. Buatlah panel siswa dari tim lain (dengan metoda apapun yang anda pilih).
7. Mulailah permainan. Perintahkan tamu misteri untuk mengemukakan kategorinya (orang, kejadian, dll). Para panelis mengambil giliran mengajukan pertanyaan ya- atau -tidak tentang tamu misteri hingga salah satu panelis dapat mengenali si tamu misterius itu.
8. Perintahkan tim yang lain untuk menghadirkan tamu misteri mereka. Buatlah panel baru untuk tiap tamu misteri.

VARIASI
1. Beri kesempatan tamu misteri untuk berkonsultasi dengan rekan satu timnya jika dia tidak yakin dengan cara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panelis.
2. Guru dapat menetapkan bagaimana si tamu misteri harus berakting. Sebagai contoh, seorang tamu misteri bisa memperagakan seolah-olah ia adalah orang terkenal yang sedang menjadi bahan pembicaraan.

33. Menjadi Kritikus Tayangan Video

URAIAN SINGKAT
Seringkali menonton tayangan video edukatif merupakan kegiatan pasif. Siswa duduk di kursi sembari menunggu tayangan diputar. Namun yang ini merupakan cara aktif untuk menjadikan siswa merasa terlibat dalam menonton tayangan video.

PROSEDUR
1. Pilihlah video yang ingin anda pertunjukkan kepada siswa.
2. Katakan kepada siswa, sebelum menonton video, bahwa anda ingin mereka mengkritisi apa yang akan ditayangkan. Perintahkan mereka untuk meninjau beberapa faktor. termasuk:
• Realisme (dari para pelakunya)
• Relevansi
• Saat-saat tak terlupakan
• Penataan isi
• Daya terapnya pada kehidupan sehari-hari mereka.
3. Putarlah video.
4. Laksanakan diskusi yang dapat anda sebut "pojok kritikus."
5. Lakukan jajak pendapat terhadap siswa (opslonal). dengan menggunakan semacam sistern penlalan keseluruhan,semisal:
• Bintang satu sampai lima.
• Jempol ke atas (bagus), jempol ke bawah (jelek).

VARIASI
1. Buatlah panel pemirsa video.
2. Putar kembali video itu. Lantaran ada kalanya kritikus berubah pendirian ketika mereka menyaksikan sesuatu untuk kedua kalinya.

Mestimulasi Diskusi Kelas
Sering sekali. seorang guru berupaya menstimulasi diskusi kelas namun dihadapkan pada kebungkaman yang tidak menyenangkan karena siswa sendiri tidak tahu siapa yang berani berbicara duluan. Memulai sebuah diskusi tidak jauh berbeda dengan memulai pengajaran berbasis ceramah atau penyajian materi secara lisan. Anda harus terlebih dahulu rnembangkitkan minat! Strategi-strategi yang berikut ini merupakan cara-cara yang telah berhasil menstimulasi diskusi. Sebagian di antaranya bahkan akan menciptakan pertukaran pendapat yang seru namun tertib antar siswa. Semuanya dirancang sedemikian rupa agar setiap siswa bisa terlibat.

34. Debat Aktif

URAIAN SINGKAT
Sebuah debat bisa menjadi metoda berharga untuk meningkatkan pemikiran dan perenungan, terutama jlka siswa diharapkan mengemukakan pendapat yang ber-tentangan dengan diri mereka sendiri. Ini merupakan strategi debat yang secara aktif melibatkan tiap siswa di dalam kelas—tidak hanya mereka yang berdebat.

PROSEDUR
1. Susunlah sebuah pernyataan yang berisi pendapat tentang isu kontroversial yang terkait dengan mata pelajaran anda (misalnya., "Media cuma membuat berita, bukan melaporkannya.")
2. Bagilah siswa menjadi dua tim debat. Berikan (secara acak) posisi "pro" kepada satu kelompok dan posisi "kontra" kepada kelompok yang lain.
3. Selanjutnya, buatlah dua hingga empat sub kelompok dalam masing-masing tim debat. Misalnya, dalam sebuah kelas yang berisi 24 siswa anda dapat membuat tiga sub kelompok pro dan tiga sub kelompok kontra, yang masing-masing terdiri dan empat anggota. Perintahkan tiap sub kelompok untuk menyusun argumen bagi pendapat yang dipegangnya, atau menyediakan daftar panjang argumen yang mungkin akan mereka diskusikan dan pilih. Pada akhir dari diskusi mereka. perintahkan sub kelompok untuk memilih juru bicara.
4. Tempatkan dua hingga empat kursi (tergantung jumlah dari sub kelompok yang dibuat untuk tiap pihak) bagi para juru bicara dari pihak yang pro dalam posisi berhadapan dengan jumlah kursi yang sama bagi juru bicara dari pihak yang kontra. Posisikan siswa yang lain di belakang tim debat mereka. Untuk contoh sebelumnya, susunannya akan tampak seperti ini:

x x
x x
x x
x pro kon x
x pro kon x
x pro kon x
x x
x x
x x

Mulailah "debat" dengan meminta para Juru bicara mengemukakan pendapat mereka. Sebutlah proses Ini sebagai "argumen pembuka."
5. Setelah semua siswa mendengarkan argumen pembuka, hentikan debat dan suruh mereka kembali ke sub kelompok awal mereka. Perintahkan sub-sub kelompok untuk menyusun strategi dalam rangka mengkonter argumen pembuka dari pihak lawan. Sekali lagi, perintahkan tiap sub kelompok memllih juru bicara, akan lebih baik bila menggunakan orang baru.
6. Kembali ke "debat". Perintahkan para juru bicara, yang duduk berhadap-hadapan, untuk memberikan "argu¬men tandingan" Ketika debat berlanjut (pastikan untuk menyelang-nyeling antara kedua belah pihak), anjurkan siswa lain untuk memberikan catatan yang memuat argumen tandingan atau bantahan kepada pendebat mereka. Juga, anjurkan mereka untuk memberi tepuk tangan atas argumen yang disampaikan oleh perwakilan tim debat mereka.
7. Bila anda rasa perlu, akhirilah debat. Tanpa menyebutkan pemenangnya, perintahkan siswa untuk kembali berkumpul membentuk satu lingkaran. Pastikan untuk mengumpulkan siswa dengan meminta mereka duduk bersebelahan dengan siswa yang berasal dari pihak lawan debatnya. Lakukan diskusi dalam satu kelas penuh tentang apa yang didapatkan oleh siswa dari persoalan yang diperdebatkan. Juga perintahkan siswa untuk mengenali apa yang menurut mereka merupakan argumen terbaik yang dikemukakan oleh kedua belah pihak.

VARIASI
1. 'Tambahkan satu atau beberapa kursi kosong bagi tim-tim debat. Ijinkan siswa untuk menempati kursi-kursi kosong ini manakala mereka ingin turut berdebat.
2. Mulailah segera kegiatan ini dengan argumen pembuka perdebatan. Lakukanlah dengan debat konvensional, namun sering-seringlah menggilir para pendebatnya.


35. Rapat Dewan Kota

URAIAN SINGKAT
Format diskusi ini sangat cocok untuk kelas besar. Dengan menclptakan suasana yang menyerupai rapat dewan kota, seluruh siswa bisa terlibat dalarn diskusi.

PROSEDUR
1. Pilihlah topik menarik atau problema kasus mengenai mata pelajaran anda. Sajikan secara singkat topik atau problemanya seobyektif mungkin, dengan mernberikan infomasi latar belakang dan uraian singkat tentang beragam sudut pandang. Jika anda menghendaki. sediakanlah dokumen yang dapat memperjelas topik atau problemanya.
2. Tegaskan bahwa anda menginginkan pendapat dari siswa sendiri tentang persoalan itu. Tanpa memanggil siswa dari bagian depan kelas, jelaskan bahwa anda akan mengikuti format yang disebut "panggil pembicara berikutnya." Manakala seorang siswa selesai berbicara, siswa itu harus melihat ke sekeliling ruang kelas dan memanggil siswa lain yang juga ingin berbicara (ketahuan dari siswa yang mengangkat tangan).
3. Anjurkan siswa agar berbicara singkat dan padat supaya siswa yang lain mendapat kesempatan berpartisipasi dalam rapat "dewan kota" Jika anda menghendaki tetapkan batas waktu sampai pembicara mendapatkan giliran untuk berbicara. Arahkan siswa untuk memanggil siswa lain yang belum pernah mendapat giliran sebelum memilih siswa yang sudah mendapat giliran.
4. Lanjutkan diskusi selama hal itu dirasa ada gunanya..

VARIASI
1. Buatlah pertemuan itu menjadi perdebatan. Perintahkan siswa untuk duduk di sisi ruangan yang berbeda, sesuai dengan posisi perdebatannya. Ikuti format "memanggil pembicara berikutnya," dengan instruksi bahwa pembicara berikutnya harus memiliki pendapat yang bertentangan. Perintahkan siswa untuk berpindah ke sisi ruangan yang berbeda jika pendapat mereka terpengaruhi oleh debat itu.
2. Mulailah rapat "dewan kota" dengan diskusi panel. Perintahkan para panelis untuk mengemukakan pen¬dapat mereka dan kemudian memanggil pembicara dari kalangan pendengar.


36. Keputusan Terbuka Tiga-Tahap

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan format diskusi di mana sebagian dari siswa membentuk lingkaran diskusi dan sebagian yang lain rnembentuk lingkaran pendengar di sekeliling kelompok diskusi (Lihat Sepuluh Metoda untuk Mendapatkan Partisipasi Kapanpun", pada halaman 22.) Berikut ini adalah salah satu dari cara-cara yang lebih menarik untuk membentuk diskusi terbuka.

PROSEDUR
1. Susunlah tiga pertanyaan diskusi yang relevan dengan materi pelajaran anda. Dalam kelas ekologi, sebagai misal, pertanyaannya boleh jadi sebagai berikut:
• Bagaimanakah lingkungan mengalami perusakan?
• Langkah-langkah apakah yang bisa diambil oleh pemerintah dan industri swasta untuk mengatasi masalah ini?
• Apakah yang dapat kita lakukan secara pribadi?
Idealnya, pertanyaan-pertanyaan itu mesti berkaitan, namun itu tidak diharuskan. Putuskan dalam urutan seperti apakah anda menghendaki didiskusikannya pertanyaan-pertanyaan itu.
2. Susunlah kursi dalam konfigurasi perut ikan (yakni dua lingkaran memusat) Perintahkan siswa untuk berhitung 1,2, dan 3. Perintahkan anggota kelompok 1 untuk menempati kursi lingkar diskusi dan perintahkan anggota kelompok 2 dan 3 untuk duduk di kursi lingkar-luamya. Ajukan pertanyaan pertama anda untuk didiskusikan. Berikan waktu diskusi selarna 10 menit. Perintahkan satu orang siswa untuk memfasilitasi diskusi atau bertindak sebagai fasilitator.
3. Selanjutnya, perintahkan anggota kelompok 2 untuk duduk di lingkar dalam. menggantikan anggota ke¬lompok 1 yang sekarang duduk di lingkar luar. Tanyalah anggota kelompok 2 apakah mereka hendak memberikan tanggapan singkat tentang diskusi pertama, dan kemudlan beralihkan ke topik diskusi kedua.
4. Ikuti prosedur yang sama dengan anggota kelompok 3.
5. Bila ketiga pertanyaan itu telah didiskusikan, kembalikan siswa menjadi satu kelompok besar diskusi. Perin¬tahkan mereka untuk membahas keseluruhan diskusi yang telah berlangsung.

VARIASI
1. Sebagai alternatif, jika tidak memungkinkan untuk melakukan penataan kursi secara melingkar, buatlah diskusi panel secara bergiliran. Sepertiga kelas menjadi panelis untuk tiap pertanyaan diskusi. Para panelis bisa duduk di depan kelas menghadap kepada siswa lainnya di kelas. Jika anda menggunakan susunan kelas berbentuk U atau meja konferensi (lihat "Sepuluh Tata-letak untuk Menyusun Kelas," halaman 17), tunjuklah kelompok sebelah sebagai kelompok panel.
2. Gunakan hanya satu pertanyaan diskusi saja. Perintah¬kan tiap kelompok berikutnya untuk menanggapi diskusi kelompok sebelumnya.


37.Memperbanyak Anggota Diskusi Panel

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan cara yang baik untuk menstimulasi diskusi dan memberi siswa kesempatan untuk mengenali. menjelaskan. dan mengklarifikasi persoalan sembari tetap bisa berpartisipasi aktif dengan seluruh siswa.

PROSEDUR
1. Pillhlah sebuah masalah yang akan mengundang minat siswa. Sajikan persoalan Itu agar siswa terstimulasi untuk mendiskusikan pendapat mereka. Sebutkan lima pertanyaan untuk didiskusikan.
2. Pilihlah empat hingga enam siswa untuk membentuk kelompok diskusi panel. Aturlah mereka dalam formasi semi lingkaran di bagian depan kelas.
3. Perintahkan siswa yang lain untuk duduk di sekeliling kelompok diskusi pada tiga sisi dalam formasi sepatu kuda.
4. Mulailah dengan pertanyaan pembuka yang provokatif. Serahkan tanggung jawab diskusi panel kepada kelom¬pok inti sedangkan siswa yang lain membuat catatan dalam rangka mempersiapkan giliran diskusi mereka.
Sebagai contoh, beberapa poin yang dapat dikemukakan dalam sebuah diskusi adalah tentang pertanyaan "Apa sajakah pendapat pro dan kontra terhadap rekayasa genetik?"
Pro
• Ilmu kesehatan telah mencapai tahap yang memungkinkan hal ini, lantas mengapa mesti menolaknya?
• Ilmuwan akan mampu menghilangkan rasa nyeri dan penderitaan.
• Orang tua akan bisa menghindari kelahiran bayi yang cacat-lahir.


Kontra
• Manusia tidak boleh merusak rencana Tuhan.
• Kelainan genetik akan timbul.
• Orang tua tidak boleh memutuskan seperti apa anak yang ingin mereka miliki.
5. Pada akhir periode diskusi yang sudah ditetapkan. pisahkan seluruh kelas menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melanjutkan diskusi tentang pertanyaan yang masih ada.

VARIASI
1. Baliklah urutannya; mulalah dengan diskusi kelompok kecil dan diikuti dengan diskusi panel.
2. Perintahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan diskusi.

38. Argumen dan Argumen Tandingan

URAIAN SINGKAT
Kegiatan ini merupakan cara yang sangat bagus untuk menstimulir diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang persoalan kompleks. Formatnya serupa dengan sebuah debat, namun tidak begitu formal dan berlangsung lebih cepat.

PROSEDUR
1. Pilihlah sebuah masalah yang memiliki dua sisi atau lebih.
2. Bagilah kelas menjadi sejumlah kelompok sesual dengan jumlah pendapat yang telah anda nyatakan, dan perintahkan tiap kelompok untuk mengemukakan argumen yang mendukung pihaknya. Doronglah mereka untuk bekerja dengan rekan sebangku atau dalam gugusan kelompok kecil.
3. Jelaskan bahwa siswa mana saja bisa memulai debat. Setelah seorang siswa memiliki kesempatan untuk mengajukan satu argumen yang mendukung pendapatnya, beri kesempatan untuk munculnya argumen lain atau argumen yang berseberangan dari kelompok lain. Lanjutkan diskusi, lakukan prosesnya dengan cepat.
4. Akhiri kegiatan ini dengan membandlngkan persoalan menurut pandangan anda Sebagai guru. Beri kesempatan dilakukannya diskusi lanjutan.

VARIASI
1. Sebagai ganti debat antar kelompok, pasangkan masing-masing siswa dari kelompok yang berbeda dan perintah¬kan mereka untuk saling beradu argumentasi. Ini bisa dilakukan secara serentak, dan dengan demikian setiap siswa terlibat dalam perdebatan dalam waktu bersamaan.
2. Buatlah formasi dua kelompok yang bertentangan agar mereka berhadapan satu sama lain. Ketika satu siswa mengakhiri argumennya, perintahkan agar siswa itu melemparkan suatu benda (misalnya bola atau benda semacamnya) kepada anggota dari pihak yang berlawanan. Siswa yang menangkap benda yang dilemparkan itu harus membantah argumen dari siswa sebelumnya.
39. Membaca Keras-keras

URAIAN SINGKAT
Yang rnengherankan, membaca sebuah teks keras-keras ternyata dapat membantu siswa memfokuskan pikiran. mengajukan pertanyaan, dan menstimulasi diskusi. Strategi Ini agak serupa dengan pelajaran mengkaji kitab suci. Cara ini memililki dampak berupa terfokusnya perhatian dan terciptanya kelompok yang padu.

PROSEDUR
1. Pilihlah teks yang cukup menarik untuk dibaca keras-keras. Batasi diri anda untuk memilih teks yang berisi kurang dari 500 kata.
2. Perkenalkan teks itu kepada siswa. Cermati poin-poin atau persoalan utama yang hendak diajukan.
3. Bagilah teks itu berdasarkan paragrafnya atau dengan cara lain. Tunjuklah sejumlah siswa untuk membaca keras-keras beberapa bagian yang berbeda.
4. Ketika pembacaan sedang berlangsung. hentikan pada beberapa bagian untuk menekankan poin-poin tertentu, mengajukan pertanyaan, atau memberi contoh. Beri kesempatan untuk melakukan diskusi singkat jika siswa memperlihatkan minat terhadap bagian tertentu. Selanjutnya bahaslah apa yang dimuat dalam teks.


VARIASI
1. Lakukan pembacaan oleh anda sendiri jika anda merasa hal ini akan meningkatkan cara penyajian teks, atau anda jika meragukan kemampuan baca siswa.
2. Perintahkan pasangan siswa untuk membacakan sata sama lain, hentikan untuk klarifikasi dan diskusi bila itu dirasa perlu.


40.Pengadilan oleh Majelis Hakim

URAIAN SINGKAT
Tehnik ini memanfaatkan pengadilan bohong-bohongan. lengkap dengan saksi, jaksa penuntut, pembela, anggota pengadilan dan lain-lain. Ini merupakan metoda yang baik untuk memicu "belajar berbeda pendapat"yakni belajar dengan secara efektif mengemukakan sebuah sudut pandang dan menentang pendapat yang sebaliknya.

PROSEDUR
1. Buatlah dakwaan yang akan membantu siswa mengetahui sisi-sisi yang berbeda dari sebuah persoalan. Contoh-contoh "kejahatan" yang bisa didakwakan kepada seseorang atau kepada suatu benda adalah: orang berpendidikan atau orang biasa yang moralnya bobrok; buku kontroversial; teori yang tidak terbukti; nilal-nilal yang tidak memlliki manfaat; dan proses, hukum, atau institusi yang menyimpang.
2. Berikan peran kepada siswa. Tergantung pada jumlah siswa, anda dapat menggunakan semua atau beberapa dari peran berikut ini, pembela, saksi meringankan, jaksa penuntut umum, saksi memberatkan, panitera, hakim ketua, dan hakim anggota. Tiap peran bisa diisi oleh satu orang siswa atau satu tim. Anda bisa menetapkan sendiri jumlah majelis hakimnya
3. Berikan waktu kepada siswa untuk mempersiapkan diri. Ini bisa berlangsung dari beberapa menit hingga satu jam, tergantung pada kerumitan masalahnya.
4. Laksanakan pengadilan. Pertimbangkan untuk menggunakan aktivitas berikut ini: argumen pembuka, kasus yang diajukan oleh penuntut dan saksi, laporan singkat panitera persidangan, dan argumen penutup.
5. Lakukan pertimbangan hakim. Ini bisa dilakukan secara terbuka, agar semua siswa bisa mendengar bagaimana bukti ditimbang. Anggota non-hakim bisa diberi tugas untuk mendengarkan berbagai aspek kasus.

VARIASI
1. Perluas kegiatan dengan pentarafan pengadilan ulang.
2. Hilangkan pengadilan oleh majelis hakim dan gantikan pengadilan hanya oleh hakim.


Pengajuan Pertanyaan
”Ada pertanyaan?" tanya guru. Seringkali, setelah ditanya seperti itu siswa justru diam. Sebagian guru menganggap diamnya siswa menunjukkan bahwa mereka tidak berrninat Sebagian lain mungkin menyimpulkan bahwa semuanya sudah jelas. Sayangnya. yang sesung-guhnya terjadi ialah bahwa siswa belum siap mengajukan pertanyaan. Strategi-strategi yang berikut ini akan membantu anda mengubah keadaan seperti ini. Siswa akan lebih tertantang untuk membuat pertanyaan karena mereka memlliki kesempatan untuk memahami materi yang diajarkan.

41. Belajar berawal dari Pertanyaan

URAIAN SINGKAT
Proses mempelajari hal baru akan lebih efektif jika si pembelajar dalarn kondisi aktif, bukannya reseptif. Salah satu cara untuk menciptakan kondisi pembelajaran seperti ini adalah dengan menstimulir siswa untuk rnenyelidiki atau mempelajari sendiri materi pelajarannya, tanpa penjelasan terlebih dahulu dari guru. Strategi sederhana ini menstimulasi pengajuan pertanyaan, yang mana merupakan kunci belajar.

PROSEDUR
1. Bagikan kepada siswa bahan ajar yang anda pilih sendiri. (Anda dapat menggunakan satu halaman dalam sebuah buku teks, sebagai ganti buku pegangan.) Inti dari pilihan materi anda adalah kebutuhan untuk men¬stimulir pertanyaan di pihak pembaca. Sebuah buku pegangan yang menyediakan informasi luas namun tidak memiliki rincian penjelas adalah yang ideal. Grafik atau diagram yang melukiskan sejumlah pengetahuan merupakan pilihan yang baik. Sebuah naskah yang terbuka bagi munculnya bermacam interpretasi juga merupakan pilihan yang balk. Tujuan utamanya adalah memicu keingintahuan.
2. Perintahkan siswa untuk mempelajari buku pegangan dengan pasangannya. Perintahkan agar masing-masing pasangan sebisa mungkin berupaya memahami buku pegangan dan mengenali apa saja yang tidak mereka paharni dengan menandai dokumen dengan pertanyaan di dekat informasi yang tidak mereka pahami. Anjurkan siswa untuk menyislpkan sebanyak mungkin tanda tanya sesual yang mereka kehendaki. Jika waktunya memungkinkan, bentuklah pasangan-pasangan tersebut menjadi kuartet (kelonipok empat siswa) dan beri waktu bagi tiap pasangan untuk saling membantu.
Seorang guru fisika, misalnya, dapat membagikan sebuah diagram yang menggambarkan bagaimana energi potensial berubah menjadi energi kinetik dengan menunjukkan seorang penerjun sirkus yang melompat dari galah sepanjang 50 kaki Siswa bekerja bersama pasangannya untuk membahas. Iustrasinya dan menentukan pertanyaannya (misalnya, Kapankah pastinya energi potensial menjadi energi kinetik? Apa perbedaan mendasar antara energi kinetik dan potensial?
3. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dan jawablah pertanyaan-pertanyaan siswa. Anda mengajar melalui jawaban anda atas pertanyaan siswa secara keseluruhan, dan baru kemudian mengajarkan mata pelajaran hari ini, dengan melakukan upaya khusus untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa.

VARIASI
1. Jika anda merasa bahwa siswa akan kesulitan untuk mempelajari sendiri materi pelajarannya, berikan sejumlah informasi yang mengarahkan mereka atau beri mereka pengetahuan dasar yang diperlukan untuk bisa mengajukan pertanyaan sendiri. Selanjutnya bentuklah kelompok-kelompok belajar.
2. Mulailah prosedur Ini dengan belajar sendiri-sendin bukannya belajar secara berpasangan.


42. Pertanyaan yang Disiapkan

URAIAN SINGKAT
Tehnik ini memungkinkan anda untuk menyajikan informasi Sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah disiapkan pada siswa yang anda tunjuk. Kendati anda pada kenyataannya memberikan pelajaran yang tersiapkan dengan baik, namun bagi siswa lain (selain siswa yang anda tunjuk) anda tampak hanya melakukan sesi tanya-jawab.


PROSEDUR
1. Pilihlah pertanyaan yang akan mengarahkan kepada pelajaran anda. Tulislah tiga hingga enam pertanyaan dan urutkan secara logis.
2. Tulislah masing-masing pertanyaan pada sebuah kartu, indeks dan tulislah isyarat yang akan anda gunakan untuk menandakan bahwa anda ingin agar pertanyaan itu diajukan. Tanda-tanda atau isyarat yang dapat anda gunakan meliputi:
• menggaruk-garuk hidung anda.
• melepas kacamata anda.
• menjentikkan jemari anda.
• menguap
Kartu instruksinya bisa tampak seperti ini:

4. Sebelum pelajaran dimulai, pilihiah siswa yang akan mengajukan pertanyaan. Berikan masing-masing satu kartu indeks, dan jelaskan tanda-tanda mereka. pastikan bahwa mereka tidak mengungkapkan kepada siapapun bahwa mereka telah diberi pertanyaan.
5. Bukalah sesi tanya-jawab dengan mengumumkan topiknya dan berikan isyarat pertama anda. Panggilah siswa yang sudah diberi pertanyaan, jawablah pertanyaan itu. dan kemudian lanjutkan dengan isyarat dan pertanyaan berikutnya.
6. Sekarang, bukalah kesempatan bagi seluruh siswa untuk mengajukan pertanyaan baru, bukan yang telah diberikan sebelumnya. Anda mesti memastikan adanya beberapa siswa yang tunjuk jari.

VARIASI
1. Sertakan jawaban atas pertanyaan tersebut pada kertas lipat, transparansi OHP, atau buku pegangan pengajaran yang anda bagikan ketika maslng-masing pertanya dijawab. Ungkapkan secara dramatis jawabannya ketika pertanyaan diajukan.
2. Berikan pertanyaan yang telah anda perslapkan kepad siswa yang paling sedikit memperlihatkan minat ata yang memperllhatkan sikap peran kurang bersahabat

43. Pertanyaan Pembalikan Peran

URAIAN SINGKAT
Sekalipun anda meminta siswa untuk memikirkan pertanyaannya selama berlangsungnya pelajaran, bukan hanya pada akhir pelajaran, anda mungkm akan mendapatkan tanggapan yang hangat-hangat kuku atau biasa-biasa ketika anda bertanya, "Apakah ada perta¬nyaan?" Dengan tehnik ini, anda membalik peran: Anda mengajukan pertanyaan dan siswa berupaya menjawab.

PROSEDUR
1. Susunlah pertanyaan yang akan anda ajukan tentang beberapa materi pelajaran jika anda yang berperan sebagai siswa. Buatlah pertanyaan yang:
• Berupaya mengklarifikasi rnateri yang sulit atau rumit (misalnya, Tolong anda jelaskan lagi cara untuk¬________?”)
• Membandingkan materi dengan informasi lain (misalnya, "Seperti apa bedanya ini dengan______?”)
• Menantang pendapat anda (misalnya, "Mengapa hal ini perlu dilakukan? Bukankah hal ini akan menimbulkan banyak kebingungan?”)
• Meminta contoh tentang gagasan yang tengah dibahas (misalnya. "Bisakah kalian berikan contoh tentang_______?”)
• Menguji daya terap materi (misalnya, saya menggunakan gagasan ini dalam kehidupan nyata?
3. Pada awal sesi pertanyaan, umumkan kepada anak-anak bahwa anda akan "menjadi" mereka, dan mereka bersama akan "menjadi" anda. Lanjutkan pengajuan pertanyaan
4. Bersikaplah argumentatif, penuh canda, atau apapun untuk memancing mereka agar membombardir dengan banyak jawaban.
5. Membalikkan peran beberapa kali akan menjadikan siswa slap dan mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan mereka sendiri

VARIASI
1. Sebagai ganti penggunaan tehnik ini pada awal sesi tanya-jawab. baliklah posisinya ketika siswa telah puas dengan pertanyaan.
2. Ubahlah acaranya menjadi "konferensi media." Anda menjadi media, yang memperkenalkan diri sebagai "W' Suditomo dari RCTI" atau semacamnya, dan hujani siswa dengan pertanyaan yang menyelldik, menyerang, atau menjelek-jelekan materi belajar yang dipertanyakan.

Belajar Bersama
Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan belajar aktif adalah dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam kelompok kecil siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat, pengetahuan, serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar bersama sebagai bagian berharga dari iklim belajar di kelas anda. Namun demikian, belajar bersama tidaklah selalu berlangsung efektif. Bolehjadi terdapat partisipasi yang tidak seimbang, komunikasi yang buruk, dan kebingungan, bukannya belajar yang sesungguhnya. Strategi-strategi berikut ini dirancang untuk memaksimalkan manfaat dari belajar bersama dan meminimalkan kesenjangan.

44. Pencarian Informasi

URAIAN SINGKAT
Metoda ini bisa disamakan dengan ujian open-book Tim-tim di kelas mencari informasi (biasanya akan diungkap dalam pengajaran ala ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Metoda ini sangat membantu menjadikan materi yang biasa-biasa saja menjadi lebih menarik.

PROSEDUR
1. Buatlah sekumpulan pertanyaan yang dapat dijawab dengah mencari informasi yang bisa ditemukan dalam buku sumber yang telah anda bagikan kepada siswa. Materi surnbernya bisa mencakup:
• Buku pegangan
• Dokumen.
• Buku teks.
• Panduan referensi
• Informasi yang diakses melalui komputer.
• Artifak.
• Peralatan "berat: (misalnya mesin)
2. Bagikan pertanyaan-pertanyaan tentang topiknya.
3. Perintahkan siswa untuk mencari informasi dalam tim kecil. Kompetisi yang bersahabat bisa diwujud untuk mendorong partipasi.
4. Bahaslah jawabannya di depan kelas. Perluaslah jawabnya guna memperluas cakupan pembelajaran.

VARIASI
1. Buatlah pertanyaan yang mendorong siswa untuk menyimpulkan jawaban dan informasi sumber yang tersedia. Bukannya menggunakan pertanyaan yang bisa dijawab langsung dengan mencari informasinya.
2. Sebagai ganti pencarian jawaban, berikan siswa tugas yang berbeda semisal problema kasus untuk dipecahkan, sebuah latihan yang mengharuskan mereka mencocokkan butir-butir, atau sejumlah kata yang diaduk-aduk yang menjelaskan istilah penting yang terkandung dalam informasi sumber jika bisa diurutkan dengan benar.


45. Kelompok Belajar

URAIAN SINGKAT
Metoda ini memberi siswa tanggung jawab untuk mempelajari materi pelajaran dan menjabarkan isinya dalam sebuah kelompok tanpa campur tangan guru. Tugas yang diberikan mesti jelas betul untuk memastikan bahwa sesi belajar yang dihasilkan akan efektif dan kelompok bisa mengatur diri mereka sendiri.

PROSEDUR
1. Beri siswa materi pelajaran yang pendek dan terformat dengan baik; naskah singkat; grafik atau diagram yang menarik. Perintahkan mereka untuk membacanya dalam hati. Kelompok belajar akan bekerja sangat baik bila materinya cukup menantang atau terbuka bagi munculnya bermacam interpretasi.
2. Bentuklah sub-sub kelompok dan beri mereka ruang yang tenang untuk melaksanakan sesi belajar mereka.
3. Berikan petunjuk yang jelas yang memandu siswa untuk belajar dan menjelaskan materinya dengan cermat. Sertakan arahan semacam ini:
• Jelaskan isinya. .
• Buatlah contoh, ilustrasi, atau penerapan informi atau gagasan itu.
• Kenali hal-hal yang membingungkan atau tidak kalian setujui.
• Bantahlah apa yang ada dalam teks, buatlah sudut pandang yang bertentangan.
• Nilailah seberapa balk kalian memahami materinya.

Berikut adalah salah satu contohnya:
Langkah-langkah Penyadaran Serangan Jantung (CPR)
a. Perhatikan keadaan.
b. Periksa ketidakresponsifannya
c. Carilah bantuan.
d. Bukalah saluran pernafasan.
e. Lihat, dengarkan, dan rasakan pernafasan si korban.
f. Berikan napas bantuan dua kali.
g. Periksa denyut nadi.
h. Lakukan penekanan dada sebanyak 15 kali (jika korbannya dewasa), dan kemudian berikan nafas bantuan dua kali.
i. Ulangi tiga kali.
j. Periksa kembali denyut nadinya. Jika tidak ada, kembali ke langkah d.

Diskusikan tiap langkah.
Berikan ilustrasi dari tiap langkah.
Langkah manakah yang kalian ingin saya menjelaskan atau mempraktikannya?

Berikut ini adalah contoh yang lain:
Dasar-dasar Impresionisme

A. Impersonalitas:
Si seniman memang tidak tertarik dengan subyeknya dan menciptakan gambar tanpa melibatkan perasaannya.

Diskusikan.
Berikan contoh.
Seberapa baik anda memahami konsep ini? 1,2,3,4,5

B. Cahaya: Seniman berupaya menciptakan ilusi bentuk-bentuk yang bermandikan cahaya dan atmosfer, yang mana memerlukan pengkajian cahaya sebagai sumber warna.
Diskusikan.
Berikan contoh.
Seberapa baik anda memahami konsep ini?

C. Persepsi: Seniman mencatat sensasi warnan sendiri. bukannya menggambar dan sebagaimana kita melihatnya dengan mata.
Diskusikan.
Beri contohnya
Seberapa baik anda memahami konsep ini?
4. Berikan tugas kepada anggota kelompok, misalnya Sebagai fasilitator. pengatur waktu. pencatat atau juru bicara (baca "Sepuluh Alternatif dalam Memilih Ketua Kelompok dan Mengisi Tugas Lain," halaman 33).
5. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dan lakukan salah satu atau beberapa hal berikut ini:
• Membahas materi secara bersama.
• Beri siswa pertanyaan kuis.
• Dapatkan pertanyaannya.balik
• Perintahkan siswa untuk menilai seberapa mereka memahami materi.
• Sediakan latihan penerapan atau kuls bagi siswa untuk menguji pemahaman mereka

VARIASI
1. Jangan membentuk sub-sub kelompok. Baca keras materinya bila seluruh siswa sedang dalam semangat "kelompok kajian kitab sucl." Hentikan membacanya untuk kemudian menjawab pertanyaan siswa, mengalukan pertanyaan anda sendiri, atau menjelaskan naskahnya.
2. Jika jumlah siswanya cukup besar, buatlah empat atau enam kelompok belajar. Pasangkan kelompok-kelompok belajar itu dan mintalah mereka untuk membandingkan catatan dan membantu satu sama lain..

46. Pemilahan Kartu

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan aktivltas kerjasama yang bisa digunaka untuk mengajarkan konsep, karakteiistik klasifikasi fakta tentang benda, atau menilai informasi. Gerak fisik yang ada dl dalammnya dapat membantu menggairah-kan siswa yang merasa penat.
PROSEDUR
1. Beri tiap siswa kartu indeks yang berisi Informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau beberapa ketegori. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Jenis-jenis pohon vs jenis-jenis tumbuhan hijau.
• Karakter dalain berbagai drama Shakespeare.
• Kekuasaan lembaga eksekutif, leglslatif. dan yudikatif pemerintah.
• Gejala-gejala dari beragam penyaklt.
• Informasi yang cocok dengan berbagai bagian re¬sume kerja
• Karakteristik dari berbagai logam.
• Kata benda. kata kerja. kata keterangan, preposis
• Buku-buku karya Dickens, Faulkner, Herningway dan Updike.
2. Perintahkan siswa untuk berkeliling ruangan dan mencari siswa lain yang kartunya cocok dengan yang sama. (Anda dapat mengumurnkan kategorinya cebelumnya atau biarkan siswa menemukannya sendiri)
3. Perintahkan para siswa yang kartunya memiliki kategori sama untuk menawarKan diri kepada siswa lain.
4. Ketika tiap kategori ditawarkan, kemukakan poin-poln nengajaran yang menurut anda penting.

VARIASI
1. Perintahkan tiap kelompok untuk membuat presentasi pengajaran tentang kategorinya.
2. Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berikan tiap tim satu dus kartu. Pastikan bahwa mereka mengocoknya agar kategori-kategori yang cocok dengan mereka tidak jelas di mana letaknya. Perintahkan tiap tim untuk memilah-milah kartu menjadi sejumlah kategori. Tiap tim bisa mendapatkan skor untuk jumlah kartu yang dipilih dengan benar.

47. Turnamen Belajar

URAIAN SINGKAT
Tehnik Ini merupakan versi sederhana dari ”Turnamen permainan-tim," yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya. Tehnik ini menggabungkan kelompok belajar dan kompetisi tim, dan bisa digunakan untuk meningkatkan pembelajaran beragam fakta. konsep, dan ketrampilan.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi sejumlah tim beranggotakan 2 hingga 8 siswa. Pastikan bahwa tim memlliki jumlah yang sama. (Jika ini tidak bisa dilakukan. anda harus merata-ratakan skor dari tiap tim.)
2. Berikan materi kepada tim untuk dipelajari bersama.
3. Buatlah beberapa pertanyaan yang menguji pemahaman dan/atau penglngatan akan materi pelajaran. Gunakan format yang memudahkan penilaian sendlri. misalnya pllihan ganda, mengisi titik-tltik. benar/salah, atau definisi istilah. Dalam pelajaran komputer. misalnya. siswa diberi sejumlah istilah seperti yang berikut ini untuk dipelajari:
Cascade : Cara menata jendela yang terbuka.
Icon : Gambar grafis yang mewakili unsur program.
Multitasking : Kernampuan komputer untuk menjalankan lebih dari satu program secara bersamaan.
Path : Lokasi file dalam cabang direktori.
Server : Sebuah komputer yang menyediakan ruang data atau printer bagi komputerkomputer lain.
Attribute : Informasi tentang file.
4. Berikan sebaglan pertanyaan kepada siswa. Sebutlah ini sebagai "ronde satu" dari tumamen belajar. Tiap siswa harus menjawab pertanyaan secara perseorangan.
5. Setelah pertanyaan diajukan, sediakan jawabannya dan perintahkan siswa untuk menghitung jumlah pertanyaan yang mereka jawab dengan benar. Selanjutnya perintahkan mereka untuk menyatukan skor mereka dengan tiap anggota tim mereka untuk mendapat skor tim. Umumkan skor dari tiap tim.
6. Perintahkan mereka untuk belajar lagi untuk ronde kedua dalam tumamen. Kemudian ajukan pertanyaan tes lagi sebagai bagian dari "ronde kedua." Perintahkan tim untuk sekali lagi menggabungkan skor mereka dan menambahkannya ke skor mereka di ronde pertama.
7. Anda bisa membuat ronde sebanyak yang anda mau, namun pastikan nntuk memberi kesempatan tim untuk nienjalani sesi belajar antar masing-masing ronde.(Lamanya tumamen belajar juga bisa bervariasi. Bisa singkat selama dua puluh menit atau bahkan beberapa jam.)

VARIASI
1. Beri penaiti kepada siswa yang memberi jawaban salah dengan memberi mereka skor minus 2 atau minus 3. Jika mereka tidak yakin dengan jawabannya, lembar jawaban kosong bisa dianggap 0 (nol).
2. Jadikan pemeragaan sejumlah ketrampilan dasar turnamen


48. Kekuatan Dua Orang

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dan menegaskan manfaat dari sinergi yakni, bahwa dua kepala adalah lebih baik daripada satu.

PROSEDUR
1. Berikan siswa satu atau beberapa pertanyaan yang memerlukan perenungan dan pemikiran. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Bagaimanakah tubuh kita mencema makanan?
• Apakah pengetahuan itu?
• Apa "proses yang seharusnya" Itu?
• Bagaimana kemiripan otak manusia dengan komputer?
• Mengapakah hal-hal buruk kadang terjadi pada orang-orang baik?
2. Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan secara perseorangan.
3. Setelah semua siswa menyelesaikan jawaban mereka, Aturlah menjadi sejumlah pasangan dan perintahkan "mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
4. Perintahkan pasangan untuk membuat jawaban baru bagi tiap pertanyaan, memperbaiki tiap jawaban perseorangan.
5. Bila semua pasangan telah menuliskan jawaban baru bandingkan jawaban dari tiap pasangan dengan pasangan lain di dalam kelas.

VARIASI
1. Perintahkan seluruh siswa untuk memlih jawaban terbaik untuk tiap pertanyaan.
2. Untuk menghemat waktu, berikan pertanyaan khusus kepada pasangan tertentu. Bukannya memerintahkan semua pasangan menjawab semua pertanyaan.

49. Kuis Tim

URAIAN SINGKAT
Tehnik tim ini dapat meningkatkan rasa tanggungjawab siswa atas apa yang mereka pelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengancani atau tidak membuat mereka takut.

PROSEDUR
1. Pilihlah topik yang bisa disajikan dalam tiga segmen.
2. Bagilah siswa menjadi tiga tim.
3. Jelaskan format pelajaran dan mulailah penyajian materinya. Batasi hingga 10 menit atau kurang dari itu.
4. Perintahkan Tim A untuk menyiapkan kuls jawaban singkat. Kuis tersebut harus sudah siap dalam tidak lebih dari 5 menit. Tim B dan C menggunakan waktu ini untuk memeriksa catatan mereka.
5. Tim A memberi kuis kepada anggota Tim B. Jlka Tim B tidak dapat menjawab satu pertanyaan, Tim C segera menjawabnya.
6. Tim A mengarahkan pertanyaan berikutnya kepada aggota Tim C, dan mengulang proses tersebut.
7. Ketika kuisnya selesai, lanjutkan dengan segmen kedua dari pelajaran anda, dan tunjuklah Tim B sebagai Pandu kuis.
8. Setelah Tim B menyelesaikan kuisnya, lanjutkan dengah segmen ketiga dari pelajaran anda. dan tunjuk Tim C sebagai pemandu kuis.

VARIASI
1. Berikan tim pertanyaan kuis yang telah dipersiapkan yang darinya mereka memilih kapan mereka mendapat giliran menjadi pemandu kuis.
2. Berikan satu penyajian materi secara kontinyu. Bagilah siswa menjadi dua tim. Pada akhir pelajaran, perintahkan dua tim untuk saling memberi kuis.

Pengajaran sesama siswa
Sebagian pakar percaya bahwa sebuah mata pelajaran haru benar-benar dikuasai ketika si pembelajar mampu mengajarkannya kepada orang lain. Pengajaran sesama siswa memberi siswa kesempatan untuk mempelajari sesuatu dengan balk dan, sekaligus, menjadi narasumber bagi satu sama lain. Strategi-strategi yang berikut ini merupakan cara praktis untuk mengadakan pengajaran sesama siswa di kelas. Strategi ini juga memungkinkan guru untuk memberi tambahan. bila dirasa perlu, pada pengajaran yang dilakukan oleh siswa”.

50. Pertukaran Kelompok dengan Kelompok

URAIAN SINGKAT
Dalam strategi ini, tugas-tugas yang berbeda diberlkan kepada kelompok siswa yang berbeda. Setiap kelompok "mengajarkan" kepada siswa lain apa yang ia pelajari.

PROSEDUR
1. Pllihah topik yang mencakup gagasan. kejadian, pendapat, konsep atau pendekatan yang berbeda. Topik Itu haruslah topik yang mendukung pertukaran pendapat atau informasi (Sebagai ganti debat). Berikut adalah beberapa contohnya:
• Dua pertempuran terkenal selama Perang Saudara (diAmerika).
• Gagasan dari dua atau beberapa penults.
• Tahap-tahap perkembangan anak.
• Beragam cara untuk meningkatkan gisi.
• Beragam sistern operasi untuk komputer.
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah tugas yang diberikan. Pada umumnya kegiatan Ini cocok untuk dua hingga empat kelovw Berikan waktu yang mencukupi kepada tiap kelompok untuk menyiapkan cara mereka menyajikan topik yang ditugaskan kepada mereka. Sebagai contoh, satu kelompok dapat menyajikan sebuah buku karya James Baldwin, dan kelompok berikutnya dapat menyajikan buku karya Toni Morrison.
3. Bila tahap persiapan sudah selesai, perintahkan kelornpok untuk memilih juru bicara. Undang tiap juru hicara untuk memberikan presentasi kepada kelompok lain.
4. Setelah presentasi singkat, doronglah siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang pendapat presenter atau menawarkan pendapat mereka sendirl. Beri kesempatan anggota lain dari kelompok si juru bicara untuk member! tanggapan.
5. Lanjutnya presentasi kelompok lain agar tiap kelompok berkesempatan memberikan informasi dan menjawab serta menanggapi pertanyaan dan komentar audiens. Perbandingkan dan perbedaan pendapat dan informasi yang dipertukarkan. Sebagai contoh, seorang guru melakukan pembandingan antara dua negara sebagaimana disebutkan dalam tugas, dengan menggunakan metoda ini. Satu kelompok diberi tugas mempelajari Costa Rica (yang dikenal sebagai kota negara yang damai) dan kelompok lain diberi tugas mempelajari El Salvador (yang belakangan ini dilanda perang saudara). Setelah maslng-masing kelompok menyajikan budaya dan sejarah negara-negara tersebut, selanjutnya dilakukan diskusi untuk menganalisa mengapa dua negara bertetangga itu memiliki pengalaman yang sebegitu berbeda.

VARIASI
1. Perintahkan kelompok untuk melakukan pembahasan menyeluruh sebelum memberikan presentasi.
2. Gunakan format diskusi panel untuk tiap presentasi kelompok.

51. Belajar ala Permainan Jigsaw

URAIAN SINGKAT
Belajar ala Jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan tehnik yang paling banyak dipraktikkan. Tehnik ini serupa dengan pertukaran kelompok-dengan-kelompok, namun ada satu perbedaan penting:
yakni tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar yang bisa disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa mempelajari sesuatu yang, blla digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau ketrampilan yang padu.

PROSEDUR
1. Pillhlah materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian. Sebuah bagian bisa sependek kalimat atau spanjang beberapa paragraf. (Jika materinya panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum pelajaran.)
Contohnya antara lain:
• Modul berisi beberapa poin penting.
• Bagian-bagian eksperimen ilmu pengetahuan
• Sebuah naskah yang memlliki bagian atau subjudul yang berbeda.
• Sebuah artikel setelah majalah atau jenis materi bacaan pendek yang lain.
2. Hitunglah jumlah bagian yang hendak dipelajari dan jumlah siswa. Bagikan secara adil berbagai tugas kepada berbagai kelompok siswa. Sebagai contoh, bayangkan sebuah kelas yang terdiri dari 12 siswa. Dimisalkan bahwa anda bisa membagi materi pelajaran menjadi tiga segmen atau bagian. Anda mungkin selanjutnya dapat membentuk kuartet (kelompok empat anggota), dengan memberikan segmen 1,2. atau 3 kepada tiap kelompok. Kemudian. perintahkan tiap kuartet atau "kelompok belajar" untuk membaca, mendiskusikan, dan mempelajari materi yang mereka terima. (Jika anda menghen-daki. anda dapat membentuk dua pasang "rekan belajar" terlebih dahulu dan kemudian menggabungkan pasangan-pasangan itu menjadi kuartet untuk berkonsultasi dan saling berbagi pendapat.)
3. Setelah waktu belajar selesai. bentuklah kelompok-kelompok "belajar ala jigsaw." Kelompok tersebut terdiri dari perwakilan tiap "kelompok belajar” di kelas. Dalam contoh yang baru saja diberikan. anggota dari tiap kuar¬tet dapat berhitung mulai dari 1, 2, 3, dan 4. Kemudian bentuklah kelompok belajar jigsaw dengan jumlah yang sama. Hasilnya adalah empat kelompok trio. Dalam masing-masing trio akan ada satu siswa yang telah mempelajari segmen 1, segmen 2, dan segmen 3. Diagram berikut ini menunjukkan urutannya.
4. Perintahkan anggota kelompok "jigsaw" untuk mengajarkan satu sama lain apa yang telah mereka pelajari.
5. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dalam rangka membahas pertanyaan yang masih tersisa guna memastikan pemahaman yang akurat.

VARIASI
1. Berikan tugas baru misalnya menjawab sejumlah pertanyaan yang didasarkan pada pengetahuan yang akumulatif dari semua anggota kelompok belajar jigsaw.
2. Beri siswa tanggung jawab untuk mempelajari ketrampilan, sebgai alternatif dari pemberian informasi kognitif. Perintahkan siswa untuk saling mengajarkan ketrampilan yang telah mereka pelajari.

52. Setiap Siswa Bisa Menjadi Guru Sendiri

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi mudah untuk mendapatkan partisipasi seluruh kelas dan pertanggungjawaban individu. Strategi ini memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk bertldak sebagai "guru" bagi siswa lain.

PROSEDUR
1. Bagikan kartu indeks kepada tiap siswa. Perintahkan siswa untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi belajar yang tengah dipelajari di kelas (misalnya., tugas membaca) atau topik khusus yang ingin mereka diskusikan di kelas. Dalam sebuah pelajaran tentang cerita pendek Amerika, sebagai misal, guru. dapat membuat landasan untuk diskusi kelas tentanq kisah Sheriey Jackson, The Lottery" dengan membagikan kartu indeks dan meminta. siswa menuliskan sebuah pertanyaan yang mereka miliiki tentang kisah tersebut. Berikut adatah beberapa pertanyaan yang ditulis oleh siswa dan kemudian dibagikan kembali kepada seluruh kelas untuk mendapatkan jawabannya:
a. Siapa yang hendak disenangkan oleh penduduk desa dengan diadakannya lotre?
b. Bagaimana ritual lotre bermula?
c. Mengapa setiap orang terus-menerus melemparkan batu?
d. Mengapa Mr Summer yang bertanggungjawab atas lotere Itu?
2. Kumpulkan kartu, kemudlan kocoklah, dan baeik satu-satu kepada siswa. Perintahkan siswa untuk membaca dalam hati pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan jawabannya.
3. Tunjuklah beberapa siswa untuk membacakan kartu yang mereka dapatkan dan memberikan jawabanya.
4. Setelah memberikan jawaban. perintahkan siswa lain untuk memberi tambahan atas apa yang dikemukakan oleh siswa yang membacakan kartunya itu.
5. Lanjutkan prosedur ini blla waktunya memungklnkan.

VARIASI
1. Peganglah kartu-kartu yang telah anda kumpulkan. Buatlah sebuah panel responden. Baca tiap kartu dan perintahkan untuk didiskusikan. Gilirlah anggota panel sesering mungkin.
2. Perintahkan siswa untuk menuliskan pendapat atau hasll pengamatan mereka tentang materi pelajaran pada kartu. Perintahkan siswa lain untuk mengungkapkan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap pendapat atau pengamatan tersebut

53. Pemberian Pelajaran Antar Siswa

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di dalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggungjawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok. Buatlah sub-sub kelompok dengan jumlah yang sesuai dengan topik yang akan diajarkan.
2. Beri tiap kelompok sejumlah informasi, konsep, atau ketrampilan untuk diajarkan kepada siswa lain. Berikut adalah beberapa contoh topiknya:
• Susunan paragraf yang efektif
• Mekanisme pertahanan psikologis
• Memecahkan teka-teki matematika
• Penyebaran AIDS
Topik yang anda berikan kepada siswa harus saling berkaitan.
3. Peritahkan tiap kelompok untuk menyusun cara dalam menyajikan atau mengajarkan topik mereka kepada slswa lain. Sarankan mereka untuk menghindari cara , mengajar sistem ceramah atau semacam pembacaan laporan. Doronglah mereka untuk menjadikan pengalarnan belajar sebagai pengalaman yang aktif bagi siswa.
4. Kemukakan beberapa saran sebagai berikut:
• Sediakan media visual.
• Buatiah lakon pemeragaan (jika memungkinkan)
• Gunakan contoh dan/atau analogi untuk mengemukakan poin-poin pengajaran.
• Libatkan siswa melalui diskusi. permalnan kuis tugas menulis, sandiwara, imajinasi mental, atau studi kasus.
• Beri siswa kesempatan untuk mengajukan per-tanyaan.
Sebagai contoh. seorang guru memberikan tugas kepada siswa dalam pelajaran soslologi untuk menyusun presentasi tentang empat isu utama penuaan. Empat sub kelompok dibentuk dan pilihlah format berikut untuk pengajaran sesama siswa:
• Proses Penuaan: permainan kuis benar/salah tentang fakta-fakta penuaan.
• Aspek-aspek Fisik Penuaan: Sebuah simulasi tentang aspek-aspek umum penuaan (misalnya, radang sendi, berkurangnya pendengaran, penurunan daya lihat).
• Stereotip tentang Penuaan: Tugas menulis dimana anggota kelas menulis tentang persepsi masyarakat mengenai penuaan.
• Hilangnya kemandirian: Sebuah latihan drama yang melibatkan anak-anak yang membicarakan transisi dengan orang tuanya.
Anda juga dapat memilih beberapa metode dari buku ini sebagai strategi pengajaran
5. Berikan waktu yang mencukupi untuk merencanakan dan mempersiapkannya (bai di dalam maupun di luar kelas). Kemudian perintahkan tiap kelompok untuk menyajikan pelajaran mereka. beri tepuk tangan atas usaha keras mereka.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari pengajaran kelompok, perintah¬kan siswa untuk mengajar atau memberi bimbingan kepada siswa lain secara individual atau dalam kelom¬pok kecil.
2. Beri kesempatan tiap kelompok untuk memberi siswa. tugas membaca sebelum memulai pelajaran mereka.


54. Studi Kasus Bikinan-Siswa

URAIAN SINGKAT
Studi kasus diakui secara luas sebagai salah satu metoda belajar terbaik. Diskusi kasus pada umumnya berfokus pada persoalan yang ada dalam situasi atau contoh konkret. Tindakan yang mesti diambil dan pelajaran yang bisa dipetik, serta cara-cara menangani atau menghindari situasi semacam itu di masa mendatang. Tehnik-tehnik yang berikut ini memungkinkan siswa untuk membuat studi kasus mereka sendiri.

PROSEDUR
1. Bagilah kelas menjadi pasangan atau trio. Perintahkan mereka untuk membuat studi kasus yang bisa di¬analisis dan didiskusikan oleh siswa lain.
2. Jelaskan bahwa tujuan dan sebuah studi kasus adalah mempelajari sebuah topik dengan mengkaji situasi atau contoh konkret yang mencerminkan topik itu. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Sebuah syair Jepang bisa ditulis untuk menunjukkan cara niembacakannya.
• Sebuah resume aktual bisa dianalisis untuk mem¬pelajari cara menulis resume.
• Sebuah laporan tentang cara seseorang melakukan eksperimen ilmiah bisa didiskusikan untuk mem¬pelajari tentang prosedur ilmiah.
• Sebuah dialog antara seorang manajer dan karyawan bisa ditelaah untuk mempelajari cara memberikan dukungan positif.
• Sejumlah langkah yang diambil oleh orang tua dalam situasi konflik dengan seorang anak bisa dikaji untuk mempelajari cara menangani perilaku.
3. Sediakan waktu yang mencukupi bagi pasangan atau trio untuk membuat situasi kasus singkat yang mengandung contoh atau isu untuk didiskusikan atau sebuah persoalan untuk dipecahkan yang relevah dengan materi pelajaran di kelas.
Sebagai misal, dalam pelajaran sejarah Amerika abad ke-20, guru dapat memilih tiga peristiwa sejarah yang berbeda fcetika Amerika Serikat menginteruensi negara lain. Guru memberi tugas berupa satu. peristiwa sejarah kepada tiap pasangan siswa agar masing-masing dapat membuat studi kasus untuk meninjau kebanyakan luar negeri Amerika.

Studi kasus ini antara lain:
1. Invasi Teluk Babi
2. Intervensi tentara di Vietnam
3. Penugasan tentara ke Somalia

Tiap pasangan selanjutnya menuliskan studi kasus intisari yang secara khusus memerinci kejadian-kejadian yang mengarah kepada keputusan untuk mengirimkan tentara AS ke luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan untuk dianalisis antara lain:
• Apakah alasan utama intervensi AS?
• Seberapa tahukah khalayak AS tentang keputusan itu?
• Siapakah yang mengambil keputusan itu?
• Apa saja presiden yang mengawali munculnya kebijakan luar negeri AS?
4. Bila studi kasus ini selesai, perintahkan kelompok untuk menyajikannya kepada siswa lain. Beri kesempatan anggota kelompok untuk memimpin diskusi kasus.

VARIASI
1. Tunjuk beberapa orang siswa untuk telah terlebih dahulu menyiapkan studi kasus untuk siswa lain. (Penyiapan sebuah studi kasus merupakan tugas belajar yang baik.)
2. Buatlah beberapa kelompok dalam Jumlah genap. Pasangkan kelompok dan perintahkan mereka untuk bertukar studi kasus.

55. Pemberitaan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara menarik untuk melibatkan siswa dan memancing minat mereka terhadap topik pelajaran sebelum mereka mengikuti pelajaran. Pendekatan pengajaran sesama siswa ini juga akan menghasilkan banyak materi dan informasi yang bisa diceritakan antarsiswa.

PROSEDUR
1. Perintahkan siswa untuk membawa artikel, penggalan berita, editorial, dan kartun yang terkait dengan topik pelajaran. Sebagai contoh, seorang guru dapat meminta agar siswa membawa berita koran atau majalah tentang cuaca, misalnya pembahasan tentang pemanasan glo¬bal.
2. Bagilah kelas menjadi sub-sub kelompok dan perintah¬kan mereka untuk saling berbagi penggalan berita dan pilihlah dua atau tiga yang paling menarik.
3. Perintahkan seluruh siswa untuk kembali ke posisi semula dan perintahkan perwakilan dari tiap kelompok untuk berbagi pilihan mereka dengan siswa lain.
4. Ketika kelompok-kelompok memberikan laporan, dengarkan poin penting yang akan anda bahas dalam kelas dan gunakan informasi itu untuk menyemarakkan diskusi.

VARIASI
1. Kumpulkan semua unsur berita dari siswa, saliniah, dan bagikan kembali kepada mereka sebagai tindak an untuk sesi pelajaran. Atau perintahkan siswa untuk menyerahkan penggalan berita mereka sebelum pelajaran dimulai. Anda selanjutnya dapat menyalinnya dan mengirimkannya kepada semua siswa sebagai tugas bacaan.
2. Gunakan butir-butir berita itu sebagai studi kasus atau naskah dasar latihan sandiwara.


56. Poster

URAIAN SINGKAT
Metoda presentasi alternatif ini merupakan cara yang bagus untuk memberi Informasi kepada siswa secara cepat, memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran gagasan antarmereka. Tehnik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang tengah anda diskusikan dalam suasana santai.

PROSEDUR
1. Perintahkan setiap siswa untuk memilih sebuah topik yang berkait dengan topik pelajaran umum atau sub bahasan yang tengah didiskusikan.
2. Mintalah siswa untuk memajang konsep mereka pada papan poster atau papan buletin. (Anda yang menentukan ukurannya.) Tampilan poster mesti dengan sendirinya menunjukkan isinya; yakni, begitu melihatnya orang dengan mudah memahami gagasannya tanpa perlu Penjelasan leblh lanjut, baik lisan maupun tertulis. Namun demikian, siswa juga boleh menyiapkan satu halaman penjelasan yang berisi uraian lebih rinci dan sekaligus sebagai materi rujukan lebih lanjut.
3. Selama berlangsungnya pelajaran yang telah ditentukan, perintahkan siswa untuk menempelkan sajian materi visual mereka dan berkeliling mengitari ruangan untuk mengamati dan mendiskusikan poster masing-masing. Sebagai contoh, dalam pembahasan tentang stress pada pelajaran kesehatan, topik-topik yang diberikan mencakup yang berikut ini:
• Penyebab stres
• Gejala-gejala stres
• Pengaruh stres terhadap diri sendiri dan orang lain
• Pereda stres
Salah seorang siswa menggambarkan gejala stres dengan membuat tampilan poster yang menunjukkan gambar-gambar berikut:
• Orang kelebihan berat badan yang berdiri pada timbangan
• Orang meminum minimum beralcohol
• Dua orang bertengkar
• Orang sakit kepala
Di bawah tiap gambar diberi paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa orang stres dapat menunjukkan gejala-gejala yang digambarkan itu.
4. Lima belas menit sebelum berakhirnya pelajaran, perintahkan seluruh siswa untuk kembali ke posisi semula dan mendiskusikan apa yang menurut mereka berharga pada kegiatan tersebut.

VARIASI
1. Anda dapat memilih untuk membentuk tim beranggotakan dua atau tiga, sebagai alternatif dari penugas individual, terutama jika topiknya memiliki lingkup yang terbatas.
2. Tindaklanjuti sesi poster dengan diskusi panel, dengan menggunakan beberapa siswa yang memajang poster-poster tersebut Sebagai panelis.

Belajar Secara Mandiri
Belajar bersama dan belajar dalam satu kelas penuh bisa ditingkatkan dengan aktivitas belajar mandiri. Ketika siswa belajar dengan caranya sendiri, mereka mengembangkan kemampuan untuk memfokuskan diri dan merenung. Bekerja dengan cara mereka sendiri juga memberi siswa kesempatan untuk memikul tanggung jawab pribadi atas apa yang mereka pelajari. Strategi yang berikut ini merupakan perpaduan tehnik-tehnik yang bisa digunakan di dalam dan di luar kelas.

57. Imajinasi

URAIAN SINGKAT
Melalul imaji visual, siswa dapat menciptakan gagasan mereka sendiri. Imaji cukup efektif sebagai suplemen kreatif dalam belajar bersama. Cara ini juga bisa berfungsi sebagai papan loncat menuju proyek atau tugas independen yang pada awalnya mungkin tampak membuat siswa kewalahan.

PROSEDUR
1. Perkenalkan topik yang akan dibahas. Jelaskan kepada siswa bahwa mata pelajaran ini menuntut kreativitas dan bahwa penggunaan imaji visual dapat membantu upaya mereka.
2. Perintahkan siswa untuk menutup mata, Perkenalkan latihan relaksasi yang akan membersihkan pikiran-pikiran yang ada sekarang dan benak siswa. Gunakan musik latar, lampu temaram, dan pernafasan untuk bisa mencapai hasilnya.
3. Lakukan latihan pemanasan untuk membuka “mata batin” mereka. Perintahkan siswa, dengan mata mereka tertutup, untuk berupaya menggambarkan apa yang terlihat dan apa yang terdengar, misalnya ruang tidur mereka, lampu lalulintas sewaktu berubah wama, dan rintik hujan.
4. Ketika para siswa merasa rileks dan terpanaskan (setelah latihan pemanasan), berikanlah sebuah imaji untuk mereka bentuk. Saran-sarannya meliputi:
• Pengalaman masa depan
• Suasana yang asing
• Persoalan untuk dipecahkan
• Sebuah proyek yang menanti untuk dikenakan
Sebagai contoh, seorang guru membantu siswa menyiapkan sebuah wawancara kerja. Siswa diberi pertanyaan berikut ini:
• Apa yang kamu kenakan?
• Jam berapakah sekarang?
• Seperti apa sih kantor itu?
• Kursi seperti apakah yang kamu duduki itu?
• Di manakah posisi duduk si pewawancara?
• Seperti apakah si pewawancara itu?
• Apa yang kamu. rasakan?
• Apa yang ditanyakan pewawancara kepada kamu?
• Bagaimana kamu menjawabnya?
5. Sewaktu menggambarkan imajinya, berikan selang waktu hening secara reguler agar siswa dapat membangun Imaji visual mereka sendiri. Buatlah pertanyaan yang mendorong penggunaan semua indera, semisal;
• Seperti apakah rupanya?
• Siapa yang kamu lihat? Apa yang mereka lakukan?
• Apa yang kamu rasakan?
6. Akhiri pengarahan imaji dan instruksikan siswa untuk mengingat Imaji mereka. Akhiri latihan itu dengan perlahan.
7. Perintahkan siswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan berbagi pengalaman imaji mereka Perintahkan mereka untuk menjelaskan imaji mereka satu sama lain dengan menggunakan sebanyak mungkin penginderaan. Atau perintahkan mereka untuk enuliskan apa yang mereka imajinasikan.

VARIASI
1. Setelah siswa mengingat kembali bagaimana mereka akan bertindak dalam situasi tertentu, perintahkan mereka untuk merencanakan bagaimana mereka akan benar-benar bertindak berdasarkan apa yang mereka pikirkan.
2. Lakukan latihan Imaji di mana siswa mengalami kegagalan. Selanjutnya perintahkan mereka untuk membayangkan atau mengimajinaslkan sebuah keberhasilan.


58. Menulis Di Sini dan Saat Ini

URAIAN SINGKAT
Aktivitas menulis memungkinkan siswa untuk memikirkan pengalaman yang mereka miliki. Sebuah cara dramatis untuk meningkatkan perenungan secara mandiri adalah dengan meminta siswa menuliskan laporan tindakan kala kini (present tense) tentang sebuah pengalaman yang mereka miliki (seakan itu terjadi di sini dan sekarang).

PROSEDUR
1. Pilihlah jenis pengalaman yang anda ingin siswa menuliskannya. Pengalaman itu bisa dari masa lalu atau masa depan. Di antara kemungkinannya adalah:
• Persoalan sekarang.
• Acara keluarga.
• Hari pertama menjalani pekerjaan baru.
• Penyajian materi.
• Pengalaman dengan seorang teman.
• Situasi belajar.
2. Jelaskan kepada siswa tentang pengalaman yang anda pilih untuk tujuan penulisan perenungan. Katakan pada mereka bahwa cara yang balk untuk merenungkan sebuah pengalaman adalah dengan menghidupkannya 5 kembali atau mengalaminya untuk pertama kalinya di dini dan sekarang juga. Cara ini akan menimbulkan dampak yang lebih jelas dan lebih dramatis ketimbang menulis tentang sesuatu "di suatu tempat dan dahulu" atau dalam waktu yang kelak akan datang.
3. Sediakan kertas yang putih bersih untuk menulis. Pintakan privasi dan suasana hening.
4. Perintahkan siswa untuk menulis, dalam kala kini (present tense), tentang pengalaman yang telah dipilih. Perintahkan mereka untuk memulai dari awal pengalaman dan menuliskan apa yang mereka dan orang lain alami dan rasakan, semisal, "Aku berdiri di depan teman-teman sekelas untuk menyajikan materi. Aku benar-benar ingin terlihat percaya diri. . ." perintahkan siswa untuk menulis sebanyak yang mereka suka tentang kejadian yang berlangsung dan perasaan yang ditimbulkan.
5. Beri waktu yang cukup untuk menulis. Siswa jangan sampai merasa diburu waktu. Bila sudah selesai, perintahkan mereka untuk membaca hasil renungan mereka di sini dan sekarang.
6. Diskusikan tindakan-tindakan baru apa yang mungkin akan mereka ambil di masa mendatang.

VARIASI
1. Untuk membantu siswa mendapatkan kegairahan dalam menulis imajinatif, pertama-tama lakukan latihan imajinasi mental atau laksanakan diskusi kelompok yang relevan dengan topik yang anda tugaskan kepada mereka.
2. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang yang telah mereka tulis. Salah satu alternatifnya adalah dengan memerintahkan sejumlah siswa untuk membacakan karya mereka yang sudah rampung. Alternatif yang kedua adalah dengan meminta pasangan untuk saling bercerita tentang apa yang mereka tulis.

59. Peta Pikiran

URIAN SINGKAT
Pemetaan pikiran merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, atau merencanakan tugas baru. Meminta siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau apa yang tengah mereka rencanakan.

PROSEDUR
1. Pilihlah topik untuk pemetaan pikiran. Beberapa kemungkinannya antara lain:
• Sebuah masalah atau isu yang anda ingin siswa membuatkan gambaran penanganannya.
• Sebuah konsep atau ketrampilan yang telah anda ajarkan.
• Sebuah tugas yang mesu direncanakan penyelesaiannya oleh siswa.
2. Buatkan sebuah peta pikiran sederhana untuk siswa dengan menggunakan warna, gambar, atau simbol. Salah satu contohnya adalah perjalanan ke toko grosir dimana seseorang berbelanja berdasarkan peta pikiran yang mengkategorikan butir-butir yang diperlukan sesuai dengan konter di mana barang belanjaan itu dapat dijumpai (misalnya, konter produk susu, produk alami, dan makanan beku). Jelaskan bagaimana warna gambar, dan simbol dalam peta pikiran anda meningkatkan seluruh kerja pikiran (versus pemikiran otak kiri kanan). Perintahkan siswa untuk menyisipkan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari mereka yang dapat mereka buatkan peta pikirannya.
3. Sediakan kertas, spidol, dan materi sumber lain yang menurut anda akan membantu siswa menciptakan peta pikiran yang semarak dan cerah. Tugaskan siswa untuk membuat pemetaan pikiran. Sarankan agar mereka memulai peta mereka dengan membuat sentra gambar yang menggambarkan topik atau gagasan utamanya. Selanjutnya. doronglah mereka agar memecah keseluruhannya menjadi unsur-unsur yang lebih kecil dan menggambarkan unsur-unsur ini di sekeliling peta (menggunakan warna dan grafis). Perintahkan mereka untuk mengungkapkan tiap gagasan menggunakan gambar, dengan menyertakan sedikit mungkin kata-kata. Setelah itu. mereka dapat memerincinya di dalam pikiran mereka.
4. Sediakan waktu yang banyak bagi siswa untuk menyusun peta pikiran mereka. Sarankan mereka untuk melihat karya siswa lain guna mendapatkan gagasan.
5. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang peta pikira mereka. Lakukan diskusi tentang manfaat dari cara pengungkapan gagasan kreatif ini.

VARIASI
1. Berikan tugas pembuatan peta pikiran dalam tim, sebagai alternatif dari pembuatan peta pikiran secara perseorangan.
2. Gunakan komputer untuk membuat peta pikiran.

60. Belajar Sekaligus Bertindak

URAIAN SINGKAT
Belajar sekaligus bertindak memberi siswa kesempatan untuk mengalami penerapan topik dan isi materi yang dipelajari atau didiskusikan di kelas dalam situasi kehidupan sesungguhnya. Sebuah proyek luar-kelas menghadapkan mereka pada cara penemuan dan memungkinkan mereka untuk menjadi kreatif dalam bertukar pendapat tentang penemuan mereka dengan sesama siswa. Keunggulan dari kegiatan ini adalah bahwa ia bisa digunakan dengan mata pelajaran apapun.

PROSEDUR
1. Perkenalkan topik kepada siswa dengan menyediakan sejumlah informasi pendukung melalui pengajaran berbasis-ceramah singkat dan diskusi kelas.
2. Jelaskan bahwa anda akan memberi mereka kesempatan untuk mengalami kejadian seputar topik pelajaran untuk pertamakali dengan melakukan "kunjungan lapangan" menuju situasi kehidupan sesungguhnya.
3. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok beranggotakan empat hingga lima orang dan perintahkan mereka untuk menyusun sebuah daftar pertanyaan dan/atau hal khusus yang mesti mereka cari selama “kunjungan lapangan."
4. Perintahkan sub-sub kelompok untuk menempelkan butir-butir pertanyaan mereka dan berbagi pendapat tentangnya dengan siswa lain.
5. Para siswa akan mendiskusikan butir-butir itu dan menyusun daftar umum untuk digunakan oleh setiap siswa.
6. Beri siswa tenggat waktu (misalnya satu minggu) dan arahkan mereka untuk mengunjungi lokasi atau beberapa lokasi dan menggunakan daftar pertanyaan untuk mewawancarai atau mengamati. Mereka boleh memilih tempatnya, atau anda mungkin perlu membuat penugasan khusus untuk menghindari duplikasi atau agar terfadi persebaran siswa secara merata. Sebagai contoh. siswa dapat diminta untuk mengunjungi tempat-tempat usaha semisal toko eceran, restoran cepat saji, hotel atau bengkel mobil. Mereka selanjutnya mengun¬jungi tempat-tempat usaha ini sebagai pelanggan untuk mengetahui bagaimana pelayanan terhadap mereka.
7. Pertanyaan-pertanyaannya harus spesifik dan memungkinkan untuk dilakukan pembandingan dengan temuan sesama siswa.
Sebagai contoh, butir-butir pengamatan berikut ini cocok dengan layanan konsumen:
• Berapa lamakah waktu yang diperlukan karyawan untuk melayani pelanggan?
• Apakah karyawan itu tersenyum?
• Apakah karyawan itu sopan dan ramah?
• Apakah karyawan itu mengajukan pertanyaan terbuka untuk memahami persoalannya? Apakah karyawan Itu menggunakan tehnik mendengarkan aktif? Beri contohnya.
• Apakah karyawan itu memberikan pemecahan masalah?
• Apakah kamu, selaku pelanggan, senang dengan pengalaman Itu? Mengapa demikian, atau mengapa tidak demikian?
5. Perintahkan siswa untuk berbagi temuan mereka dengan siswa lain melalui sejumlah metoda kreatif (misalnya, dengan drama atau peragaan singkat, wawancara bohong-bohongan, diskusi panel atau permainan).

VARIASI
1. Anda mungkin perlu membentuk tim beranggotakan dua atau tiga siswa sebagai alternatif dari pemberian tugas individual.
2. Sebagai ganti penugasan seluruh siswa untuk menyu¬sun sebuah daftar pertanyaan atau garis-garis besar pengamatan, tiap siswa dapat membuat daftar mereka sendiri.

61. Jurnal Belajar

URAIAN SINGKAT
Bila siswa diminta untuk menggambarkan secara tertulis pengalaman belajar yang telah mereka jalani mereka akan terdorong untuk menyadari apa yang mereka alami dan mampu mengungkapkan secara tertulis. Tehnik yang banyak digunakan dalam hal ini adalah jurnal belajar, sebuah catatan reflektif atau diari yang dibuat oleh siswa dari hari ke hari.

PROSEDUR
1. Jelaskan kepada siswa bahwa pengalaman tidak mesti merupakan guru terbaik dan bahwa sangatlah penting untuk merenungkan kembali pengalaman guna menyadari pelajaran apa yang kita dapatkan dari pengalaman itu.
2. Perintahkan siswa untuk membuat jurnal tentang refleksi dan pembelajaran mereka.
3. Sarankan agar mereka menulis, dua kali seminggu, sebagian dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang hal-hal yang mereka pelajari. Katakan pada mereka untuk mencatat semua komentar itu sebagai catatan pribadi (tanpa khawatir dengan kesalahan eja tata bahasa, dan tanda baca).
4. Perintahkan siswa untuk berfokus pada beberapa semua kategori berikut ini:
• Apa yang belum jelas bagi mereka atau apa yang mereka tidak setujui.
• Bagaimana kaitan antara pengalaman belajar dengan kehidupan pribadi mereka.
• Bagaimana pengalaman belajar terrefleksikan dalam hal-hal lain yang mereka baca, lihat dan kerjakan.
• Apa yang telah mereka amati tentang diri mereka dan orang lain semenjak merasakan pengalaman belajar.
• Apa yang mereka petik dari pengalaman belajar. Apa yang hendak mereka kerjakan sebagai hasil dari pengalaman belajar.
5. Kumpulkan, baca, dan komentari jumal tersebut secara berkala agar siswa menjadi merasa bertanggungjawab untuk menyimpannya dan agar anda dapat menerima umpan balik tentang hasil belajar mereka.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari pemberian buku catatan kosong, siswa bisa disediakan formulir terstruktur untuk menyusun entri jurnal mereka.
2. Perintahkan siswa untuk menulis selama pelajaran langsung, bukannya setelah selesai pelajaran.

62. Kontrak Belajar

URAIAN SINGKAT
Belajar yang timbul dan keinginan sendiri acapkali lebih mendalam dan lebih permanen ketimbang belajar yang diarahkan oleh guru. Namun demikian, anda mesti memastikan bahwa kesetujuan terhadap apa dan bagaimana sesuatu akan dipelajari haruslahjelas. Salah satu cara untuk mewujudkan hal ini adalah dengan kontrak belajar.

PROSEDUR
1. Perintahkan tiap siswa untuk mernilih sebuah topik yang dia ingin pelajari sendiri.
2. Sarankan tiap siswa untuk berfikir cermat melalui rencana belajar. Berikan waktu yang banyak untuk riset dan konsultasi dalam menyusun rencana.
3. Mintalah siswa untuk menulis kontrak yang mencakup kategori-kategori berikut ini:
• Tujuan belajar yang ingin dicapai siswa.
• Pengetahuan atau ketrampilan khusus yang mesti dikuasai.
• Kegiatan belajar yang akan dilakukan.
• Bukti yang akan diajukan siswa untuk menunjukkan bahwa tujuan itu telah tercapai.
• Tanggal penyelesaian.
Berikut ini adalah sebuah kontrak yang dibuat oleh siswa yang ingin mengerjakan resumenya.
Topik: Mengungkapkan diri saya dengan baik secara tertulis.
Tujuan pembelajaran: Memilih format yang tepat.
Memadatkan empat halaman menjadi dua.
Menulis tujuan karier yang lebih jelas.
Aktivitas pembelajaran: Meninjau resume sampel.
Memilih sampel yang saya suka dan mengomentarinya.
Menyiapkan tulisan berdasarkan kritikan guru.
Menulis ulang bila perlu.
Menyerahkan salinan kepada tiga siswa dan meminta komentar mereka.
Menyiapkan resume akhir.
Tanggal penyelesaian: Dalam dua minggu.
4. Temui siswa dan diskusikan kontrak yang diajukan. Sarankan materi belajar yang ada kepada siswa. lcarakan perubahan yang Ingin anda lakukan.


VARIASI
1. Buatlah kontrak belajar kelompok, sebagai alternatif dari kontrak belajar individu.
2. Sebagai alternatif dari pemberian kebebasan memilih, pilihkan topik dan tujuan untuk siswa atau tawarkan pilihan yang terbatas. Namun demikian. berikan pilihan yang banyak tentang cara mempelajari topik itu.

Belajar yang Efektif
Aktivitas belajar yang efektif membantu siswa mengenali perasaan, nilai-nilai, dan sikap mereka. Topik yang paling tehnis sekalipun melibatkan belajar yang efektif. Sebagai contoh, apa gunanya kemampuan menggunakan komputer jika siswa cemas dan tidak yakin dengan diri sendiri ketika mereka menggunakan komputer? Strategi yang berikut ini dirancang untuk menimbulkan kesadaran akan perasan, nilai-nilai, dan sikap yang menyertai banyak topik kelas. Strategi ini dengan halus mendesak siswa untuk mengenali keyakinan mereka dan bertanya pada diri sendiri apakah mereka memiliki komitmen terhadap cara-cara baru dalam mengerjakan segala hal.


63. Mengetahui yang Sebenarnya

URAIAN SINGKAT
Acapkali, sebuah topik dapat menlngkatkan pemahaman dan kepekaan terhadap orang atau situasi yang tidak akrab bagi siswa. Salah satu cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menciptakan aktivitas efektif yang menstimulasi keingintahuan tentang seperti apa sebenarnya orang atau situasi yang kurang akrab tersebut.

PROSEDUR
1. Pilihlah tipe orang atau situasi yang anda ingin siswa mempelajarinya. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Seperti apa rasanya berada di kalangan minoritas.
• Seperti apa rasanya berada dalam periode waktu yang berbeda dalam sejarah.
• Seperti apa rasanya menjadi orang yang berasal dan budaya yang berbeda.
• Seperti apa rasanya menjadi orang yang memiliki persoalan atau tantangan pelik.
2. Buatlah cara untuk mensimulasikan orang atau situasi itu. Di antara cara-cara untuk melakukannya adalah sebagai berikut:
• Perintahkan siswa untuk berbusana seperti yang dikenakan oleh orang-orang dalam situasi itu. Atau perintahkan mereka untuk menangani peralatan, perkakas, aksesoris, atau barang-barang milik lainnya dari orang atau situasi itu atau dengan terlibat dalam kegiatan tertentu yang biasa dilakukan orang itu.
Sebagai contoh, kondisikan siswa pada proses normal penuaan dengan memberi mereka kacamata yang berlumuran noda pelembab, membawa kacang buncis dalam keranjang, katun pembersih telinga, dan mengenakan kaus kaki bersepatu sandal. Kemudian perintahkan mereka untuk mengambil pensil dan kertas dan menuliskan nama mereka, alamat dan nomor telepon, atau untuk berjalan-jalan ke luar ruang kelas, membuka pintu, dan mencari-cari jalan.
• Tempatkan siswa dalam situasi di mana mereka diharuskan merespons sesuai peran yang harus mereka mainkan.
• Gunakan analogi dalam membuat simulasi: Buatlah sebuah skenario yang tidak terlalu asing bagi siswa yang isinya menjelaskan situasi yang tidak begitu mereka kenal. Sebagai contoh, anda dapat meminta seluruh siswa yang kidal untuk menggambarkan seorang yang secara budaya berbeda dari siswa yang lain.
• Tirukan gerak-gerik seseorang dan perintahkan siswa untuk mewawancarai anda dan mencari tahu tentang pengalaman, pandangan dan perasaan anda. Sebagai contoh, seorang guru sains (Kate Brooks) Berpakaian seperti Galileo dan menyajikan drama tentang kehidupannya dan dilema etika yang dia (Galileo) hadapi. Musik jaman renaisans dimainkan dan lilin dinyalakan di planetarium, sementara Galileo mendapatkan temuan dengan teleskop. Drama Itu berakhir dengan dihukumnya galileo dan upayanya untuk mempertahankan ajarannya. Pada akhir drama itu, siswa menulis sebuah esai tentang persoalan etika yang dihadapi Galileo, memberikan pandangan mereka tentang keputusan Galileo, dan menebak apa yang akan mereka lakukan.
3. Tanyakan kepada siswa bagaimana rasanya simulasi tersebut. Diskusikan pengalaman sewaktu mengenakan sepatu orang lain. Perintahkan siswa untuk mengenali tantangan yang dimunculkan oleh orang atau situasi yang tidak begitu mereka kenal.

VARIASI
1. Jika memungkinkan, lakukan pertemuan nyata dengan situasi atau orang yang tidak mereka kenal akrab.
2. Buatlah pengalaman imaji mental dl mana siswa memvisualkan orang atau situasi yang tidak mereka kenal akrab.


64.Pemeringkatan pada Papan Pengumuman

URAIAN SINGKAT
Banyak materi belajar yang tidak mengandung muatan benar atau salah. Ketika terdapat nilal-nilai, opini, gagasan, dan preferensi tentang topik yang anda ajar-kan, aktivitas ini bisa digunakan untuk menstimulasi pemikiran dan diskusi.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok beranggotakan empat hingga enam orang.
2. Berikan kepada siswa daftar yang berisi salah satu dari yang berikut ini:
• Nilai-nilai yang mereka pegang (misalnya, 1. Loyalitas, 2. ... dll)
• Opini yang mungkin mereka dukung (misalnya, 1. Pencegahan kejahatan. harus menjadi perhatian utama bangsa kita, 2. .....dll)
• Solusi alternatif atas suatu masalah (misalnya. Hematlah energi dengan 1. Berkendara secara 3 in 1. 2. .... dll)
• Pilihan keputusan yang mereka atau orang lain hadapi (misalnya, 1. Melegalkan narkoba, 2. .... dll)
• Atribut yang mereka kehendaki (misalnya, l tampil menawan. 2. .... dll)
• Preferensi yang mereka miliki (misalnya, I. Edgar Allan Poe, 2……,dll)
Sebagai contoh. siswa dapat ditanya sifat apa yang mereka harapkan ada pada seorang teman: bisa diandalkan, lucu, keren, pengertian, dll)
4. Berikan tiap kelompok buku bloknot. Perintahkan mereka untuk menuliskan tiap butir dalam daftar itu pada kertas terpisah.
5. Buatlah "papan pengumuman" dimana sub-sub kelompok dapat memajang preferensi urutan peringkat mereka. (kertas Bloknote boleh ditempelkan pada papan tulis. whiteboard, atau pada kertas karton lebar.)
6. Bandingkan dan bedakan pemeringkatan antar kelom¬pok yang kini dipajang.

VARIASI
1. Upayakan untuk mencapai konsesus seluruh siswa.
2. Perintahkan siswa untuk mewawancarai anggota kelompok yang peringkatnya berbeda dengan peringkat mereka.


65. Apa? Lantas Apa? Dan Sekarang Bagaimana?

URAIAN SINGKAT
Nilai dari aktivitas belajar eksperiensial akan meningkat dengan meminta siswa untuk merenungkan kembali pengalaman yang baru mereka alami dan menggali implikasinya. Periode perenungan ini seringkali disebut sebagai pengolahan atau debriefing (pewawancaraan-pentanyajawaban). Sebagian kalangan pendidik kini menggunakan istilah harvesting (pemanenan). Berikut adalah urutan tiga tahap untuk memanen pengalaman yang kaya akan pembelajaran.

PROSEDUR
1. Kondisikan siswa ke dalam pengalaman yang sesuai dengan topik yang anda ajarkan. Pengalaman-pengalaman ini dapat mencakup yang berikut ini:
• Permainan atau latihan simulasi
• Kunjungan lapangan Tayangan Video
• Proyek belajar praktik
• Debat
• Drama
• Latihan imaji mental
2. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang apa yang terjadi pada mereka selama latihan tersebut:
• Apa yang mereka lakukan?
• Apa yang mereka amati? Pikirkan?
• Apa yang mereka rasakan selama latihan itu?
3. Selanjutnya, perintahkan siswa untuk bertanya pada diri sendiri, "Lantas, bagaimana?"
• Manfaat apa yang mereka dapatkan dari latihan itu?
• Apa yang mereka pelajari? Dan Pelajari kembali?
• Apa implikasi dari aktivitas itu?
• Bagaimanakah kaitan antara pengalaman itu (jika itu berupa simulasi atau drama) dengan dunia nyata?
4. Terakhir, perintahkan siswa untuk memikirkan "Sekarang bagaimana? "
• Bagaimana kalian ingin melakukan sesuatu secara berbeda di masa mendatang?
• Bagaimana kalian dapat memperluas pembelajaran yang kalian dapatkan?
• Langkah-langkah apa yang dapat kallan ambil untuk menerapkan apa yang telah kalian pelajari?

VARIASI
1. Batasi diskusi pada "'Apa?" dan "Lantas bagaimana?"
2. Gunakan kedua pertanyaan ini untuk menstimulir penulisan jurnal (lihat strategi 61, "Jurnal Belajar").


66. Penilaian-Diri secara Aktif

URAIAN SINGKAT
Melalui metoda ini, siswa mampu berbagi sikap mereka tentang sebuah mata pelajaran melalui penilaian-diri. Metoda ini memungkinkan guru untuk mengukur perasaan dan keyakinan siswa, dan berfungsi sebagai papan loncat bagi diskusi kelas.

PROSEDUR
1. Buatlah sebuah daftar pernyataan yang akan dibacakan kepada siswa untuk menilai sikap dan perasaan mereka tentang pelajaran yang diberikan.
Sebagai contoh, seorang guru menyusun pernyataan-pernyataan berikut ini:
• Saya menginginkan pekerjaan yang memungkinkan saya untuk bekerja dengan orang lain.
• Saya menginginkan pekerjaan yang memberi saya pendapatan paling besar, berkat kemampuan saya.
• Saya menginginkan pekerjaan yang aman dan bebas dari rasa khawatir akan terus-menerus dievaluasi.
• Saya menginginkan pekerjaan yang tidak perlu saya lembur di rumah.
• Saya menginginkan pekerjaan yang tidak menuntut banyak bepergian.
• Saya menginginkan pekerjaan memiliki nilai guna bagi masyarakat.
• Saya menginginkan pekerjaan yang terus-menerus memacu peningkatan kemampuan saya.
2. Perintahkan siswa untuk berdiri di bagian belakang ruangan, dengan menempatkan meja dan kursi di satu sisi ruangan.
3. Buatlah skala penilaian angka dari satu hingga lima di depan kelas dengan menggunakan papan tulis atau dengan menempelkan angka pada dinding.
4. Jelaskan bahwa anda akan membacakan sejumlah pernyataan. Setelah mendengarkan pernyataan-pernyataan itu, siswa harus berdiri di depan angka penilai¬an yang paling cocok dengan sikap mereka terhadap pengetahuan seputar mata pelajaran. Tergantung pada mata pelajarannya, angka 1 bisa berarti "Sangat Setuju" atau "Paham Betul." sedangkan angka 5 untuk "Sangat Tidak Setuju" atau Tidak Paham."
5. Sewaktu pernyataan dibacakan, siswa harus bergerak ke bagian ruang kelas yang paling cocok dengan penge¬tahuan atau posisi mereka. Setelah terbentuk sejumlah barisan di depan berbagai posisi. perintahkan beberapa siswa untuk saling menjelaskan alasan mereka memilih posisi itu.
6. Setelah mendengarkan pendapat siswa lain. Perintah¬kan sembarang siswa yang ingin mengubah posisi mereka pada skala itu untuk melakukannya.
7. Lanjutkan membaca pernyataan atau fakta individual dan meminta siswa itu bergerak ke angka yang paling cocok dengan opini atau pengetahuan mereka.
8. Selanjutnya, bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok. Beri mereka salinan tertulis dari pernyataan-pernyataan itu dan perintahkan mereka untuk mendiskusikannya.
9. Sekarang, perintahkan siswa untuk secara pribadi mencocokkan kembali pendapat mereka terhadap butir. Perintahkan mereka untuk menunjuk satu angka pada tiap pernyataan yang mencerminkan tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka.

VARIASI
1. Dalam kelas yang jumlah siswanya lebih besar, perin¬tahkan siswa untuk terlebih dahulu memilih sebuah jawaban terhadap pernyataan-pernyataan itu dan kemudian bergerak ke bagian-bagian ruangan yang telah dinomori.
2. Mulailah dengan diskusi kelompok kecil dan kemudian lakukan penilaian individual (pribadi).


67. Peraga Peran

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan cara menarik untuk menstimulasi diskusi tentang nilai dan sikap. Siswa diminta untuk menominasikan sosok-sosok terkenal yang mereka pandang sebagai peraga peran dari ciri-ciri yang berkaitan dengan sebuah topik yang tengah dipelajari di kelas.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa nienjadi sub-sub kelompok beranggotakan lima atau enam orang, dan berikan kepada tiap kelom¬pok selembar kertas dan bolpoin.
1. Perintahkan tiap kelompok untuk mengenali tiga siswa yang akan mereka kenali sebagai perwakilan dari mata pelajaran yang tengah didiskusikan. Dalam pelajaran musik, sebagai misal, mereka dapat memilih Elton John, Billy Joel, dan Stevie Wonder.
2. Setelah mereka mengenali tiga sosok terkenal, perintah¬kan mereka untuk membuat daftar karakteristik yang dimiliki oleh ketiganya yang mengkualifikasi mereka sebagai contoh atau peraga peran untuk mata pelajaran yang tengah mereka diskusikan. Mereka mesti mendaftar orang dan karakteristik pada kertas dan menempelkannya pada dinding.
3. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dan membandingkan daftar mereka, perintahkan tiap kelompok untuk menjelaskan alasan yang melandasi pilihan mereka.
4. Arahkan siswa dalam sebuah diskusi tentang berbagai persepsi di kalangan siswa.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari menyebut orang sungguhan, perintahkan siswa untuk memilih karakter fiksional.
2. Berikan kepada tiap kelompok daftar khusus tentang orang yang merupakan perwakilan atau tokoh dari mata pelajaran yang didiskusikan.

Pengembangan Keterampilan
Salah satu tujuan terpenting dari pendidikan di jaman sekarang adalah pemerolehan keterampilan untuk kebutuhan pekerjaan modern. Terdapat keterampilan tehnis seperti menulis dan komputasi. Ada pula keterampilan non-tehnis semisal mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan jelas. Ketika siswa berupaya mempelajari keterampilan-keterampilan baru dan meningkatkan kemampuan yang ada, mereka perlu mempraktikannya secara efektif dan mendapat umpan balik yang berguna. Strategi-strategi yang berikut ini merupakan cara-cara yang berbeda untuk mengembangkan ketrampilan. Beberapa di antaranya cukup intens dan sebagian lagi menyenangkan. Bermacam pemeranan ditampilkan secara khusus.


68. Formasi Regu Tembak

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan format yang cepat dan dinamis yang bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan, misalnya menguji dan memerankan suatu lakon. Format ini menampilkan pasangan secara bergilir. Siswa mendapat peluang untuk merespon dengan cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara bertubi-tubi atau jems tantangan lain;

PROSEDUR
1. Tetapkan tujuan anda untuk menggunakan "regu tembak." Berikut Ini adalah contohnya bila yang menjadi tujuan anda adalah pengembangan kemampuan:
• Siswa dapat menguji atau melatih satu sama lain.
• Siswa dapat melakonkan (mendramatisasi) situasi yang diberikan kepada mereka.
• Siswa dapat mengajar satu sama lain.
Anda juga dapat menggunakan strategi ini untuk situasi lain. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Siswa dapat mewawancarai temannya untuk mengetahui pendapat dan pandangannya. Siswa dapat mendiskusikan kutipan atau naskah Pendek.
2. Susunlah kursi dalam formasi dua barisan berhadapan. Sediakan kursi yang cukup untuk seluruh siswa kelas.
3. Pisahkan kursi-kursi menjadi sejumlah regu berangggotakan tiga hingga lima siswa pada tiap sisi atau deret. Formasi ini bisa tampak seperti gambar berikut:




4. Bagikan pada tiap siswa x sebuah kartu berisi sebuah tugas atau pekerjaan yang akan dia mintakan untuk dijawab oleh siswa y yang duduk berhadapan dengannya. Gunakan salah satu dari yang berikut ini:
• Sebuah topik wawancara (misalnya, ajukan kepada siswa yang duduk di hadapanmu pertanyaan ini:
"Bagaimana perasaanmu terhadap karakter ____ dalam buku _____?")
• Pertanyan tes (misalnya, tanyakan kepada siswa yang duduk di hadapanmu, "Apa rumus untuk ____?")
• Naskah pendek atau kutipan (misalnya, tanyakan kepada siswa yang duduk di hadapanmu pendapatnya tentang frase "Kamu tidak memiliki sesuatu yang banyak membantu mewujudkan cita-citamu. )
• Sebuah karakter untuk dilakonkan/diperankan (misalnya, perintahkan siswa yang duduk di hada¬panmu untuk memerankan seseorang yang harus menasehati kawannya untuk tidak minum-minuman keras sambil mengemudi)
• Tugas mengajar (misalnya, perintahkan siswa y duduk di hadapanmu untuk mengajarkan kepadamu kapan menggunakan titik-dua dan titik-koma)


Berikan kartu yang berbeda untuk tiap anggota x dari sebuah regu.
Sebagai contoh, seorang guru tengah melatih siswa untuk melakukan tatapan mata yang baik dan berbicara dengan lancar. Guru memberikan satu dari kartu-kartu berikut ini kepada anggota x dari tiap regu:
• Perintahkan, siswa yang duduk di hadapanmu untuk memberikan pendapatnya tentang presiden Indonesia yang sekarang.
• Perintahkon siswa yang duduk di hadapanmu untuk menceritakan tentang masa kanak-kanaknya.
• Perintahkan siswa yang duduk di hadapanmu untuk menjelaskan ciri-ciri dan keunggulan dari pastagigi yang dia gunakan.
• Perintahkan siswa yang duduk di hadapanmu untuk menceritakan tentang hobi dan minatnya.
5. Mulailah tugas pertama. Dalam waktu yang tidak begitu lama, umumkan bahwa sekaranglah waktunya bagi siswa y untuk berpindah satu kursi di sebelah kirinya di dalam regunya. Jangan merotasi atau memindahkan siswa x. Perintahkan siswa x untuk "menembakkan" tugas atau pertanyaannya kepada siswa y yang duduk di hadapannya. Lanjutkan dengan jumlah babak sesuai dengan jumlah tugas yang anda berikan.

VARIASI
1. Baliklah peran agar siswa x bisa menjadi siswa y.
2. Dalam beberapa situasi, bolehjadi akan lebih menarik dan lebih tepat untuk memberikan tugas yang sama kepada tiap anggota regu. Dalam hal ini, siswa y akan diminta untuk menjawab instruksi yang sama untuk tiap anggota regunya. Sebagai contoh, seorang siswa dapat diminta untuk melakonkan situasi yang sama beberapa kali.

69. Pengamatan dan Pemberian Masukan Secara Aktif

URAIAN SINGKAT
Prosedur umum dalam menggunakan pengamat pada latihan drama atau sesi latihan ketrampilan adalah dengan menunggu hingga pementasan selesai sebelum meminta pemberian masukan. Prosedur ini memberi umpan balik yang sifatnya segera bagi si pemeran. Ini juga menjadikan pengamat untuk tetap siap selama pementasan.

PROSEDUR
1. Buatlah latihan pemeranan di mana beberapa siswa memperagakan ketrampilan sedangkan siswa yang lain menjadi pengamat.
2. Sediakan bagi pengamat daftar konkret tentang perilaku positif dan/atau negatif untuk diperhatikan. Perintahkan mereka untuk memberi isyarat kepada pemain drama ketika perilaku yang dikehendaki terjadi dengan isyarat yang berbeda bila perilaku yang tidak dikehendaki muncul. Isyarat yang bisa digunakan antara lain:
• Mengangkat tangan
• Meniup peluit
• Menjentikkan jari
• Tepuk tangan satu kali
Siswa di dalam pelajaran bahasa Spanyol konvensional, Misalnya, dapat menggunakan aktivitas ini untuk mempraktikkan tatabahasa. Guru menyiapkan 10 situasi yang berbeda dan meminta partisipan pemeran drama untuk memilih salah satunya dari sebuah topi. Sebelum peme¬ranan lakon dimulai, siswa memilih isyarat untuk menandakan penggunaan tata bahasa yang tidak benar (menjentikkan jari) dan satu untuk dukungan positif (melambaikan tangan). Pemeran lakon dua siswa memulai dialog dalam bahasa Spanyol. Jika kemudian dijumpai kesalahan gramatika anggota, audiens dapat menjentikkan jari; untuk memberikan umpan balik positif, mereka melambaikan tangan. Variasi untuk menghindari interupsi terus-menerus adalah dengan menetapkan waktu interval satu menit dan memberikan penghargaan umum (jumlah jentikkan atau lambaian tangan) atau penilaian langsung.
3. Jelaskan bahwa tujuan dari isyarat-isyarat itu adalah memberikan umpan balik segera kepada pemeran lakon mengenal pementasan mereka.
4. Diskusikan pengalaman itu dengan pemeran lakon yang terlibat dalam pemeragaan ketrampilan. Cari tahu apakah masukan yang sifatnya segera itu membantu, ataukah justru mengganggu mereka.

VARIASI
1. Beri kesempatan pengamat untuk menggunakan sebuah sinyal (misalnya, meniup peluit) untuk menghentikan aksi pemeran lakon dan mengajukan pertanyaan atau memberikan umpanbalik yang lebih rinci kepada para pemeran lakon.
2. Rekamlah pemeranan lakon itu dengan kamera video. Jangan sampai ada yang memberikan masukan selama perekaman. Perintahkan siswa untuk menonton rekaman itu dan menggunakan isyarat yang baku pemutaran ulang ulang.

70. Pemeranan Lakon yang Tidak Membuat Grogi Siswa

URAIAN SINGKAT
Tehnik ini mengurangi ancaman atau rasa khawatir siswa dalam pemeranan lakon. Caranya adalah dengan menempatkan guru pada peran utama dan melibatkan siswa dalam memberikan respons dan menetapkan arah skenarionya.

PROSEDUR
1. Buatlah peran lakon di mana anda akan menunjukkan perilaku yang dikehendaki, misalnya mengatasi orang yang sedang sangat marah.
2. Beritahu siswa bahwa anda akan memegang peran utama dalam pemeranan lakon Itu. Tugas siswa adalah membantu anda mengatasi situasi.
3. Perintahkan beberapa siswa untuk mengambil peran sebagai orang lain dalam situasi itu (misalnya, orang yang sedang marah). Berikan kepada siswa itu naskah pembuka untuk dibaca guna membantu dia memahami perannya. Mulailah pemeranan tersebut, namun hentikan pada beberapa selang waktu dan perintahkan siswa untuk memberikan umpan balik dan arahan seiring berjalannya skenario. Jangan ragu-ragu untuk meminta siswa memberikan panduan khusus untuk anda gunakan. Sebagai contoh, pada poin tertentu. tanyakan "Apa yang selanjutnya mesti saya katakan?" Dengarkan saran mereka dan kemudian cobalah.
4. Lanjutkan pemeranan lakon agar siswa kian melatih anda tentang cara mengatasi situasi. Ini akan memberi mereka praktik keterampilan sementara anda melakukan pemeranan aktual bagi mereka.

VARIASI
1. Dengan menggunakan prosedur yang sama, perintahkan siswa untuk melatih kawannya (Sebagai alternatif dari melatih gurunya).
2. Rekamlah seluruh pemeranan lakon. Putar ulang dan diskusikan dengan siswa tentang cara lain untuk merespons poin tertentu dalam situasi itu.

71. Pemeranan Lakon Oleh Tiga Orang Siswa

URAIANSINGKAT
Tehnik ini memperluas pemeranan lakon tradisional dengan menggunakan tiga siswa yang berbeda dalam situasi pemeranan lakon yang sama. Tehnik ini menunjukkan pengaruh dari variasi gaya individual terhadap akibat dari situasi itu.

PROSEDUR
1. Dengan bantuan siswa, tunjukkan konsep dasar peme¬ranan lakon (jika perlu) dengan sebuah situasi semisal siswa yang memprotes nilainya kepada seorang guru.
2. Buatlah skenario dan jelaskan kepada siswa.
3. Perintahkan empat siswa untuk mengambil peran karakter dalam pemeranan lakon. Tugaskan satu siswa untuk tetap menjadi karakter standar (misalnya, seorang guru) dan instruksikan tiga siswa yang lain bahwa mereka akan memainkan peran yang lainnya (misalnya sebagai siswa) secara bergiliran.
4. Perintahkan tiga siswa secara bergilir untuk meninggalkan ruang dan memutuskan pada urutan mana ereka akan berpartisipasi. Bila sudah siap, siswa yang pertama kembali memasuki ruangan dan memulai peranan lakon dengan dua siswa lainnya.
5. Setelah tiga menit, umumkan waktunya dan perintahkan siswa kedua untuk memasuki ruangan dan mengulang situasi yang sama. Siswa pertama kini dan dapat tetap tinggal dalam ruangan. Setelah tiga menit dengan siswa kedua, lanjutkan dengan siswa ketiga dengan ulang skenario itu.
6. Pada akhir pemeranan lakon, perintahkan siswa u niembandingkan dan membedakan gaya dan kpf siswa relawan dengan mengidentifikasi tehnik-tehnik mana yang efektif dan dengan mencatat bagian man saja yang perlu diperbaiki.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari memimpin diskusi kelas, bagilah siswa menjadi tiga kelompok. Berikan satu dari tiga pemeran lakon kepada tiap kelompok. Perintahkan tiap kelompok untuk menentukan siswa yang akan memberi mereka umpan balik pendukung. Gunakan prosedur ini ketika anda merasa perlu mengurangi kemungkinan adanya rasa malu karena dilakukannya pembandingan antar para pemeran lakon secara terbuka.
2. Untuk kelompok yang lebih besar, bagilah siswa menjadi tiga bagian dan ikuti prosedur penggiliran dari pemeranan lakon rangkap tiga. Siswa selanjutnya kembah ke posisi semula untuk membandingkan dan membe¬dakan ketiga gaya pemeranan lakon tersebut.

72. Mengilir Peran

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan cara yang bagus untuk memberi kesempatan bagi tiap siswa untuk mempraktikkan ketrampilan melalui pemeranan lakon tentang situasi kehidupan nyata.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan tiga siswa, yang tersebar di ruang kelas, dengan celah yang seluas mungkin antar ketiganya.
2. Perintahkan tiap trio (kelompok tiga siswa) untuk membuat skenario kehidupan nyata yang membahas topik yang telah anda diskusikan.
3. Setelah masing-masing trio menulis ketiga skenarionya pada lembar yang terpisah, satu anggota tim dari tiap kelompok menyampaikan skenario itu kepada kelompok selanjutnya dan sudah disediakan ketika anggota kelompok membaca skenario untuk mengklarifikasi atau memberikan informasi tambahan bilamana perlu. Siswa kemudian kembali ke kelompok aslinya.
4. Secara bergiliran, tiap anggota trio akan memiliki kesempatanan untuk mempraktikan peran primemya (yakni sebagai orang tua), peran sekundernya (sebagai anak) dan pengamat.
5. Tiap babak mesti berlangsung minimal 10 menit pemeran lakon, dengan 5 hingga 10 menit pemerian umpan balik dari pengamat. Andalah yang menentukan panjang tiap babak sesuai dengan waktu yang tersedia, topik yang dibahas, dan tingkat kemampuan siswa.
6. Datam tiap babak, pengamat mesti berkonsentrasi pada pengidentifikasian apa yang dilakukan dengan baik oleh pemain primer dalam menggunakan konsep ketrampilan yang dipelajari di kelas dan apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaikinya.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari penugasan tiap kelompok untuk menulis skenarionya sendiri anda dapat mempersiapkan skenarionya.
2. Sediakan lembar masukan bagi pengamat yang mengidentifikasi ketrampilan dan tehnik-tehnik khusus yang mesti ia cermati.

73. Memperagakan Caranya

URAIAN SINGKAT
Tehnik ini memberi siswa kesempatan untuk mempraktikan, melalui peragaan, ketrampulan khusus yang diajarkan di kelas. Pemeragaan acapkali merupakan alternatif yang cocok untuk pemeranan lakon karena cara ini tidak begitu mengancam atau membuat siswa grogi. Siswa diberi banyak waktu untuk membuat skenario mereka sendiri dan menentukan bagaimana mereka ingin mengilustraikan ketrampilan dan tehnik yang baru saja di bahas di kelas.

PROSEDUR
1. Setelah berlangsungnya kegiatan belajar tentang topik tertentu, kenalilah beberapa situasi umum di mana siswa mungkin diharuskan menggunakan ketrampilan yang baru saja dibahas.
2. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok sesuai dengan jumdah peserta yang diperlukan untuk memperagakan sekenario yang ada. Umumnya diperlukan dua atau tiga siswa.
3. Berikan sub-sub kelompok itu waktu 10 hingga 15 menit untuk membuat skenario tertentu yang mengbarkan situasi umum.
4. Sub-sub kelompok itu juga menentukan bagaimana mereka akan memperagakan keterpilan itu kelompok. Beri mereka 5 hingga 7 menit untuk mempraktikkannya.
5. Tiap sub kelompok akan mendapat giluran melakukan pemeragaan bagi siswa yang lain. Beri kesempatan adanya pemberian masukan setelah masing-masing pemeragaan selesai dilakukan.

VARIASI
1. Anda dapat membuat sub kelompok dengan jumlah siswa yang lebih banyak untuk keperluan pemeragaan bertiindak selaku pembuat skenario, pengarah dan penasihat.
2. Anda dapat membuat skenario khusus dan menugaskannya kepada sub-sub kelompok tertentu.

74. Pemeragaan Tanpa Bicara

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strateg untuk digunakan manakala anda mengajarkan prosedur setahap-demi-setahap. Dengan memperagakan sebuah prosedur tanpa banyak bicara, anda mendorong siswa untuk cermat secara mental.

PROSEDUR
1. Tetapkan sebuah prosedur multilangkah yang anda ingin siswa mempelajarinya. Prosedur-prosedurnya antara lain mencakup yang berikut ini:
• Menggunakan aplikasi komputer
• Menggunakan peralatan laboratorium
• Menjalankan mesin
• Memberikan pertolongan pertama
• Memecahkan soal matematika
• Mencari materi rujukan
• Menggambar atau melakukan kegiatan artistik lain
• Memperbaiki peralatan
• Menerapkan prosedur akuntansi
2. Perintahkan siswa untuk memperhatikan anda memperagakan seluruh prosedur. Lakukan saja, dengan sedikit atau tanpa penjelasan atau komentar tentang apa dan mengapa anda melakukan hal itu. Beri mereka gambaran seklias tentang seluruh tugas. Jangan berharap untuk melakukan pengulangan. Sampai di sini, anda baru mewujudkan kesiapan siswa untuk meipelajari
3. Bentuklah sejumlah pasangan. Peragakan bagian pertama dari prosedur itu, sekali lagi dengan sedikit atau tanpa penjelasan atau komentar. Perintahkan pasangan untuk mendiskusikan apa yang mereka amati peragaan anda. (Mengatakan kepada siswa apa yang anda lakukan justru akan menurunkan kewaspadaan atau kecermatan mental mereka) Tunjuklah seorang siswa untuk menjelaskan apa yang anda lakukan. Jika siswa mengalami kesulitan. peragakanlah kembali. Hargaliah pengamatan yang benar.
4. Perintahkan pasangan untuk saling mempraktikan bagian pertama dari prosedur itu. Bila mereka sudah menguasai bagian ini. lakukan pemeragaan bagian berikutnya dari prosedur itu tanpa bicara. diikuti dengan praktik berpasangan.
5. Akhiri dengan memberi tantangan kepada siswa untuk melakukan seluruh prosedur tanpa bantuan.

VARIASI
1. Jika memungkinkan, beri siswa tugas pembuka untuk mencoba prosedur itu sebelum pemeragaan. Beri kesempatan mereka untuk menduga dan maklumilah mereka jika terjadi kesalahan. Dengan melakukan hal ini, anda akan segera menjadikan siswa terlibat secara menjadikan siswa terlibat cecara mental. Selanjutnya, perintahkan mereka untuk mencermati apa yang anda peragakan.
2. Jika ada beberapa siswa yang dapat menguasai prosedur itu lebih cepat dibanding yang lain, rekrutlah mereka sebagai "peraga diam."


75. Pasangan dalam Praktik – Pengulangan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi sederhana untuk mempraktikkan dan mengulang ketrampilan atau prosedur dengan pasangan belajar. Tujuannya adalah memasukan bahwa kedua pasangan dapat memperagakan ketrampilan atau prosedur Itu.

PROSEDUR
1. Pilihlah sejumlah ketrampilan atau prosedur yang anda ingin siswa kuasai. Buatlah pasangan. Dalam tiap pasangan, berikan dua peran: (1) penjelas atau pemeraga dan (2) pemeriksa.
2. Penjelas atau pemeraga menjelaskan dan/atau mem¬peragakan cara mengerjakan ketrampilan atau prosedur tertentu. Pemeriksa memastikan apakah penjelasan dan/atau pemeragaan itu benar, memberi dorongan dan memberikan pelatihan bila diperlukan.
3. Pasangan berganti peran. Penjelas/pemeraga yang baru diberikan ketrampilan atau prosedur lain untuk dikerjakan.
4. Proses itu berlanjut hingga semua ketrampilan diulang.

VARIASI
1. Gunakan ketrampilan atau prosedur multilangkah sebagai alternatif dari beberapa prosedur yang berbebeda. Perintahkan penjelas/pemeraga melakukan satu lakah dan perintahkan pasangannya melakukan langkah selanjutnya hingga urutan langkahnya lengkap.
2. Bila pasangan telah menyelesaikan tugas merek buatlah sebuah peragaan di depan kelompok.

*Tehnik ini didasarkan pada "DrillReview Pairs" karya David W. Johnson, Roger T. Johnson, dan Karl A. Smith.


76. Pemberi Peran

URAIAN SINGKAT
Dalam strategi ini, siswa mendapatkan peran seseorang yang pekerjaannya mereka pelajari. Siswa diberikan tugas praktik nyata dengan terlebih dahulu diberi sedikit instruksi, dan belajar "dengan mengerjakan."

PROSEDUR
1. Pilihian peran yang anda ingin siswa peragakan. Berikut adalah beberapa contohnya:
Saya adalah walikota
Pelancong (ke negara lain)
Penyunting
Sejarawan
Ilmuwan
Pelamar kerja
Pemilik usaha
Peneliti
Wartawan
2. Siapkan instruksi tertulis yang menjelaskan satu atau berapa tugas yang bisa diberikan pada peran itu. Sebagai contoh, seorang walikota dapat diminta untuk mengajukan program kerja kepada dewan kota.
3. Pasangkan siswa dan berikan tugas pada tiap pasangan. Beri mereka alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas itu. Sediakan materi rujukan untuk membantu dalam mengerjakan tugas itu.
4. Perintahkan siswa untuk kembali ke possil semula mendiskusikan tugas itu.

VARIASI
1. Ijinkan siswa untuk meninggalkan ruang kelas dan mendapatkan pelatihan dari rekan karyawan yang dapat bertindak selaku narasumber bagi mereka.
2. Perintahkan siswa untuk mengerjakan tugas Itu sendiri tanpa dukungan dari pasangannya.

77. Para Bola

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara dramatis dalam mempraktikkan ketrampilan kerja. Cara ini menempatkan siswa dalam situasi sulit yang harus mereka jelaskan cara mengatasinya.

PROSEDUR
1. Pilihlah situasi yang lazim terjadi pada tugas yang tengah dipelajari oleh siswa. Contoh-contohnya meliputi:
• Memimpin pertemuan
• Memberikan tugas kepada kaiyawan
• Mendapatkan tugas dari manajer
• Membuat presentasi
• Memberikan laporan kepada manajer
• Berbicara kepada pelanggan
2. Rekrutlah beberapa siswa untuk menjadi relawan yang mau memerankan lakon dalam situasi tertentu. Pastikan untuk menjelaskan situasinya secara rinci.
3. Bagikan instruksinya kepada siswa lain yang mengrahkan mereka untuk melemparkan bola kepada siswa lawan. Sebutlah beberapa tindakan yang bisa diambil untuk memberi kesulitan kepada relawan dalam mengatasi situasi itu. Jangan memperlihatkan instruksi “lemar-bola" itu kepada siswa relawan. Sebagai contoh, dalam sebuah wawancara, kerja pelamar bisa saja diminta untuk mengungkapkan informasimasi pribadinya (yang mana hal ini tidak dibenarkan) Pelamar perlu memutuskan cara menanggapi permintaan itu.
4. Beri kesempatan kepada relawan untuk menepat situasi itu. Beri tepuk tangan atas usahanya. Diskusikan cara-cara untuk mengatasi kejadian-kejadian yang tak terduga dengan seluruh siswa.
5. Rekrutlah relawan baru dan berikan tantangan berbeda kepada mereka.

VARIASI
1. Perintahkan siswa untuk memilih "lemparan-bola" mereka sendiri untuk diarahkan kepada relawan.
2. Sebagai alternatif dari penggunaan relawan, peragakan sendiri oleh anda cara menangkap "lemparan-bola" dari siswa.


78. Kelompok Penasehat

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi untuk mendapatkan umpanbalik selama berlangsungnya pelajaran multisesi. Acapkali, guru meminta umpanbalik siswa setelah pelajaran selesai, dan ini tentunya terlalu terlambat untuk melakukan penyesuaian.

PROSEDUR
1. Seusai pelajaran, tetapkan kapanwaktunyaandaakan meniinta umpan balik dari siswa.
2. Perintahkan sekelompok kecil siswa relawan untuk bertemu dengan anda. Katakan kepada mereka bahwa tugas mereka adalah meminta tanggapan dari siswa lain sebelum waktu pertemuan.
3. Gunakan pertanyaan-pertanyaan seperti yang berikut ini:
• Hal-hal apa saja yang bermanfaat? Dan yang tidak berrnanfaat?
• Bagian mana yang belum jelas?
• Apa yang dapat membantu kalian untuk bisa mempelajari dengan lebih baik?
• Apakah kalian siap untuk beranjak ke materi baru?
• Apakah materi saya memiliki kaitan erat dengan kehidupan kalian?
• Apa lag yang kalian inginkan dari pelajara berikutnya?
• Apa yang tidak begitu kalian inginkan?
• Apa yang kalian ingin lanjutkan?

VARIASI
1. Cobalah strategi mengajar dengan "kelompok penasehat" yang anda rencanakan untuk digunakan selama pelajaran. Mintalah tanggapan.
2. Gunakan alternatif lain untuk mendapatkan umpan balik, misalnya survei reaksi pasca-pertemuan atau survei lisan mengenal tanggapan siswa.


BAGAIMANA MENJADI BELAJAR
TIDAK TERLUPAKAN

Sebagian guru mengajar hingga batas akhir masa sekolah, semester, atau bidang studi. Mereka mungkin beranggapan bahwa pada saat-saat akhir mereka dapat menjejalkan lebih banyak informasi dan menyelesaikan topik dan materi yang niasih dalam agenda mereka.
Makna dari "menyelesaikan" matapelajaran masih perlu dipertanyakan, karena adakalanya guru hanya sekadar menyelesaikan materi yang masih tersisa. Memaksakan diri untuk mengajar hingga batas akhir seringkali berakibat pada terjadinya pengajaran yang tidak tertata, ada yang terlewatkan. atau ada yang masih belum jelas. Sebaliknya, bila kegiatan belajar bersifat aktif, ada peluang untuk terjadinya pemahaman. Bila kita menyediakan waktu untuk memantapkan apa yang telah dipelajari, maka ada peluang untuk terjadinya pengingatan.
Pikirkanlah apa yang terjadi bila anda bekerja keras menggunakan komputer, mencari informasi, memecahkan masalah. dan menyusun konsep namun, anda lupa menyimpan hasil pekerjaan anda. Tentu saja, semua pekerjaan anda akan hilang sia-sia. Demikian pula, hasil pembelajaran dapat menghilang bila siswa tidak diberi kesempatan untuk menyimpannya.
Di samping menyimpan apa yang lelah dipelajari, penting pula untuk menikmatinya. Seperti halnya pengalaman, pembelajaran akan dapat dinikmati bila ada kesempatan untuk mengingatnya dan memberinya sentuhan akhir yang menyentuh perasaan. Sebagaimana yang telah kita bicarakan tentang "hidangan pembuka" dan "entri" dari kegiatan belajar aktif, sekarang yang akan kita bahas adalah "hidangan penutup."
Ada banyak tindakan positif yang bisa kita ambil untuk menciptakan penutup mata pelajaran yang bermakna dan, barangkali, tak terlupakan. Di bagian ini kami akan mernbahasnya dalam empat kategori.
1. Strategi Peninjauan Kembali: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan kemampuan mereka yang sekarang. Anda akan menjumpai strategi peninjauan kembali yang menarik bagi siswa dan membantu "menyimpan" pembelajaran yang telah mereka terima.
2. Penilaian-Sendiri: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa menilai apa yang kini mereka ketahui, apa yang kini dapat mereka kerjakan, dan sikap apa yang sekarang mereka pegang. Anda akan menjum¬pai strategi penilaian yang membantu siswa mengevaluasi kemajuan mereka.
3. Perencanaan Masa Depan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka menerapkan hal-hal yang telah mereka pelajari. Anda akan mendapati strategi perencanaan masa depan yang menghadapkan siswa pada fakta bahwa kegiatan belajar mereka tidak berhenti di ruang kelas.
4. Ucapan perpisahan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengenang pengalaman mereka bersama-sama dan mengungkapkan apresiasi mereka. Anda akan mendapati strategi-strategi yang membantu menghadirkan bagian penutup pelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengucapkan perpisahan.

Strategi Peninjauan Kembali
Salah satu cara yang pasti untuk membuat penibelajaran tetap melekat dalam pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa yang telah dipelajari. Materi yang telah dibahas oleh siswa cenderung lima kali lebih melekat di dalam pikiran ketimbang materi yang tidak. Itu karena pembahasan kembali memungkinkan siswa untuk memiklrkan kembali infonnasi tersebut dan menemukan cara untuk menyimpannya di dalam otak.
Yang berikut ini merupakan serangkaian strategi untuk mendukung peninjauan kembali. Selain menjadi aktif, strategi ini menjadikan peninjauan kembali sebagai aktivitas yang menyenangkan.

79. Pencocokan Kartu Indeks

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara aktif dan menyenangkan untuk meninjau ulang materi pelajaran. Cara ini memungkinkan siswa untuk berpasangan dan memberi pertanyaan kuis kepada temanya.

PROSEDUR
1. Pada kartu Indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah kartu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswa.
2. Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atas masing-masing pertanyaan itu.
3. Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampur aduk.
4. Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan sebagian mendapatkan kartu jawabannya.
5. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama. (Katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka).
6. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, peritahkan tiap pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa yang lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya.

VARIASI
1. Susunlah kartu yang berisi sebuah kalimat dengan beberapa kata yang dihilangkan untuk dicocokkan dengan kartu yang berisi kata-kata yang hilang itu— misalnya, "Presiden merupakan _____ angkatan bersenjata. (panglima tertinggi).
2. Buatlah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawabannya—misalnya, "Apa sajakah cara-cara untuk meredam konflik?" Cocokkan kartu-kartu itu dengan kartu yang berisi kumpulan jawaban yang relevan. Ketika tiap pasangan memberikan kuis kepada kelompok, perintahkan mereka untuk mendapatkan beberapa jawaban dari siswa lain.

80. Peninjauan-Ulang Topik

URAIAN SINGKAT
Strategi ini memberi siswa tantangan untuk mengingat apa yang telah dipelajari dalam tiap topik atau unit matapelajaran. Ini merupakan cara yang bagus untuk membantu siswa meninjau-ulang materi yang telah anda bahas.

PROSEDUR
1. Pada akhir pelajaran, berikan siswa sebuah daftar topik yang telah anda bahas. Jelaskan bahwa anda ingin mengetahui apa yang mereka ingat tentang topik-topik itu dan apa saja yang telah mereka lupakan. Usahakan agar suasananya tetap santal agar mereka tidak merasa terancam oleh aktivitas itu.
2. Perintahkan siswa untuk mengingat hal-hal seputar topik yang telah dibahas dan hal-hal lain yang rnasih mereka ingat. Ajukan pertanyaan semisal:
• Mengacu kepada hal apakah topik ini?
• Mengapa topik ini penting?
• Siapa dapat memberi saya contoh tentang apa V kita pelajari dalam topik ini?
• Nilal-nilai apakah yang kalian dapatkan dari ini ?
• Pengalaman belajar apa sajakah yang kita dapatkan dari topik ini.
Jika tidak banyak yang diingat, olok-oloklah daya ingat baik secara bergurau. atau salahkan diri anda karena tak bisa menjadikan topik itu sebagai sesuatu yang tak terlupakan."Urutkan pengajuan pertanyaan itu secara kronologis hingga anda menyinggung semua materi yang pernah dibahas(atau lakukan selama waktu anda mencukupi).
Waktu anda membahas isinya, buatlah pernyataan nenyimpul sesuai dengan yang anda kehendaki.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari penggunaan proses diskusi satu kelas penuh, perintahkan pasangan atau sub-sub kelompok untuk saling berdiskusi.
2. Jika hanya ada sepuluh siswa, atau bahkan kurang, perintahkan mereka untuk berkumpul di sekeliling sebuah daftar topik pelajaran pada papan tulis dan melakukan peninjauan ulang atas materi yang sudah dibahas. Agar tidak terkesan bahwa peninjauan-ulang itu merupakan tes, cobalah anda meninggalkan ruangan sewaktu prosesnya sedang berlangsung. Ini akan mem-berdayakan siswa untuk menggunakan waktu secara tepat.


81. Memberikan Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi pernbentukan-tim untuk melibatkan siswa dalam peninjauaan kembali materi pada pelajaran sebelumnya atau pada akhir pelajaran.

PROSEDUR
1. Berikan dua kartu Indeks kepada masing-niasing siswa.
2. Perintahkan tiap siswa untuk melengkapl kalimat berikut ini:
Kartu 1: Saya masih memiliki pertanyaan tentang _______________
Kartu 2: Saya bisa menjawab pertanyaan tentang ¬¬¬¬¬¬¬¬_______________
3. Buatlah sub-sub kelompok dan perintahkah tiap kelompok untuk memilih "pertanyaan paling relevan untuk diajukan" dan "pertanyaan paling menarik untuk dijawab" dari kartu anggota kelompok mereka.
4. Perintahkan tiap sub-kelompok untuk melaporkan pertanyaan untuk diajukan" yang ia pilih. Pastikan apakaha ada siswa yang dapat menjawab pertanyaan itu. Jika tidak, guru harus menjawabnya.
5. Perintahkan tiap kelompok untuk melaporkan “pertanyaan untuk dijawab” yang ia pilih. Perintahkan anggota sub-sub kelompok untuk berbagi jawaban dengan siswa yang lain.

VARIASI
1. Siapkan terlebih dahulu beberapa kartu pertanyaan, dan bagikan kepada sub-sub kelompok. Perintahkan sub-sub kelompok untuk memilih satu atau beberapa per¬tanyaan yang dapat mereka jawab.
2. Siapkan terlebih dahulu beberapa kartu jawaban dan bagikan kepada sub-sub kelompok. Perintahkan sub-sub kelompok untuk memilih satu atau beberapa jawab¬an yang menurut mereka membantu dalam meninjau kembali apa yang telah mereka pelajari


82. Teka-teki Silang

URAIAN SINGKAT
Menyusun tes peninjauan kembali dalam bentuk tek teki silang akan mengundang minat dan Partisipasi siswa. Teka-teki silang bisa diisi secara perseorangan atau kelompok.

PROSEDUR
1. Langkah pertama adalah dengan menjelaskan beberapa istilah atau nama-nama penting yang terkait dengan matapelajaran yang telah anda ajarkan.
2. Susunlah sebuah teka-teki silang sederhana, dengan menyertakan sebanyak mungkin unsur pelajaran. (Catatan: Jika terlalu sulit untuk membuat teka-teki silang tentang apa yang terkandung dalam pelajaran, sertakan unsur-unsur yang bersifat menghibur, yang tidak mesti berhubungan dengan pelajaran. sebagai selingan)
3. Susunlah kata-kata pemandu pengisian teka-teki silang anda. Gunakan jenis yang berikut ini:
• Definisi singkat ("sebuah tes untuk menentukan sebuah reliabilitas")
• Sebuah kategori yang cocok dengan unsumya (Jenis gas")
• Sebuah contoh ("...undang-undang adalah contohnya)
• Lawan kata ("lawan kata demokrasi")
4. Bagikan teka-teki itu kepada siswa, baik secara perseorangan maupun kelompok.
5. Tetapkan batas waktunya. Berikan penghargaan kepada /ini individu atau tim yang paling banyak memiliki jawaban benar.

VARIASI
1. Perintahkan seluruh kelompok untuk bekerjasama dalam mengisi teka-teki silang tersebut.
2. Sederhanakan teka-teki itu dengan menetapkan satu kata yang merupakan kunci dari pelajaran. Tuliskan dalam kotak mendatar. Gunakan kata yang menunjukkan unsur-unsur lain dalam pelatihan dan cocokan secara menurun agar membentuk kata kunci.


83. Meninjau Kesulitan pada Materi Pelajaran

URAIAN SINGKAT
Strategi ini dirancang seperti tayangan permainan TV— Jawaban diberikan terlebih dahulu, dan tantangannva adalah mengajukan pertanyaan yang cocok atau benar Format Ini bisa dengan mudah digunakan sebagai tinjauan tentang materi pelajaran..

PROSEDUR
1. Buatlah tiga hingga enam kategori pertanyaan tinjauan. Gunakan salah satu dari beberapa kategori umum ini
• Konsep atau Gagasan
• Fakta
• Ketrampilan
• Nama
Atau buatlah kategori berdasarkan topiknya. Sebag contoh, pelajaran bahasa Perancis mungkin melibatk topik semisal, buton, angka. dan wama.
2. Buatlah setidaknya tiga jawaban (dan pertanyaan yang terkait) per kategori. Sebagai contoh, jawaban "Angggur berwama ini biasanya dihidangkan dalam temperatur ruangan" bisa dicocokan dengan pertanyaan "Minuman Rouge itu apa sih? Kita tidak perlu memiliki jumlah pertanyaan dan jawaban yang sama dalam tiap kategori, namun kita harus menyusun pertanyaan dan jawaban dengan derajat kesulitan yang terus meningkat.
3. Perlihatkan papan permainan peninjauan kembali pada selembar kertas besar dan tebal. Umumkan kategorinya dan nilal poinnya untuk tiap kategori. Berikut adalah papan permainan sampel:
Bulan Warna Angka
10 poin 10 poin 10 poin
20 poin 20 poin 20 poin
30 poin 30 poin 30 poin
4. Bentuklah tim beranggotakan tiga hingga enam orang siswa dan sediakan kartu penjawab untuk tiap tim. Jika memungkinkan, buatlah kelompok dengan beragam tingkat ketrampilan atau pengetahuan.
5. Perintahkan tim untuk memilih kapten dan pencatat nilai tim.
• Kapten tim mewakili tim. la merupakan satu-satu-nya yang bisa mengacungkan kartu penjawab dan memberikanjawabannya. Kapten tim harus berun-ding dengan tim sebelum memberikan jawaban.
• Pencatat nilai bertanggungjawab menambahkan dan mengurangi nilai untuk tim mereka.
Catalan; Sebagai moderator permainan, anda bertang¬gungjawab mencermati pertanyaan mana saja yang telah diajukan. Ketika tiap pertanyaan diajukan, beri tanda silang pada papan permainan. Berikan tanda centang pada pertanyaan yang sulit dijawab oleh siswa. Anda bisa kembali kepada pertanyaan ini bila permainan selesai.
Tinnjaulah beberapa aturan permainan berikut ini:
• Kapten tim yang memegang kartu penjawab pertama mendapatkan kesempatan untuk menjawab.
• Semua jawaban harus diberikan dalam bnetuk pertanyaan.
• Jika jawaban yang diberikan benar, nilal untuk kategorinya akan diberikan. Jika jawaban tidak benar, nilai angka pada skor tim dikurangi. Dan tim lain berkesempatan untuk menjawab.
• Tim yang memberikan jawaban terakhir yang bena akan menguasai papan perrnainan.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari penggunaan kapten tim, perintahkan tiap anggota tim untuk mengambil giliran memainkan permainan tinjauan ulang. Dia tidak boleh berkonsultasi dengan anggota tim sebelum menjawab.
2. Perintahkan siswa untuk membuat pertanyaan per¬mainan


84. Bowling Kampus

URAIAN SINGKAT
Strategi ini merupakan alternatif dalam peninjauan-ulang materi. Strategi ini memungkinkan guru untuk mengevaluasi sejauhmana siswa telah menguasai materi, dan bertugas menguatkan, menjelaskan, dan mengikhtisarkan poin-poin utamanya.
PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi beberapa tim beranggotakan tiga atau empat orang. Perintahkan tiap tim memilih nama organisasi (tim olah raga, perusahaan, kendaraan bermotor, dll) yang mereka wakili.
2. Beri tiap siswa sebuah kartu indeks. Siswa akan mengacungkan kartu mereka untuk menunjukkan bahwa mereka ingin mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan. Format permainannya sama seperti lempar koin: Tiap kali anda mengajukan sebuah pertanyaan, anggota tim boleh menunjukkan keinginannya untuk menjawab.
3. Jelaskan aturan berikut ini:
• Untuk menjawab sebuah pertanyaan, acungkan kartu kalian.
• Kalian dapat mengacungkan kartu sebelum sebuah pertanyaan selesai diajukan jika kalian merasa sudah tahu jawabannya, segera setelah kali melakukan interupsi pembacaan pertanyaan itu dihentikan.
• Tim menilai satu angka untuk setiap jawaban pertanyaan yang benar.
• Ketika seorang siswa memberikan jawaban yan salah, tim lain bisa mengambil alih untuk menjawah (Mereka dapat mendengarkan seluruh pertanyaan jika tim lain menginterupsi pembacaan pertanyaan)
4. Setelah semua pertanyaan diajukan. jumlahkan skornya dan umumkan pemenangnya.
5. Berdasarkan jawaban permainan, tinjaulah materi yang belum jelas atau yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.

VARIASI
1. Sebagai alternatif penggunaan format lempar koin, selang-selinglah pertanyaan kepada tiap tim.
2. Sebagai alternatif dari menjawab pertanyaan yang sifatnya pengetahuan. gunakan permainan itu untuk menguji apakah siswa dapat mempraktikkan sebuah ketrampilan dengan benar.

85. Ikhtisar Siswa

URAIAN SINGKAT
Strategi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengikhtisarkan apa yang telah mereka pelajari dan untuk menyajikan ikhtisar kepada siswa lain. Ini merupakan cara yang baik untuk mendorong siswa merekapitulasi apa yang telah mereka pelajari dengan cara mereka sendiri.

PROSEDUR
1. Jelaskan kepada siswa bahwa bila anda sendiri yang membuatkan ikhtisar pelajaran itu berarti bertentangan dengan prinsip belajar aktif.
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan dua hingga empat orang.
3. Perintahkan tiap kelompok untuk membuat ikhtisar mereka sendiri tentang mata pelajaran yang mereka tempuh. Doronglah mereka untuk membuat uraian singkat, peta pemikiran, atau instrumen lain yang akan memungkinkan mereka menyampaikan ikhtisar kepada siswa lain.
Gunakan salah satu dari pertanyaan berikut untuk memandu pekerjaan mereka:
• Apa topik utama yang telah kita bahas?
• Apa sajakah poin-poin utama yang dikemukakan dalam pelajaran hari ini?
• Apa pengalaman yang kalian dapatkan dan manfaat apa yang kalian dapatkan darinya?
• Gagasan atau saran apakah yang kalian dapatk dari pelajaran ini?
4. Perintahkan kelompok untuk saling berbagi ikhtisar mereka. Beri tepuk tangan atas usaha mereka.

VARIASI
1. Siapkan garis-garis besar topik hari ini dan perintahkan siswa untuk mengisi rincian dari hal-hal yang telah dibahas.
2. Perintahkan siswa untuk melagukan ikhtisar itu. Perintahkan mereka supaya menggunakan irama dari lagu-lagu yang sudah dikenal atau cobalah perintahkan mereka untuk membuat lagu rap berisi ikhtisar pelajaran.


86. Tinjauan Ala Permainan Bingo

URAIAN SINGKAT
Strategi ini membantu mengingatkan kembali akan istilah-istilah yang telah siswa pelajari selama menempuh mata pelajaran. Strategi ini menggunakan format permainan Bingo.

PROSEDUR
1. Susunlah sejumlah angka 24 atau 25 pertanyaan tentang materi pelajaran anda yang bisa dijawab dengan beberapa contoh istilahnya:
• Angka penyebut yang paling sedikit
• Hieroglifik
• Inflasi
• Otokrasi
• Database
• Hokum Hamurabi
• Byte
• Impresionisme
• Alegori
• Fotosintesa
• Bilangan urutan
• Skizofrenia
• Klausa pengendalian
Anda juga dapat menggunakan nama, sebagai alternative dari istilah. Berikut adalah beberapa conotohnya:
• Feud
• Copernicus
• Caesar
• Blake
• Roosovelt
• Marco Polo
• Joan Arc
• Dewey
• Pasteur
• Van Gogh
• Cuirie
• Chaucer
• Russel
• Ailey
2. Sortirlah pertanyaan menjadi lima tumpukan. Label tiap tumpukan dengan huruf B-I-N-G-O. kartu Bingo untuk tiap siswa. Kartu-kartu ini mesti mirip sesuai dengan kartu Bingo biasa, dengan nomor-nomor dalam tiap 24 celah dalam matrik 5X5 (celah tengah "Kosong.")
3. Bacalah sebuah pertanyan dengan angka yang terkait. Jika seorang siswa memiliki angkanya dan dia dapat. Bila seorang siswa mencapai lima jawaban benar dalam sebuah deretan (baik vertikal, horizontal, maupun di¬agonal). siswa tersebut boleh meneriakkan "Bingo." Permainan dapat diteruskan hingga ke25 celah tersebut terisi.

VARIASI
1. Sediakan hadiah yang tidak mahal, semisal sebungkus coklat, bila siswa mendapatkan Bingo.
2. Buatlah kartu yang memiliki sel-sel yang sebelumnya diisi dengan istilah utama (plus sel "kosong" di tengahnya). Ketika sebuah pertanyaan dibacakan, jika siswa yakin bahwa salah satu dari jawaban pada kartu itu cocok dengan pertanyaan tersebut, dia bisa menuliskan nomor pertanyaannya di sampingnya.

87. Tinjauan ala Permainan Hollywood Squares

URAIAN SINGKAT
Strategi peninjauan ini didasarkan pada tayangan kuis TV yang pernah propuler “Hollywood Squares."

PROSEDUR
1. Perintahkan tiap siswa untuk menuliskan dua atau tiga pertanyaan yang terkait dengan mata pelajaran. Pertanyaannya bisa dalam format pilihan ganda, benar/ salah. atau isian.
2. Kumpulkan pertanyaan. Jika anda menghendaki, tambahkan beberapa pertanyaan dari anda sendiri.
3. Simulasikan format tayangan permainan tic-tac-toc yang digunakan dalam Hollywood Squares. Tatalah tiga kursi di depan kelas. Perintahkan tiga siswa untuk duduk di lantai di depan kursi, tiga duduk di kursi dan tiga lagi berdiri di belakangnya.
4. Berikan kepada sembilan "selebriti" itu sebuah kartu dengan tanda X tercetak di satu sisi dan di sisi lain untuk ditempelkan ke tubuh mereka bila pertanyaannya berhasil dijawab.
5. Perintahkan dua siswa untuk bertugas selaku kontestan. Kontestan memilih anggota dari "celebrity square" untuk menjawab pertanyaan permainan.
6. Ajukan pertanyaan kontestan secara bergiliran kontestan menjawab dengan "setuju" atau "tidak setuju”' kepada tanggapan panel manakala mereka membentuk tic-tac-toc.
7. Siswa lain yang tidak terlibat dalam permainan diberi kartu yang menyatakan "setuju" di satu sisi dan "tidak setuju" di sisi lain untuk diberikan kepada kontestan untuk membantu mereka dalam membuat keputusan.

VARIASI
1. Lakukan rotasi pada para "selebriti" itu.
2. Pasangkan siswa. Perintahkan mereka untuk bermain tic-tac-toc kepada satu sama lain, berdasarkan kemampuan mereka untuk menjawab pertanyaan tinjauan anda.

Penilaian Sendiri
Akhir mid semester, akhir semester, atau akhir mata pelajaran merupakan waktu untuk melakukan perenungan. Apa yang telah saya pelajari? Apa yang sekarang saya yakini? Apa saja ketrampilan saya? Apa saja yang perlu diperbaiki? Menyediakan waktu untuk penilaian diri memberi siswa kesempatan untuk mengkaji apa yang bisa ia dapatkan dari pelajaran. Strategi-strategi yang berikut ini merupakan cara-cara terstruktur untuk meningkatkan jenis penlialan diri ini. Itu semua merupakan penutup pelajaran yang memberi makna bagi pengalaman siswa

88. Mempertimbangkan Kembali

URAIAN SINGKAT
Salah satu cara paling efektif untuk mendisain sebuah unit atau materi pelajaran adalah dengan meminta siswa mengemukakan pandangan mereka tentang topik pelajaran semenjak awal dan kemudian menilai kembali pandangan ini pada akhir pelajaran. Ada beberapa cara untuk melakukan bentuk pertimbangan kembali ini.

PROSEDUR
1. Pada awal dari sebuah unit atau mata pelajaran. perintahkan siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang topik pelajaran. Sebagai contoh, tanyakanlah tentang:
• Apa yang menjadikan _____ efektif (misalnya, tugas akhir)
• Apa manfaat dari sebuah __ (konstitusi)
• Apa saran yang hendak mereka berikan untuk menjadi _____ (misalnya aktor yang lebih baik)
Gunakan salah satu dari format berlkut:
• Diskusi kelompok
• Kuesioner
• Debat pembuka
• Pernyataan tertulis
2. Pada akhir dari mata pelajaran, perintahkan siswa untuk kembali mengemukakan pendapat mereka.
3. Tanyakan kepada siswa apakah pandangan mereka masih sama ataukah sudah berubah.

VARIASI
1. Diskusikan faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan pandangan.
2. Mulailah pelajaran dengan sebuah latihan yang memin¬ta siswa menuliskan situasi saat ini di mana mereka tidak begitu terampil atau tahu banyak sebagaimana mereka nantinya (setelah mengikuti pelajaran). Akhirilah pelajaran dengan sebuah latihan yang meminta siswa menanyakan pada diri sendiri bagaimana mereka akan mengatasi situasi secara lebih efektif di waktu mendatang.

89. Keuntungan dari Investasi Anda

URAIAN SINGKAT
Pendekatan ini meminta siswa untuk menilai apakah mereka akan mendapatkan manfaat dari pelajaran. Pendekatan ini menempatkan mereka dalam posisi "memiliki" harapan terhadap apa yang mereka pelajari, bukan hanya sekadar mengikuti pelajaran.

PROSEDUR
1. Pada awal pelajaran, perintahkan siswa untuk menuliskan apa yang bisa mereka dapatkan dari pelajaran.
Berikut adalah beberapa cara untuk menyusun latihan ini:
• Perintahkan siswa untuk membuat daftar berisi, tujuan belajar mereka atas pelajaran ini.
• Perintahkan siswa untuk membuat daftar berisi apa saja yang menurut mereka sulit atau tidak menarik pada pelajaran ini.
• Perintahkan siswa untuk membuat daftar berisi cara-cara yang bisa mereka gunakan untuk memanfaatkan apa yang mereka pelajari.
2. Meluangkan waktu secara berkala bagi siswa untuk membaca pernyataan awal mereka dan mempertimbangkan nilai-nilai apa yang selama ini mereka dapatkan dari pelajaran tersebut.
3. Pada akhir penyajian materi, akhir semester, atau akhir pelajaran, perintahkan siswa untuk menilai apakah investasi waktu dan usaha mereka di kelas ada manfaatnya jika ditinjau dari apa yang menjadi harapan mereka pada awal pelajaran.
4. Mintalah umpan balik dari siswa.

VARIASI
1. Buatlah sebuah pajangan berisi tujuan siswa agar mereka dapat mencocokkannya dengan mudah selama berlangsungnya pelajaran.
2. Perintahkan siswa untuk membuat penyajian materi yang menjelaskan apa yang mereka dapatkan dari investasi mereka dalam mengikuti pelajaran. Sebagai contoh, seorang siswa yang merasa bahwa pelajaran yang ia ikuti memiliki manfaat mungkin akan mengungkapkan bahwa dia mendapatkan keuntungan sebesar 75 persen dari investasi mereka.

90. Galeri Belajar

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini merupakan suatu cara untuk menilai, mengingat apa yang telah siswa pelajari selama ini.

PROSEDUR
1. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan dua hingga empat orang.
2. Perintahkan tiap kelompok untuk mendiskusikan apa yang didapatkan oleh pada anggotanya dari pelajaran yang mereka ikuti. Hal itu boleh jadi mencakup yang berikut ini:
• Pengetahuan baru
• Ketrampilan baru
• Peningkatan dalam bidang ketrampilan__________(misalnya pemrograman)
• Minat baru di bidang __________(misalnya sastra)
• Percaya diri dalam ___________(misalnya, berbicara bahasa Jerman)
Kemudian perintahkan mereka untuk membuat sebuati daftar pada kertas lebar berisi hasil "pembelajaran" ini. Perintahkan mereka untuk memberi judul atau menamai daftar itu "Hal-hal Yang Kita Dapatkan."
3. Tempelkan daftar tersebut pada dinding.
4. Perintahkan siswa untuk berjalan melewati tiap daftar. Perintahkan agar tiap siswa memberikan tanda centang di dekat hasil belajar yang juga dia dapatkan pada daftar selain dari daftarnya sendiri.
5. Surveilah hasilnya, cermati hasil pembelajaran yang pal¬ing umum didapatkan. Jelaskan sebagian hasil pembelajaran yang tidak biasa atau tidak diduga-duga.

VARIASI
1. Jika jumlah siswanya memungkinkan, perintahkan tiap siswa untuk membuat daftarnya sendiri.
2. Sebagai alternatif dari pembuatan daftar berisi 'hasil pembelajaran'. perintahkan siswa untuk membuat daftar "pengingat"—yang berisi gagasan atau saran yang diberikan selama pelajaran yang menurut siswa layak untuk diingat untuk diterapkan di kemudian hari.


91.Penilaian-Diri secara Fisik

URAIAN SINGKAT
Aktivitas ini serupa dengan Aktivitas 66, "Penilaian Diri Aktif." Dengan menggunakannya pada akhir pelajaran siswa dapat menilai seberapa banyak yang mereka pelajari atau mengubah pendirian yang dia punyai sebelum mengikuti pelajaran.

PROSEDUR .
1. Buatlah satu atau beberapa pernyataan yang menilai perubahan pada siswa. Contohnya meliputi:
• Saya berubah pendirian tentang _________lantaran mengikuti pelajaran ini.
• Saya mengalami peningkatan ketrampilan di bidang__________
• Saya mempelajari informasi dan konsep baru
2. Sisihkan meja atau kursi ke samping ruangan dan perintahkan siswa untuk berdiri di bagian belakang ruangan.
3. Buatlah skala penilaian angka dari 1 hingga 5 pada papan tulis atau dengan menempelkan skala angka itu di dinding.
4. Jelaskan bahwa anda akan membacakan sebuah pernyataan kepada siswa. Setelah mendengarkan masing-masing pernyataan, siswa harus berdiri di depan angka skala penilaian yang paling cocok dengan penilaian-dirinya. Gunakan skala yang berikut ini:
1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = ragu-ragu
4 = setuju
5 = sangat setuju
Manakala tiap pernyataan dibacakan, siswa harus beranjak ke tempat di dalam ruangan itu yang paling cocok dengan penilaian diri mereka. Sarankan siswa untuk menilai diri mereka secara realistis. Kemukakan bahwa beberapa faktor dapat menciptakan sedikit per¬ubahan atau samasekali tidak, Faktor-faktor itu meliputi tingkat pengetahuan atau ketrampilan sebelumnya. kebutuhan akan latlhan atau waktu yang lebih banyak, dan sebagainya.
5. Setelah terbentuk barisan di depan berbagai posisi, pe¬rintahkan siswa untuk berbagi alasan mengapa mereka memilih penilaian itu. Garis bawahi kejujuran mereka.
6. Setelah mendengarkan pendapat siswa lain, perintah¬kan setiap siswa yang ingin mengubah posisi angka mereka pada skala tersebut untuk melakukannya.

VARIASI
1. Gunakan penilaian sendiri dengan menggunakan alat tulis sendiri sebagai alternatif dari pemberian latihan secara terbuka.
2. Perintahkan siswa untuk berbaris guna mengetahui seberapa banyak yang setuju dengan tiap pernyataan. Tehnik ini, yang disebut "garis-lurus fisik," memaksa siswa untuk mendiskusikan satu sama lain aoa yang telah mereka pelajari dan bagaimana mereka mengalami perbahan manakala mereka menempatkan diri pada anak posisi yang mereka kehendaki pada garis lurus fisik tersebut.

92. Mozaik Penilaian

URAIAN SINGKAT
Latihan ini menggunakan kegiatan membuat gambar mozaik yang memungkinkan siswa menilai diri mereka dengan cara yang kreatif.

PROSEDUR
1. Kumpulkan beberapa rnajalah. Sediakan gunting, spidol, dan lem (atau isolasi) bagi siswa.
2. Perintahkan siswa untuk membuat sebuah mozaik yang menunjukkan apa yang telah mereka pelajari dan/ atau bagaimana perubahan yang mereka alami setelah mengikuti pelajaran.
3. Buatlah saran-saran berikut:
• Guntinglah kata-kata dari iklan majalah yang menjelaskan pandangan. ketrampilan, atau pengetahuan kalian.
• Tempelkan gambar visual yang secara grafis menjelaskan apa saja yang telah kalian capai.
• Gunakan spidol untuk memberi nama mozaik terse¬but dan untuk memberi tambahan penjelasan gambar versi kalian sendiri.
• Buatlah sebuah galeri mozaik penilaian. Perintahkan siswa untuk mengunjungi hasil-hasilnya dan memberi komentar tentang mozaik yang dipajang.

VARIASI
1. Buatlah mozaik tim ebagai alternatfi dari mozaik perseorangan
2. Sebagai laternatif dari pembuatan mozaik, perintahkan siswa untk membuat “perisai” atau “rompi tentara” yang ditempeli stiker berisi hal-hal yang mereka capai.

Perencanaan Masa Depan
Pada akhir dari pelajaran yang menampilkan kegiatan belajar aktif, siswa biasanya akan bertanya. "selanjutnya bagairnana?" Keberhasilan belajar aktif benar-benar terukur oleh cara menjawab pertanyaan itu—yakni, bagaimana hal-hal yang telah dipelajari di kelas mempengaruhi apa yang akan dilakukan siswa di masa mendatang. Strategi-strategi yang berikut ini dirancang untuk mendukung perencanaan masa depan. Sebagian di antaranya merupakan teknik yang cukup cepat yang bisa anda gunakan bila waktunya terbatas. Sebagian lain memerlukan lebih banyak waktu dan komitmen namun akan membuahkan hasil yang lebih balk.

93. Tetaplah Belajar

URAIAN SINGKAT
Strategi ini memungklnkan siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata pelajaran yang anda ajarkan.

PROSEDUR
1. Kemukakan harapan anda agar siswa tidak berhenti belajar hanya karena pelajaran telah berakhir.
2. Kemukakan kepada siswa bahwa ada banyak cara bagi mereka untuk terus belajar secara mandiri.
3. Tunjukkan bahwa salah satu caranya adalah dengan membuat daftar berisi gagasan mereka sendiri untuk "terus mempelajari."
4. Buatlah sub-sub kelompok. Perintahkan tiap sub kelompok untuk mencetuskan gagasan. Berikut adalah beberapa saran umum:
• Carilah artikel majalah, koran dsb, yang terkait dengan mata pelajaran.
• Ambil cara lain dalam bidang pelajaran yang sama.
• Buatlah daftar bacaan masa mendatang.
• Baca kembali buku dan tinjaulah catatan yang dibuat selama pelajaran.
• Ajarkan sesuatu yang kalian pelajari kepada siswa lain.
• Cari pekerjaan atau tugas yang mengguankan ketrampilan yang telah kalian pelajri
5. Perintahkan siswa untuk kembali ke tempat masing-masing dan perintahkan tiap sub kelompok untuk berbagi gagasan terbaiknya.

VARIASI
1. Siapkan terlebih dahulu, sebuah daftar saran bagi siswa. Perintahkan mereka untuk memeriksa saran-saran yang dicmggap cocok bagi mereka.
2. Kirimi siswa gagasan untuk memperpanjang pembelajaran mereka beberapa minggu setelah pelajaran berakhir.

94. Stiker yang Sangat Lengket

URAIAN SINGKAT
Strategi yang menyenangkan ini memungkinkan siswa untuk membuat pengingat, yang mengingatkan mereka supaya menggunakan apa yang telah mereka pelajari. Mereka mesti menempelkannya pada bagian-bagian yang permukaannya rata (kulkas, pintu, meja dsb).

PROSEDUR
1. Perintahkan siswa untuk membuat stiker imajiner yang dapat dilekatkan pada mobil yang isinya mengiklankan sebagai berikut:
• Satu hal yang mereka pelajari di kelas ("Pengamatan merupakan dasar dari semua ilmu pengetahuan"
• Pemikiran utama atau penggalan saran yang akan mereka ingat untuk memandu mereka di masa mendatang ("Gunakan kalimat topik")
• Langkah pemraktikan yang akan mereka ambil kelak ("Baca-baca dulu materinya sebelum kau membacanya secara serius")
• Pertanyaan untuk diajukan ("Apa sih yang menjadi tujuan saya?")
2. Perintahkan siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka seringkas mungkin. Perintahkan mereka untuk merumuskan kemungkinkan sebelum menentukan pilihan. Doronglah mereka untuk mendapatkan reaksi siswa lain atas gagasan mereka. Mereka bisa mencontoh tulisan pada stiker yang sudah terkenal. misalnya "Berani Berbuat, Berani _____," atau slogan iklan misalnya Tidak ada _____''yang mampu menandinginya.”
3. Sediakan materi dan perlengkapan untuk membuat stiker seatraktif mungkin.
4. Buatlah galeri pajangan stiker. Pastikan bahwa siswa membawa pulang stiker mereka untuk dipajang di tempat yang menurut mereka cocok.

VARIASI
1. Berikan kepada siswa stiker buatan anda sendiri untuk mereka bawa pulang.
2. Perintahkan siswa untuk merumuskan ide tulisan stiker pada kartu indeks. Kumpulan kartu-kartu tersebut dan bagikan kepada seluruh kelompok. Perintahkan tiap siswa untuk memilih tiga ide dari siswa lain yang cocok dengan mereka.


95. Dengan Ini Saya Tetapkan Bahwa...

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi yang banyak dipraktikan untuk mendapatkan komitmen terhadap penerapan atas apa yang telah dipelajari di kelas. Strategi Ini juga merupa¬kan cara yang balk untuk membantu siswa mengingat pelajaran yang telah lama berlalu.

PROSEDUR
1. Perintahkan siswa untuk mengatakan kepada anda apa yang mereka dapatkan dari pelajaran. Catat pikiran mereka dan pajanglah dalam bentuk daftar campuran.
2. Berikan kepada siswa selembar kertas kosong dan sehelai amplop.
3. Perintahkan mereka untuk menulis aendiri sepucuk surat yang mengindikasikan apa yang mereka (secara pribadi) telah atau terus pelajari dari mata pelajaran dengan cara mereka sendiri. Sarankan agar mereka memulal surat dengan kata-kata "Dengan ini saya tetap kan bahwa."
4. Katakan pada mereka bahwa surat itu bersifat rahasia. Perintahkan mereka untuk memasukkannya ke dalam amplop. Alamatkan pada diri sendiri, dan kemudian amplopnya dilem.
5. Perintahkan siswa untuk menyertakan catatan pada amplop yang menyebutkan kapan mereka ingin mengirimkannya ke alamat mereka sendiri. Janjikan untuk mengirim surat itu, kepada siswa bila mereka memintanya.

VARIASI
1. Sebagai alternatif dari memerintahkan siswa untuk mengirim surat ke alamat sendiri, sarankan mereka untuk menulis kepada orang lain, yang menunjukkan keputusan dan permintaaan dukungan mereka.
2. Setelah satu bulan kirimkan sepucuk surat kepada siswa yang isinya adalah ikhtisar pokok-pokok pela¬jaran. Doronglah mereka untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Sarankan beberapa cara untuk terus mempelajari mata pelajaran


96. Kuesioner Lanjutan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan strategi yang cerdik untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pelajaran setelah larna berakhir. Strategi Ini juga berfungsi sebagai cara untuk tetap berhubungan dengan siswa.

PROSEDUR
1. Jelaskan kepada siswa bahwa anda hendak mengirimi mereka kuesioner lanjutan satu bulan mendatang. Kuesioner itu dimaksudkan untuk (1) membantu mereka mengevaluasi apa yang telah mereka pelajari dan seberapa bagus capaian mereka dan (2) memberi anda umpan balik
2. Katakan kepada mereka untuk mengisi kuesioner demi kebaikan mereka sendlri. Perintahkan mereka untuk mengemballkan kuesioner itu kapan saja mereka meng-hendaki.
3. Ketika anda menyusun kuesioner, pertimbangkan beberapa saran berikut ini:
• Usahakan agar nada pertanyaannya informal dan ramah.
• Campurkan pertanyaan-pertanyaannya agar pertanyaan yang paling mudahlah yang lebih dahulu diisi. Gunakan format semisal cheklist. skala penilaian, kalimat tak lengkap, dan esai pendek.
• Tanyakan tentang apa yang paling mereka ingat, ketrampilan apa yang sekarang mereka terapkan, dan keberhasllan apa yang telah mereka capai.
• Tawarkan kepada siswa peluang untuk bertanya kepada anda tentang persoalan dan cara penerapannya.
Berikut adalah contohnya:
Setelah berpartisipasi dalam sebuah pelajaran "Komunikasi Asertif," siswa diberikan kuesioner lanjutan seperti misal:
Halo! Bagamana kabarnya? Saya harap kalian memiliki kesempatan untuk menerapkan ketrampilan. komunikasi asertif kalian. Seperti saya janjikan, saya mengirimi kalian kuesioner ini guna. membantu kalion meninjau ulang dan menilai kemampuan kalian untuk memantapkan diri dalam mencapai tujuan kalian. Dengan mengirimkan kembali kuesioner ini kepada. saya, kalian juga akan membantu saya mengevaluasi pengaruh dari pelayanan yang saya ajarkan. Terima kasih!
1. Peringkatkanlah situasi-situasi berikut ini berdasar-kan urutan kesulitannya menurut kalian pada skala dari 1 (sangat tidak sulit) hingga 5 (amat sangat sulit).
_______Mengatakan "Tidak" tanpa meminta maaf.
_______Memulal percakapan.
_______Mencurahkan perasaaan secara jujur.
_______Bersikap menyakinkan.
_______Menghadapi orang yang sangat sulit.
2. Indikaslkan tingkat kesulitan yang kalian imliki dalam situasi berikut ini:
Berbicara dengan lawan jenis _____ _____ _____
Mendlsipllnkan anak Berbicara di telepon _____ _____ _____
Meminta kenaikan gaji _____ _____ _____
Berbicara dalam kelompok _____ _____ _____
Menolak tawaran sales _____ _____ _____
Mengembalikan makanan di sebuah restoran _____ _____ _____
3. Jelaskan dengan singkat situasi saat Ini. di mana Italian bertindak secara tegas:



4. Jelaskan situasi terkini dimana kalian tidak bertindak tegas dan menyesalinya


5. Lengkapilah pernyataan berikut ini:
______ Tolong Telepon saya. Saya mengalami kesulitan dengan _____
______ Semuanya baik-baik saja kok. Tidak perlu menelpon saya.

VARIASI
1. Kirimkan materi lanjutan yang mungkin menarik bagi siswa.
2. Sebagai alternatif dari pengalaman kuesioner, wawancarailah siswa via telepon atau secara empat mata. Gunakan sampel kecil jika jumlah siswanya banyak.


97. Berpegang Erat

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan sebuah prosedur di mana siswa membuat komitmen serius untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

PROSEDUR
1. Perintahkan siswa untuk mengisi formulir lanjutan pada akhir pelajaran. Formulir itu berisi pernyataan-pernyatan semisal bagaimana mereka berencana menerapkan apa yang telah mereka pelajari atau untuk terus mempelajari lebih banyak tentang mata pelajaran yang telah mereka ikuti. Berikut adalah formulir sampelnya.

Formulir Perencanaan Masa Depan

Jelaskan bagaimana kalian berencana menerapkan pelajaran ini dan katakan kapan dan bagaimana kalian berencana menerapkannya. Berikan penjelasan secara rinci.
A. Situasi


Rencana yang akan saya terapkan

B. Situasi


Rencana yang akan saya terapkan

Jelaskan apa yang ingin kalian lakukan untuk terus mempelajari (sisipkan nama pelajaran):









2. Bila formulir itu sudah lengkap, berltahu siswa bahwa lembar perencanaan masa depan mereka akan dikirim kepada mereka dalam tiga atau empat minggu. Pada selang waktu sebelum itu, mereka dikirimi instruksi lanjutan berikut ini:
Silahkan tinjau lembar perencanaan masa depan kalian. Tempatkan huruf A di dekat rencana-rencana yang telah berhasil kalian terapkan. Tempatkan huruf B di samping rencana-rencana yang tengah kalian kerjakan penerapannya. Tempatkan huruf C di dekat rencana-rencana yang belum dapat kalian realisasikan. Jelaskan kendala apa saja yang menghalangi penerapan rencana kalian.

VARIASI
1. Perintahkan siswa untuk berbagi rencana masa depan mereka dengan seorang yang bisa memberi saran. Sarankan agar mereka secara bersama menyusun rencana Itu untuk membantu siswa agar "tetap menjadikannya pegangan."
2. Cantumkan dukungan pemberi saran atas rencana ini dalam sebuah daftar sebelum pelajaran dimulai.

Ucapan Perpisahan
Pada umumnya, siswa mengalami rasa kedekatan dengan teman sekelas. Ini terjadijika siswa ainbll bagian dalaiii keglatan belajar aktif. Mereka perlu mengucap-kan perpisahan satu sama lain dan rnengungkapkan penghargaan mereka atas dukungan dan dorongan yang diberikan satu sama lain selama mengikuti pelajaran. Ada banyak cara untuk membantu menyemarakkan suasana perpisahan ini. Strategi-strategi yang berikut Ini cukup baik untuk diterapkan;

98. Papan Scrabble Perpisahan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan tehnik yang memungkinkan siswa untuk berkumpul bersama pada akhir pelajaran dan mengenang apa yang telah mereka alami bersama. Ini dilakukan dengan membuat papan scrabble raksasa.

PROSEDUR
1. Buatlah pajangan besar dengan judul mata pelajaran yang diajarkan. Gabungkan kata-kata di dalam judul jika ada lebih dari satu kata. Sebagai contoh, "Sejarah Kuno" menjadi sejarah kuno.
2. Berikan spidol kepada siswa. Jelaskan, bila perlu, cara membuat kata-kata dengan sistem scrabble, dengan menggunakan judul yang dipajang sebagai pangkal katanya. Pertimbangkan cara-cara pembentukan kata berikut ini:
• Secara mendatar atau menurun
• Dimulai dengan. diakhiri dengan, dan disisipi dengan huruf apa saja yang sudah tersedia.
Namun demlkian, ingatkan siswa bahwa mereka tidak boleh menggabungkan dua kata haru ada spasi antara keduanya. Gunakan nama atau ejaan yang benar.
3. Tetapkan batas waktunya dan perintahkan siswa untuk membuat kata-kata kunci sebanyak yang mereka bias yang berkaitan dengan mata pelajaran atau pengalaman belajar yang telah mereka jalani.
4. Sarankan supaya mereka membuat pembagian kerja agar sebagian siswa melakukan pencatatan dan sebgia lain mencari kata-kata baru.
5. Ucapkan kata "Mulai" dan perintahkan siswa untuk menghitung kata-kata dan berikan tepuk tangan meriah sebagai penghargaan atas catatan visual yang menarik yang berisi pengalaman mereka

VARIASI
1. Jika ukuran kelompok tidak memungkinkan atau cukup menyulitkan untuk aktivitas ini, bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok yang masing-masing mem¬buat papan Scrabble. Tampilkan hasilnya bersama dan hitunglah jumlah total kata-kata yang dihasilkan oleh seluruh siswa.
2. Sederhanakan aktivitas itu dengan menulis judul pela¬jaran secara menurun dan meminta siswa menulis (secara mendatar) sebuah verba, ajektiva, atau kata benda yang mereka kaitkan dengan judul itu dan berawal dari masing-masing huruf dalam judul tersebut

99. Menjalin Hubungan

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan sebuah kegiatan yang secara simbolik menggambarkan sebuah pelajaran yang sudah hampir diakhiri. Aktivitas ini terutama cocok bila siswa telah memiliki hubungan erat satu sama lain.

PROSEDUR
1. Gunakan seutas benang untuk menghubungkan siswa, dalam artian harfiah maupun simbolis.
2. Perintahkan semua siswa untuk berdiri dan membentuk lingkaran. Mulailah prosesnya dengan menyatakan secara singkat apa yang anda alami selama memberikan pelajaran.
3. Dengan memegang ujung benang, lemparkan bundelannya kcpada seorang siswa di sisi lain dari lingkaran itu. Perintahkan siswa tersebut untuk menyatakan secara singkat apa yang dia alami sebagai hasil dari keikutsertaannya dalam pelajaran ini. Kemudian perintahkan siswa itu untuk memegang benang dan melemparkan bundelannya kepada siswa lain.
4. Perintahkan tiap siswa untuk mengambil giliran menerima bundelan, berbagi pemikiran, dan melemparkan benang, terus memegang bagian yang menyakitkan dirinya. Formasi yang dihasilkan adalah sebuah jaring benang yang mengkaitkan setiap anggota kelompok.

Beberapa komentar yang dapat diungkapkan meliputi:
• Saya senang bisa mengenal teman sekelas secara pribadi.
• Saya merasa bisa bersikap terbuka dan jujur disini
• Saya mendapatkan kegembiraan di kelas ini.
• Saya mulai memikirkan cara-cara untuk mempraktikkan apa yang telah saya pelajari.
• Kita semua adalah kelompok besar!
5. Lengkapi aktivitas itu dengan menyatakan bahwa pro¬gram ini bermula sebagai pengumpulan individu yang mau menjalin hubungan dan belajar satu sama lain.
6. Putuskan benang menggunakan gunting agar tiap siswa, kendati datang secara individual, memegang bagian dan siswa lain. Ucapkan terirna kasih kepada siswa atas minat, gagasan, waktu dan usaha mereka.

VARIASI
1. Perintahkan tiap siswa untuk mengungkapkan rasa penghargaannya kepada siswa yang mengulurkan benang kepadanya.
2. Sebagai altematif dari penggunaan benang, lemparkan atau overkan sebuah bola atau benda serupa itu. Perintahkan tiap siswa untuk menerima bola, kemudian dia boleh mengungkapkan ucapan perpisahan.

100. Foto Bersama

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan aktivitas yang mengakui sumbangsih dari setiap siswa sembari mengenang seluruh teman sekelas.

PROSEDUR
1. Kumpulkan seluruh siswa untuk diambil fotonya secara bersama. Sebaiknya dibuatlah minimal tiga deret siswa—deret pertama jongkok di lantai, deret kedua duduk di kursi, dan deret ketiga berdiri di belakang kursi. Ketika anda akan mengambil gambar, ucapkanlah kata-kata perpisahan anda. Tekankan betapa kegiatan belajar aktif sangat bergantung pada dukungan dan keterlibatan siswa. Ucapkan terima kasih kepada siswa atas keikutsertaan mereka demi keberhasilan pelajaran.
2. Selanjutnya, perintahkan salah satu siswa untuk meninggalkan kelompok dan menjadi "fotografer". (Opsional: Perintahkan tiap peserta untuk sekadar nadir dan melihat gambar terakhir seluruh teman sekelas.)
3. Jika jumlah siswa dalam kelas tidak terlalu besar, perintahkan tiap siswa untuk berbagi pendapat terakhir mereka dengan kelompok. Perintahkan kelompok untuk memberi tepuk tangan kepada siswa itu atas kontribusinya bagi kelas.
4. Bila filmnya sudah dicetak, berikan tiap anggota masing-masing satu foto berisi seluruh anggota kelas.

VARIASI
1. Gunakan sesi foto bersama sebagai kesempatan untuk meninjau beberapa inti pelajaran.
2. Sebagai alternatif dari membuat kenangan perpisahan bersama, perintahkan siswa untuk menulis pendapat akhir pada selembar kertas dan menempelkannya di dinding.


101."Ujian Akhir"

URAIAN SINGKAT
Ini merupakan cara yang menyenangkan untuk mengenang kegiatan yang berlangsung dalam kelas.

PROSEDUR
1. Beri siswa kertas kosong dan katakan kepada mereka inilah saatnya "ujian akhir". Usahakan agar mereka tegang menghadapi ujian akhir.
2. Katakan kepada mereka bahwa tugas mereka adalah menulis secara urut banyaknya aktivitas belajar yang telah mereka jalani di kelas. (Sampai di sini, kemukakan bahwa ini merupakan tantangan yang menyenangkan yang tidak akan dinilai).
3. Setelah setiap siswa selesai (atau menyerah!) buatlah daftar kegiatan belajar yang merupakan campuran dari seluruh siswa. Lakukan penyesuaikan sampai daftar urutan kegiatan itu benar.
4. Berdasarkan daftar kegiatan belajar yang dipajang, perintahkan siswa untuk mengenang pengalaman-pengalaman tersebut, mengingat saat-saat menyenangkan, saat bekerjasama, dan berbagi pendapat.
5. Adakan diskusi agar acara mengenang kembali itu menghadirkan semacam suasana perpisahan yang nuansa emosionalnya kuat bagi seluruh siswa.

VARIASI
1. Sediakan daftar kegiatan dari awal pelajaran. Segeralah memulai diskusi mengenang seluruh kegiatan kelas.
2. Sebagai alternatif dari pemfokusan pada kegiatan, fokuskan latihan pada "saat-saat untuk dikenang." Biarkan siswa menginterpretasikan kata-kata ini. Ini dapat menciptakan kenangan yang penuh tawa dan nostalgia bagi seluruh kelas.

102. Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pandekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pengajaran masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2)), “Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teacihg (Pembelajaran Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.
Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pengajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pengajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri.
1. Ciri-cirinya
Berbagai pengembangan pengajaran berbasis masalah telah mencoba menunjukkan cirri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut.
a. Pengajuan pertanyaa atau masalah.
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidipan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu.
b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu Sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih yang benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
c. Penyelidikan autentik.
Pengajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan masalah nyata. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan masalah, mengembankan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat iferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sesdang dipelajari.
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video atau program computer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7).
Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
2. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar
Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadikan pembelajar yang otonom dan mandiri. Uraian rinci terhdap ketiga tujuan itu dijelaskan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur (2000:7-12) berikut ini.
a. Keteramplan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah
Berbagai macam ide telah digunakan untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah keterampilan berpikir itu dan terutama apakah keterampilan berpikir itu?
- Berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran.
- Berpikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berbeda dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat konkret dari fakta dan kasus khusus.
- Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama.
Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memberikan penjelasan sebagai berikut:
- Berpikir tingkat tinggi adalah nonalgoritmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapan sebelumnya.
- Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang.
- Berpikir tingkat tinggi sering kali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interpretasi.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya diketahui.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri tentang proses berpikir. Kita tidak mengakui sebagai berpikir tingkat tinggi pada seseorang jika ada orang lain membantunya pada setiap tahap.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur.
- Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan.
Perlu dicatat bahwa Resnick menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti pertimbangan, pengaturan diri, pencarian makna, dan ketidakpastian. Hal ini berarti bahwa proses berpikir dan keterampilan yang perlu diaktifkan sangatlah kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada saat berpikir tentan berpikir. Meskipun proses memiliki beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses yang kita gunakan untuk memikirkan matematika berbeda dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan puisi. Proses berpikir yang digunakan untuk memikirkan ide abstrak berbeda dengan yang digunakan untuk memikirkan situasi kehidupan nyata. Karena hakikat kekomplekan dan konteks dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka keterampilan itu tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih konkret. Keterampilan proses dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga jelas dapat diajarkan, dan kebanyakan program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini sangat mendasarkan diri pada pendekatan yang sama dengan pengajaran berbasis masalah.
a. Pemodelan Peran Orang Dewasa
Resnick juga memberikan rasional tentang bagaimana pengajaran berbasis masalah membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar tentang pentingnya peran orang dewasa. Dalam banyak hal pengajaran berbasis masalah bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang dewasa.
1. Pengajaran berbasis masalah memiliki unsur-unsur belajar magang. Hal tersebut mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.
2. Pengajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut.
b. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri
Pengajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya.
3. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Tabel 2.1. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah
Tahapan Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubugnan dengan masalah tersebut
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informsi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penyelasan dan pemecahan masalahnya.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siwa merekncanakan dan menyiapkan karyayang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagai tugas dengan temannya.
Tahap 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan maslah Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

4. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen
Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan system manajemen dalam pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pengajaran berbasis masalah, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan.

103. Metode Demonstrasi
Yang dimaksud metode demonstrasi adalah salah satu cara mengajar, di mana guru melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru. Dalam metode pembelajaran ini, siswa tidak melakukan percobaan, hanya melihat saja apa yang dikerjakan oleh guru. Jadi demonstrasi adalah cara mengajar di mana seorang instruktur/atau tim guru menunjukkan, memperlihatkan sesuatu proses misalnya merebus air sampai mendidih 100 C, sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati, mendengar mungkin meraba-raba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut.
Dengan demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperlihatkan pada apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.
Adapun penggunan teknik demonstrasi mempunyai tujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu misalnya penggunaan kompor untuk mendidihkan air, cara membuat sesuatu misalnya membuat kertas, dengan demonstrasi siswa dapat mengamati bagian-bagian dari sesuatu benda ata alat seperti bagian tubuh manusia, atau bagian dari mesin jahit. Juga siswa dapat menyaksikan kerjanya sesuatu alat atau mesin seperti penggunaan gunting dan jalannya mesin jahit. Bila siswa melakukan sendiri demonstasi tersebut, maka ia dapat mengerti juga cara menggunakan sesuatu alat itu seperti menggunakan gunting untuk memotong kain. Dengan demikian siswa akan mengerti cara-cara penggunaan seautu alat atau perkakas, atau suatu mesin, sehingga mereka dapat memilih dan memperbandingkan cara yang terbaik, juga mereka akan mengetahui kebenaran dari sesuatu teori di dalam praktek. Misalnya cara memasak roti yang terbaik.
Bila melaksanakan teknik demonstrasi agar bisa berjalan efektif, maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Guru harus mampu menyusun rumusan tujuan instruksional, agar dapat memberi motivasi yang kuat pada siswa untuk belajar.
2. Pertimbangkanlah baik-baik apakah pilihan teknik anda mampu menjamin tercapainya tujuan yang telah anda rumuskan.
3. Amatilah apakah jumlah siswa memberi kesempatan untuk suatu demonstrasi yang berhasil. Bila tidak anda harus mengambil kebijaksaaan lain.
4. Apakah anda telah meneliti alat-alat, atau telah mencoba terlebih dahulu, agar demonstasi itu berhasil.
5. Harus sudah menentukan garis besar langkah-langkah yang akan dilakukan.
6. Apakah tersedia waktu yang cukup, sehingga anda dapat memberi keterangan bila perlu, dan siswa bisa bertanya.
7. Selama demonstrasi berlangsung guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk mengamati dengan baik dan tertanya.
8. Anda perlu mengadakan evaluasi apakah demonstrasi yang anda lakukan itu berhasil, dan bila perlu demonstrasi bisa diulang.
Penggunaan teknik demonstasi sangat menunjang proses interaksi mengajar belajar di kelas. Keuntungan yang diperoleh ialah, dengan demonstrasi perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran yang sedang diberikan, kesalahan-kesalahan yang terjadi bila pelajaran itu direncanakan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh kongkrit. Sehingga kesan yang diterima siswa lebih mendalam dan tinggal lebih lama pada jiwanya. Akibatnya selanjutnya memberikan motivasi yang kuat untuk siswa agar lebih giat belajar. Jadi dengan demonstasi itu siswa dapat partisipasi aktif, dan memperoleh pengalaman langsung, serta dapat mengembangkan kecakapannya walaupun demikian kita masih melihat juga kelemahan teknik ini ialah:
Bila alatnya telalu kecil, atau penempatan yang kurang tepat, menyebabkan demonstrasi itu tidak dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa. Dalam hal ini dituntut pula guru harus mampu menjelaskan proses belangsungnya demonstrasi, dengan bahasa dan suara yang dapat ditangkap oleh siswa. Juga bila waktu tidak tersedia dengan cukup, maka demonstrasi akan berlangsung terputus-putus, atau tidak dijalankan tergesa-gesa, sehingga hasilnya memuaskan. Dalam demonstasi bila siswa tidak diikutsertakan, maka proses demonstrasi akan kurang dipahami oleh siswa, sehingga kurang berhasil adanya demonstrasi itu.
Maka kadang-kadang dalam pemakaian teknik mengajar itu anda perlu menyertai dengan teknik yang lain, atau menkombinasikan dengan lain, sehingga mampu mengatasi teknik inti yang sedang dimanfaatkan itu.
104. Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Teknik penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa memampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebainya. Suaut konsep misalnya: segi tiga, pans, demokrasi dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prisnsip antara lain ialah: logam apabila dipanaskan akan mengemabang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa (belajar sndiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situsi teacher learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning, ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri. Agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan teknik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
Maka teknik ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
- Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.
- Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
- Dapat membangkitkan kegairahan belajar mengajar para siswa.
- Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengankemampuannya masing-masing.
- Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
- Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja, membantu bila diperlukan.
Walalupun demikian baiknya teknik ini toh masih ada pula kelemahan yang perlu diperhatikan ialah:
- Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.
- Bila kelas terlalu besar penggunaan teknikini akan kurang berhasil.
- Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan.
- Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertiansaja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
- Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif.
105. Metode Eksperimen
Karena kemajuan teknologi dan ilmu pengertahuan, maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen. Yang dimaksud adalah salah satu cara mengajr, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mamapu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cra berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimaen siswa menemukan bukti keberanaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
Agar penggunaan teknik eksperimen itu efisien dan efektif, perlu pelaksana memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.
2. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih.
3. Kemudian dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsetrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.
4. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih, maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memeproleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.
5. Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah yang mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan sosial dan keyakina manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
Bila siswa akan melaksanakan suatu eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut:
1. Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, mereka harus mehami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen.
2. Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang:
- Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalma percobaan.
- Agar tidak mengalami kegagalan siswa perlu mengetahui variable-variabel yang harus dikontrol dengan ketat.
- Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung.
- Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang akan dicatat.
- Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya.
3. Selama eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
4. Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan ke kelas, dan mengavaluasi dengan tes atau sekedar Tanya jawab.
Teknik eksperimen kerap kali digunkan karena memiliki keunggulan ialah:
1. Dengan eksperimen siswa berlatih menggunanakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percayha apdda sesuatu yang belum pasti kebenarannya, dan tidak mudah percaya pula kata orang, sebelum ia membuktikan kebenarannya.
2. Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal mana itu sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern, di mana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.
3. Siswa dalam melaksanakan proses sendiri kebenaran sesuatu teori, sehigga akan mengubah sikap mereka yang tahayul, ialah peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal.

106. Pengajaran Berbasis Inkuiri
Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan satu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atu pembaharuan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan/inkuiri, siswa didorong untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri, Bruner (1966), penganjur pembelajaran dengan basis inkuiri, menyatakan sebagai berikut: “Kita mengajarkan suatu bahan kajian tidak untuk menghasilkan perpustakaan hidup tentang bahan kajian itu, tetapi lebih ditujukan untuk membuat siswa berpikir untuk diri mereka sendiri, meneladani seperti apa yang dilakukan oleh seorang sejarawan, mereka turut mengambil bagian dalam proses, bukan suatu produk (Nur & Wikandari, 2000:10). Belajar dengan penemuan dapat diterapkan dalam banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, siswa diberi sederet silinder dengn ukuran dan berat yang berbeda-beda. Siswa diminta untuk menggelindingkan silinder tersebut pada suatu bidang miring. Bila percobaan itu dilakukan dengan benar, siswa akan dapat menemukan prinsip-prinsip utama yagn menentuan kecepatan silinder tersebut.
Belajar dengan penemuan mempunyai berbagai keuntungan. Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutan pekerjaannya hingga mereka menemukan prinsip-prinsip utama yang menentukan kecepatan silinder tersebut.
Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan. Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisa dan menangani informasi.
Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajar yang mengikuti metodologi IPA dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Inkuiri adalah seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Inkuiri melibatkan observasi dan pengukuran, pembutan hipotesis dan interpretasi, pembentukan model dan pengujian model. Inkuiri menuntut adanya eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan akan keunggulan dan kelamahan metode-metodenya sendiri.
Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat menajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri. Pertanyaannya bersifat open-ended, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan mereka mencari jawaban sendiri (tetapi tidak hanya satu jawaban yang benar).
Inkuiri adalah apa yang dibuat oleh para ilmuwan. Para ilmuwan melakukan ikuiri dengan suatu cara formal dan sitematis, dan dalam proses melakukan inkuiri para ilmuwan memberikan kontribusi pada tubuh informasi yang bersifat kolektif yang kita sebut pengetahuan. Dalam proses mengalami ilmu melalui inkuiri, siswa belajar bagaiman menjadi ilmuwan. Mereka belajar lebih banyak lagi ketimbang hanya konsep dan fakta, mereka mempelajari berbagi proses yang terlibah dalam pemantapan konsep dan fakta.
Inkuiri memberikan kepada siswa pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif. Siswa diharapkan mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan maslah, membuat keputusan, dan memperoleh ketarampilan. Inkuiri memeungkinkan siswa dalam berbgai tahap perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan bahkan mereka bekerja sama mencari solusi terhadap masalah-masalah. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing.
Inkuiri memungkinkan terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika siswa melakukan eksplorasi mereka cenderung mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan melibatkan IPA dan matematika, ilmu sosial, bahasa, seni, dan teknik.
Inkuiri melibatkan pula komunikasi. Siswa harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan berhubungan. Mereka harus melapoirkan hasil-hasil temuannya, lisan atau tertulis. Dengan begitu, mereka bekerja dan mengajar satu sama lain. Inkuiri memungkinkan guru mempelajari siswa-siswanya – siapa mereka, apa yang mereka ketahui, dan bagaimana mereka bekerja. Pemahaman guru tentang siswa akan memungkinkan guru untuk menjadi fasilitator yang lebih efektif dalam proses pencarian ilmu oleh siswa.
Ketika guru menggunakan teknik inkuiri, guru tidak boleh banyak bertanya atau berbicara. Terlalu banyak intervensi, terlalu banyak bertanya, dan terlalu banyak menjawab akan mengurangi proses belajar siswa melalui inkuiri. Dengan demikian, proses belajar tidak akan lagi menyenangkan. Dalam proses inkuiri, siswa dituntut untuk bertanggung jawab bagi pendidikan mereka sendiri. Guru yang menaruh perhatian pada pribadi siswa, akan menemukan kegiatan-kegiatan yang disukai siswa, juga hal-hal yng baik yag ada dalam diri siswa-siswanya, dan kesulitian-kesulitan yang mengganggu siswa dalam proses belajar. Guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajara siswa-siswanya.
Siklus inkuiri adalah: (1) Observasi (Observation); (2) Bertanya (Questioning); (3) Mengajukan dugaan (Hipothesis); (4) Pengumpulan data (Data Gathering); dan Penyimpulan (Conclusion).
Inkuiri adalah satu proses yang bergerak dari langkah observasi sampai langkah pemahaman. Inkuiri dimulai dengan observasi yang menjadi dasar pemunculan berbagai pertanyaan yang diajukan siswa. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dikejar dan diperoleh melalui suatu siklus pembuatan prediksi, perumusan hipotesis, pengembangan cara-cara pengujian hipotesis, pembuatan observasi lanjutan, penciptaan teori dan model-model konsep yang didasarkan pada data dan pengetahuan. Inkuiri menciptakan berbagai kesempatan bagi guru untuk mempelajari bagaimana otak siswa bekerja. Guru dapat memanfaatkannya untuk menentukan situasi-situasi belajar yang tepat dan memfasilitasi siswa dalam proses pencarian ilmu.
Dalam proses inkuiri, siswa belajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan slah satu tujuan pendidikan. Ketika siswa belajar berpikir kritis, merka kan memperlihatkan pikiran-pikiran dan proses-proses sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanya seperti “Bagaimana itu kita tahu?” atau “Apa buktinya?”
b. Mengetahui perbedaan antara observasi dan kesimpulan.
c. Mengetahui bahwa semua gagasan ilmiah itu dapat berubah dan bahwa teori yang ada adalah teori-teori yang terbaik berdasarkan bukti yang kita miliki sejuh nini.
d. Mengetahui bahwa diperlukan bukti yang cukup untuk menarik suatu kesimpulan yang kuat.
e. Memberi penjelasan atau interpretasi, memalkukan observasi dan/atau prediksi.
f. Selalu mencari konsistensi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang diambil dan memgerikan penjelasan dengan rasa percaya diri.
Salah satu tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini.seperti halnya setiap tujuan yang lain, belajar berpikir kritis bergantung pada penataan suasana kelas yang mendorong penerimaan pandangan divergen (berbeda) dan diskusi bebas. Tatanan itu seharusnya juga lebih menekankan pada pemberian alasan atau pandangan daripada hanya memberikan jawaban benar. Keterampilan dalam berpikir kritis paling baik dicapai bila dihibungkan dengan topik-topik yang dikenal siswa. Tujuan pengajaran berpikir kritis adalah menciptakan suatu semangat berpikir kritis yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru.
Beyer (1988:57) mengidentifiksi 10 keterampilan berpikir kritis yang dpat digunakan siswa untuk mempertimbangkan validitas (keabsahan) tuntutan atau argument, memahami periklanan, dan sebagainya.
(1) Membedakan fakta-fakta yang dapat diverifikasi dan tuntutan nilai-nilai yang sulit diverifikasi (diuji kebenarannya).
(2) Membedakan antara informasi, tuntutan, atau alasan yang relevan dengan yang tidak relevan.
(3) Menentukan kecermatan factual (kebenaran) dari suatu penyataan.
(4) Menentukan kredibilitas (dapat dipercaya) dari suaut sumber.
(5) Mengidentifikasi tuntutan atau argument yang mendua.
(6) Mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakn.
(7) Mendeteksi bias (menemukan penyimpangan).
(8) Mengidentifikasi kekeliruan-kekeliruan logika.
(9) Mengenali ketidak-konsistenan logika dalam suatu alur penalaran.
(10) Menentukan kekuatan suatu argument atau tuntutan.
Beyer mengingatkan bahwa 10 keterampilan berpikir kritis di atas bukan merupakan suatu urutan langkah-langkah tetapi lebih merupakan daftar cra yang dapat dilakukan. Dengan cara-cara itu, siswa dapat menangani informasi untuk mengevaluasi apakah informasi itu benar atau masuk akal. Tugas utama dalam mengajarkan berpikir kritis kepada siswa adalah membantu mereka belajar tidak hanya bagaimana menggunakan tiap-tiap strategi berpikir kritis itu, tetapi juga menyampaikan kapan tiap-tiap strategi berpikir kritis itu cocok untuk dipakai.
Proses inkuiri tidak dpat dipisahkan dari konsep berpikir kritis. Konsep berpikir kritis tidak dapat pula dipisahkan dari konsep inteligensi. Inteligensi bukan sesuatu yang hanya dpat diukur dengan tes, buan pula sesuatu yang semata-mata pembawaan genetis secara lahiriah. Howard Gardaner (1983) menunjukan bahwa intelgensi dapat diubah. “Intelligence is the ability to solve problems or to create products that are valued between one or more cultural settings” (Johnson, 2002:141). Intelligensi tidak dapat dipisahkan dari konteks di mana manusia itu hidup dan berkembang.
Menurut Gardaner, inteligensi tidak dilahirkan, tepai dapat berkembang atau berkurang, bergantung pada lingkungan atau konteks seseorang. Lingkungan yng dimaksud adalah teman, guru, orang tua, buku, alat-alat belajar (pena, computer, kegiatan-kegiatan fisik, musik), dan hal-hal lain yang mencapai otak melalui panca indera. Dengan menggunakan kriteria khusus untuk mengidentifikasi konsep inteleigenais, Gardaner mengusulkan delapan jenis inteligenwsi, yakni: linguistic, logical-mathematic, musical, spatial, bodily-kinesthetic, interpersonal, intra-personal, dan naturalist. Jenis pekerjan dan aktivitas yang dapat dikembangkan untuk kedelapan jenis inteligensi ini dpat dicontohkan sebagai beikut: (1) linguistic: wartawan, reporter, politikus, atu penulis; (2) logis-mathematis; ahli fisika, neurology, atau insinyur; (3) spasial: pelukis, interior decorator, atau pemain tennis; (4) bodily-kinesthic: penari balet, pemain golf, pembalap, atau petinju; (5) musik: pengarang lagu, penyanyi, atau organis/pianis; (6) interpersonal: hakim, saleperson, atau guru; (7) intrapersonal: biarawan/rohaniawan, pujangga, atau ahli ilmu jiwa/psikolog; dan (8) naturalist: ahli botani, ahli kebun binatang, atau ahli pertamanan.
Kedelapan jenis inteligensi ini telah mengilhami para pendidik untuk mengajar dengan dengan mengac pada salah satu dari delapan jenis inteligensi tersebut. “Hundred, perhaps thousands, of classrooms around the world rely today on Gardaner’s theory of multiple intelligences to help students realize their latent potential” (Johnson, 2002:141). Apakah kelas berfokus pada siswa yang kurang mampu atau kelas yang siswa-siswanya berbakat, para pendidik melihat manfaat mengajar yang sesuai dengan cara-cara untuk mencapai berbagai jenis inteligensi yang dikemukakan Gardaner.
Setiap siswa mampu mengembangkan setiap jenis inteligensidi atas dengan asumsi bahwa siswa belajar dalam suatu lingkungan belajar yang kaya yang memungkikan mereka menghubungkan makna dengan konteks. “CTL’s component work together to provide this rich environment, offering students many opportunities to ignite the eight multiple intelligences” (Amstrong, 1994:35). Guru CTL menyadari dan menghargai bahwa setiap anak memiliki derajat yang berbeda dalam hal inteligensinya dan bahwa CTL sebagai suatu system holistic berhubungan dengan delapan inteligensi yang dibawa setiap anak pada lingkungan belajar.
Delapan inteligensi (Howard Gardaner, 1983)
Multiple Intelligences
Logika-matematika Peka terhadap pola, keterampilan dan sistematika.
Linguistic/ilmu bahasa Peka terhadap bunyi, ritme, dan makna kata
Musik Kemapuan menghasilkan dan menghargai ritme, tinggi rendah suara, dan warna suara
Spatial/jarak Kemampuan untuk melakukan transformasi mengenai persepsi awal seseorang dan kemampuan mengkreasi kembali aspek-aspek pengalaman visual seseorang.
Bodily-kinesthetic/fisik-kinestetik Kemampuan mengontrol gerak tubuh seseorangdan kemampuan menangani objek secara terampil.
Inter personal/antar-pribadi Kemampuan untuk menjawab atu memberikan reaksi secara tepat berbagai suasana batin, temperamen, motivasi dan keinginanorang lain.
Intapersonal/antar-pribadi Bagaimana menjiwai perasaan sendiri, kemampuan mendiskriminasikan berbagi perasaan seseorang, dan kemampuan menarik kesimpulan untuk menuntun tingkah laku seseorang
Naturalist/alamiah Mengamati, mengalami dan mengorganisasikan berbagai pola dalam lingkungan alamiah

Guru yang menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri haru menjadikan siswa mampu berdiri sendiri, harus mendorong siswa untuk mandiri sedini mungkin sejak dari awal masuk sekolah. Timbul pertanyaan, bagaimana caranya guru membantu siswa agar mereka tumbuh mandiri? Jawabannya adalah memberi kebebasan kepada siswa untuk mengikuti minat alamiah mereka. Guru harus mendorong siswa untuk memecahkan sendiri msalah yang dihadapinnya atau memecahkan sendiri di dalam kelompoknya, bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang mereka hadapi. Siswa akan mendapat keuntungan jika mereka dapat “melihat” dan “melakukan” sesuatu daripada hanya sekedar mendengarkan ceramah atau penjelasan guru. Guru dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dengan bantuan gambar dan demontrasi.
Belajar harus luwes dan bersifat menyelidiki atau melalui penemuan. Jika siswa tampak berusaha dengan menghadapi suatu, berikan mereka waktu untuk mencoba sendiri memecahkan masalah tersebut sebelum memberikan pemecahannya. Guru juga harus memperhatikan sikap siswa terhadap belajar. Menurut Jerome, S. Burner, sekolah harus merangsang keingintahuan siswa, meminimalkan risiko kegagalan, dan bertindak serelevan mungkin bagi siswa. Sebagai saran tamhahan bagi guru yangmengajar dengan pendekatan inkuiri: (1) doronglah siswa agar mereka mengajukan dugan awal dengan cara guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan membimbing; (2) gunakan bahan dan permainan yang bervariasi; (3) berikan kesempatan kepada siswa untuk memuaskan keingintahuan mereka, meskipun mereka mengajukan gagasan-gagasan yang tidak berhubungan langsung dengan pelajaran yang diberikan; dan (4) gunakan sejumlah contoh yang kontras atau perlihatkan perbedaan yang nyata dengan materi ajar mengenai topik-topik yang terkait.

107. Metode Numbered Head Together
Motode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur 4 langkah sebagai berikut.
1. Langkah 1 – Penomoran (Numbering): Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.
2. Langkah 2 – Pengajuan Pertanyaan (Questioning): Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Contoh pertanyaan yang bersifat spesifik adalah “Apakah yang dimaksud angin?”, sedangkan contoh pertanyaan yang bersifat umum adalah “Mengapa makhluk hidup membutuhkan udara?”.
3. Langkah 3 – Berpikir Bersama (Head Together): Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
4. Langkah 4 – Pemberian Jawaban (Answering): Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

108. Metode pembelajaran penemuan konsep
Metode pembelajaran penemuan konsep menurut Widoko (2001) didefinisikan suatu stategi pengajaran induktif dengan tujuan membantu siswa segala tingkatan umur mempelajari konsep-konsep dan keterampilan berfikir yang analitis praktis.
Sedangkan menurut Hasanah (1998) model penemuan konsep dan suatu model pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif. Kemampuan analisis dan mengembangkan konsep.pada pengajaran diawali dengan pemberian contoh dan non-contoh diakhiri dengan kesimpulan yang diberikan siswa.
Berdasarkan hasil penelitian tentang Klaus Meier, Tennyson dan Cochareila dalam Widoko (2001) tentang pembelajaran penemuan konsep merupakan model yang menggunakan contoh-contoh positif dan contoh negatif untuk menggambarkan konsep-konsep tersebut lebih mudah.
Desain dari model ini, pertama kali diperkenalkan oleh Joice dan Weil (1972) yang mendasari penelitian Jerome Bruiner dan koleganya yang menemukan pengaruh variabel-variabel terhadap proses belajar konsep.
Pada penelitian ini konsep yang digunakan adalah konsep listrik statik, dengan menampilkan contoh dan non-contoh yang disertai karakteristiknya, sebagai misal untuk konsep listrik statik; contoh positif batang plastik yang dogosokkan dengan kain wol akan bermuatan negatif mempunyai karakteristik benda menerima elektron dari benda lain atau terjadi perpindahan elektron dari kain wol menuju ke batang plastik.
Dari uraian contoh dan non-contoh beserta karakteristiknya siswa diharapkan dapat menemukan definisi dari tiap konsep dan memahami konsep tersebut, sehingga pada akhirnya dapat memberikan contoh secara mandiri dari konsep tersebut.
Sintaks metode pembelajaran penemuan konsep adalah sebagai berikut:
Phase I : Presentation of example (menampilkan contoh-contoh).
Pada phase ini guru menjelaskan bagamana aktivitas dimulai dengan memberikan kepada siswa contoh dan bukan contoh. Ketika guru menampilkan contoh positif dan contoh negatif untuk tiap-tiap konsep disertai dengan karakteristiknya di dalam LKS penemuan konsep. Pada penelitian ini konsep yang dipilih adalah konsep listrik statik dengan contoh positif batang plastik yang digosokkan dengan kain woll akan bermuatan negatif.
Phase II : Analysis of hypothesis (menganalisis hipotesa)
Pada phase ini dimulai ketika siswa membuat hipotesis tentang nama suatu konsep, membandingkan karakteristik dari contoh positif dan negatif listrik statik, maka siswa diminta untuk menuliskan hipotesis tentang listrik statik, guru memberikan contoh tambahan dan yang bukan contoh kemudian menganalisis hipotesis sampai semua hipotesis didapatkan. Dari beberapa hipotesis listrik statik yang didapat dari siswa kemudian menguji hipotesis tersebut lewat contoh dan non-contoh sehingga deperoleh satu hipotesis yang benar.
Phase III : Clouser (Penutup)
Pada phase ini guru bertanya kepada siswa untuk mengidentifikasi sifat-sifat dari konsep dan menyatakan dari konsep tersebut beserta karakteristiknya.
Phase IV : Application (Aplikasi)
Pada phase ini untuk memperkuat pengertian murid akan konsep tentang listrik statik, guru memberikan contoh tambahan dari mereka sendiri.
Seorang guru dalam menerapkan model pembelajaran konsep diharapkan dapat:
a. Mengerti isi mata pelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran konsep, sehingga dapat mengidentifikasikan materi pelajaran itu apakan cocok dengan pengajaran menggunakan model pembelajaran pemenuan konsep.
b. Menyeleksi contoh-contoh, sehingga ketika diberikan tujuan pembelajaran maka akan memperoleh daftar contoh-contoh yang akan memberikan gambaran secara efektif dari suatu konsep.
c. Mengerti urutan dari contoh-contoh untuk memaksimalkan murid-murid secara praktis dengan keterampilan berfikir
Manfaat dari metode pembelajaran penemuan konsep antara lain:
a. Meningkatkan keterampilan berfikir
b. Membantu siswa untuk menemukan dan memahami konsep dengan memperhatikan obyek, ide atau kejadian-kejadian.

109. Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Metode pembelajaran penemuan adalah suatu metode pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi-informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryabrata, 1997: 1972). Metode pembelajaran ini merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan melalui proses menemukan. Fungsi pengajar disini bukan untuk menyelesaikan masalah bagi peserta didiknya, melainkan membuat peserta didik mampu menyelesaikan masalah itu sendiri (Hudojo, 1988, 114). Metode pembelajaran yang ekstrim seperti ini sangat sulit dilaksanakan karena peserta didik belum sebagai ilmuwan, tetapi mereka masih calon ilmuwan. Peserta didik masih memerlukan bantuan dari pengajar sedikit demi sedikit sebelum menjadi penemu yang murni. Jadi metode pembelajaran yang mungkin dilaksanakan adalah metode pembelajaran penemuan terbimbing dengan demikian kegiatan belajar mengajar melibatkan secara maksimum baik pengajar maupun pesertra didik.
Seperti uraian di atas bahwa penemuan terbimbing (Guided Discovery) merupakan salah satu dari jenis metode pembelajaran penemuan. Oleh Howe (dalam Hariyono, 2001: 3) menyatakan bahwa penemuan terbimbing tidak hanya sekedar keterampilan tangan karena pengalaman, kegiatan pembelajaran dengan model in tidak sepenuhnya diserahkan pada siswa, namum guru masih tetap ambil bagian sebagai pembimbing. Penemuan terbimbing merupakan suatu metode pembelajaran yang tidak langsung (Indirect Instuction). Siswa tetap memiliki porsi besar dalam proses penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Menurut Soedjadi (dalam Purwaningsari, 2001: 1) metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah metode pembelajaran yang sengaja dirancang dengan menggunakan pendekatan penemuan. Para siswa diajak atau didorong untuk melakukan kegiatan eksperimental, sedemikian sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan sesuatu yang diharapkan.
Dalam pembelajaran penemuan terbimbing tugas guru cenderung menjadi fasilitator. Tugas ini tidaklah mudah, lebih-lebih kalau menghadapi kelas besar atau siswa yang lambat atau sebaliknya amat cerdas. Karena itu sebelum melaksanakan metode pembelajaran dengan penemuan ini guru perlu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Baik dalam tiap hal pemahaman konsep-konsep yang akan diajarkan maupun memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di kelas sewaktu pembelajaran tersebut berjalan. Dengan kata lain guru perlu mempersiapkan pembelajaran dengan cermat, Soedjadi (dalam Purwaningsari, 2001: 18).
Keuntungan dan kelemahan metode pembelajaran penemuan terbimbing.
1. Keuntungan metode pembelajaran penemuan terbimbing
Menurut Siadari (2001: 26) keuntungn dari pembelajaran metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah:
a. Pengetahuan ini dapat bertahan lama, mudah diingat dan mudah diterapkan pada situasi baru.
b. Meningkatkan penalaran, analisis dan keterampilan siswa memecahkan masalaha tanpa pertolongan orang lain.
c. Meningkatkan kreatifitas siswa untuk terus belajar dan tidak hanya menerima saja.
d. Terampil dalam menemukan konsep atau memecahkan masalah.
2. Kelemahan dalam penemuan konsep atau memecahkan masalah.
Adapun kelemahan metode pembelajaran penemuan terbimbing menurut Ruseffendi (dalam Siadari, 2001: 26) adalah sebagai berikut:
a. Tidak semua materi dapat disajikan dengan mudah, menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing.
b. Proses pembelajaran memerlukan waktu yang relatif lebih banyak.
c. Bukan merupakan metode pembelajaran murni, maksudnya tidak dapat berdiri sendiri (hanya dapat digunakan jika ada keterlibatan metode lain misal ekspositori, ceramah, dan lain sebagainya).
Sintak penemuan terbimbing menurut Arends (dalam Haryono, 2001: 25), dapat ditabelkan sebagai berikut:
Tabel 2.1. Sintaks Penemuan Terbimbing Model Arends
No Fase-fase Kegiatan Guru
1 Menyampaikan tujuan, mengelompokkan dan menjelaskan prosedur discovery Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta guru menjelaskan aturan dalam metode pembelajaran dengan penemuan terbimbing
2 Guru menyampaikan suatu masalah Guru mejelaskan masalah secara sederhana
3 Siswa memperoleh data eksperimen Guru mengulangi pertanyaan pada siswa tentang masalah dengan mengarahkan siswa untuk mendapat informsi yang membantu proses inquiry dan penemuan
4 Siswa membuat hipotesis dan penjelasan Guru membantu siswa dlam membuat prediksi dan mempersiapkan penjelasan masalah
5 Analisis proses peneman Guru membimbing siswa berfikir tentang proses intelektual dn proses penemuan dan menghubungkan dengan pelajaran lain.
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa guru dalam metode pembelajaran penemuan terbimbing adalah sebagai pembimbing siswa dalam nenemukan konsep.

110. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah merupakan metode pengajaran yang digunakan guru untuk mendorong siswa mencari dan menemukan serta memecahkan persoalan-persoalan. Pemecahan masalah dilakukan dengan cara yang ilmiah. Artinya, mengikuti kaidah keilmuan, seperti yang dilakukan dalam penelitian ilmiah. Oleh sebab itu, dalam memecahkan masalah tidak dilakukan dengan trial and error (coba-coba), melainkan dilakukan secara sistematis dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah dengan memahami, meneliti dan kemudian membatasi masalah.
2. Merumuskan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara bagi masalah yang diajukan. Kebenaran hipotesis harus dibuktikan berdasarkan data dari lapangan.
3. Mengumpulkan data. Data yang dikumpulkan berupa informasi, keterangan, dan barang bukti sesuai dengan yang dibutuhkan. Untuk mengumpulkan data, dapat dilakukn dengan wawancara, angket, studi dokumentasi, dan sebagainya.
4. Menguji hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan data yang telah dikumpulkan, diolah, atau dianalisa. Jika data yang dikumpulkan, ternyata sesuai dengan isi hipotesis, berarti hipotesis dapat diterima atau dapat dikatakan benar. Sebaliknya jika hsil analisis menunjukkan tidak sesuai, berarti hipotesis titolak atau tidak benar.
5. Menyimpulkan. Berdasarkan hasil pengolahan atau analisis data dapat dihasilkan kesimpulan. selain itu beberapa saran sebagai sumbangan pemikiran untuk memperbaiki kelemahan yang msih ada serta untuk meningkatkan apa yang sudah dicapai.

111. Metode Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya. Metode struktural menekankan pada strukur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengankat tangan dan ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Ada struktur yang memiliki tujuan umum (goal) untuk meningkatkan penguasaan isi akademik dan ada pula struktur yang tujuannya untuk mengajarkan keterampilan sosial.

112. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks
1. Uraian Singkat
Ini merupakan cara aktif dan menyenangkan untuk meninjau ulang materi pelajaran. Cara ini memungkinkan siswa untuk berpasangan dan memberi pertanyaan kuis kepada temannya.
2. Prosedur
a. Pada kartu indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah krtu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswa.
b. Pada kartu yang terpisah, tulislah, tulisan jawaban atas masing-masing pertanyaan itu.
c. Campurlah dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampuraduk.
d. Berikansatu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan mencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya.
e. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama. (Katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka).
f. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa yang lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawaban.
3. Variasi
a. Sususunlah kartu yang berisi sebuah kalimat beberapa kata yang dihilangkan untuk dicocokkan dengan kartu yang berisi kata-kata yang hilang itu misalnya, “Perubahan wujud dari berudu mejadi katak disebut _________.”
c. Buatlah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawabannya __ misalnya, “cara pencernaan makanan pada hewan?”. Cocokkan kartu-kartu itu dengan kartu yang berisi kumpulan jawaban yang relevan. Ketika tiap pasangan memberikan kuis kepada kelompok, perintahkan mereka untuk mendapatkann beberapa jawaban dari siswa lain.

113. Pengajaran terarah
1. Uraian Singkat
Dalam teknik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa untuk mendapatkan hipotesiss atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metoda pengajarann terarah merupakan selingan yangmengasyikkan di sela-sela cara belajar biasa. Cara ini memungkinkan untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang akan diajarkan. Metodea ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep yang abstrak.
2. Prosedur
a. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menjajaki pemikiran siswa dalam pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban.
b. Berikan waktu yang cukup kepada siswa dalam pasangan atau kelompok untuk membahas jawaban mereka.
c. Perintahkan siswa untuk kembali ke tampat masing-masing dan catatlah pendapat mereka. Jika memungkikan, seleksi jawaban mereka menjadi beberapa kategori yang terkait dengan kategori atau konsep yang berbeda/
d. Sajikan poin-poin pembelajaran utama yang ingin anda ajarkan. Perintahkan siswa untuk menjelaskan kesesuaian jawaban mereka dengan poin-poin ini. Catatlah gagasan yangmemberi iformasi tambahan bagi poin pembelajaran dari pelajaran.
3. Variasi
a. Jangan memilah-milah jwaban siswa menjadi daftar yang terpisah. Sebagai gantinya, buatlah satu daftar panjang dan perintahkan merak untuk mengkategorikan gagasan mereka terlebih dahulu sebelum anda membandingkannya dengan konsep yang ada idi pikran anda.
b. Mulailah pelajaran dengan tanpa kategori yang sudah ada di benak anda. Cermati bagaimana siswa dan anda secara bersama bisa memilah-milah gagasan-gagasan mereka menjadi kategori yang berguna.
114. Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pandekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pengajaran masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (200: 2)), “Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teacihg (Pembelajaran Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.
Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pengajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pengajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri.
5. Ciri-cirinya
Berbagai pengembangan pengajaran berbasis masalah telah mencoba menunjukkan cirri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut.
a. Pengajuan pertanyaa atau masalah.
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidipan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu.
b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu Sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih yang benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
c. Penyelidikan autentik.
Pengajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan masalah nyata. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan masalah, mengembankan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat iferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sesdang dipelajari.
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video atau program computer (Ibrahim & Nur, 200:5-7).
Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
6. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar
Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadikan pembelajar yang otonom dan mandiri. Uraian rinci terhdap ketiga tujuan itu dijelaskan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur (2000:7-12) berikut ini.
a. Keteramplan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah
Berbagai macam ide telah digunakan untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah keterampilan berpikir itu dan terutama apakah keterampilan berpikir itu?
- Berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran.
- Berpikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berbeda dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat konkret dari fakta dan kasus khusus.
- Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama.
Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memberikan penjelasan sebagai berikut:
- Berpikir tingkat tinggi adalah nonalgoritmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapan sebelumnya.
- Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang.
- Berpikir tingkat tinggi sering kali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interpretasi.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya diketahui.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri tentang proses berpikir. Kita tidak mengakui sebagai berpikir tingkat tinggi pada seseorang jika ada orang lain membantunya pada setiap tahap.
- Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur.
- Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan.
Perlu dicatat bahwa Resnick menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti pertimbangan, pengaturan diri, pencarian makna, dan ketidakpastian. Hal ini berarti bahwa proses berpikir dan keterampilan yang perlu diaktifkan sangatlah kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada saat berpikir tentan berpikir. Meskipun proses memiliki beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses yang kita gunakan untuk memikirkan matematika berbeda dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan puisi. Proses berpikir yang digunakan untuk memikirkan ide abstrak berbeda dengan yang digunakan untuk memikirkan situasi kehidupan nyata. Karena hakikat kekomplekan dan konteks dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka keterampilan itu tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih konkret. Keterampilan proses dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga jelas dapat diajarkan, dan kebanyakan program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini sangat mendasarkan diri pada pendekatan yang sama dengan pengajaran berbasis masalah.
c. Pemodelan Peran Orang Dewasa
Resnick juga memberikan rasional tentang bagaimana pengajaran berbasis masalah membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar tentang pentingnya peran orang dewasa. Dalam banyak hal pengajaran berbasis masalah bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang dewasa.
1. Pengajaran berbasis masalah memiliki unsur-unsur belajar magang. Hal tersebut mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah.
2. Pengajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut.
d. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri
Pengajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya.
7. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Tahapan Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubugnan dengan masalah tersebut
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informsi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penyelasan dan pemecahan masalahnya.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siwa merekncanakan dan menyiapkan karyayang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagai tugas dengan temannya.
Tahap 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan maslah Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

8. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen
Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan system manajemen dalam pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pengajaran berbasis masalah, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan.

115. Metode Belajar Aktif Model Tinjauan Ala Permainan Bingo
1. Uraian Singkat
Strategi ini membantu mengingatkan kembali akan istilah-istilah yang telah siswa pelajari selama menempuh mata pelajaran. Strategi ini menggunakan format permainan Bingo.
2. Prosedur
a. Susunlah sejumlah 24 atau 25 pertanyan tentang materi pelajaran anda yang bisa dijawab dengan istilah baku yang digunakan dalam mata pelajaran anda. Berikut adalah beberapa contoh istilahnya.
- Angka penyebut yang paling sedikit
- Hieroglifik
- Inflasi
- Otokrasi
- Database
- Hokum humurabi
- Byte
- Garis lintang
- Impresionisme
- Alegori
- Fotosintesa
- Bilangan urutan
- Skozofrenia
- Klausa pengadaian
Anda juga dapat menggunakannama, sebagai alternative dari istilah. Berikut adalah beberapa contohnya:
- Freud
- Caesar
- Blake
- Roosevelt
- Marco Polo
- Joan of Arc
- Dewey
- Pasteur
- Van Gogh
- Curie
- Chaucer
- Rusself
- Alley
b. Sortirlah pertanyaan menjadi lima tumpukan. Labeli tiap tumpukan denga huruh B-I-N-G-O…… kartu Bingo untuk tiap siswa. Kartu ini mesti mirip betul dengan kartu Bingo biasa, dengan nomor-nomor dalam tiap 24 celah dalam matrik 5 x 5 (celah tengah “Kosong.”)
c. Bacalah sebuah pertanyaan dengan angka yang terkait. Jika seorang siswa memiliki angkanya dan dia dapat menuliskan jawabannya dengan benar, maka dia dapat mengisi celah tersebut.
d. Bila seorang siswa mencapai lima jawaban benar dalam sebuah deretan (baik vertical, horizontal maupun diagonal), siswa tersebut boleh meneriakkan “Bingo”. Permainan dapat diteruskan hingga ke 25 celah tersebut terisi.
3. Variasi
a. Sediakan hadiah yang tidak mahal, semisal sebungkus coklat, bila siswa mendapatkan Bingo.
b. Buatlah kartu yang memiliki sel-sel yang sebelumnya diisi dengan 24 istilah utama (plus sel “kosong” di tengahnya). Ketika sebuah pertanyaan dibacakan, jika siswa yakinbahwa salah satu dari jawaban pada kartu itu cocok dengan pertanyaan tersebut, dia bisa menuliskan nomor pertanyaanya di sampingnya.
116. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas
Pengajaran berbasis proyek/tugas terstruktur (Project-Based Learning) membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa disain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermana lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Eduction, 2001).
Siswa diberikan tugas/proyek yang kompleks, sulit, lengkap, tetapi realistis/autentik dan kemudian diberikan bantuan secekupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas mereka (bukan diajar sedikit demi sedikit komponen-komponen suatu tugas kompleks yang padu suatu diharapkan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk menyelesaikan tugas kompleks tersebut). Prinsip ini digunakan untuk menunjang pemberian tugas kompleks di kelas seperti proyek, simulasi, penyelidikan masyarakat, menulis untuk disajikan kepada forum pendengar yang sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya. Istilah situated learning (Prawat, 1992) digunakan untuk menggambarkan pembelajaran yang terjadi di dalam kehidupan nyata, tugas-tugas outentik/asli yang sebenarnya.
Tidak memandang apakah suatu tugas harus dikerjaklan sebagai pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah, empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif.
1. Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantang
Salah satu tantangan paling sukar yang dihadapi guru pada saat mereka menggunakan pekerjaan kelas atau pekerjaan rumah adalah menjaga siswa tetap terlibat. Pada saat bekerja sendiri, sangat mudah bagi sisa untuk kehilangan minat dan melalukan tindakan yang tidak relevan, khususnya apabila tugas-tugas itu rutin.
Kebanyakan guru setuju bahwa tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah mandiri yang dapat mempertahankan keterlibatan siswa memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan, mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu, dan apa yang dibutuhkanuntuk menyelsaikan pekerjaan itu. Siswa-siswa itu tetap berada dalam tugas selama pekerjaan kelas dan menyelesaikan pekerjaan rumah apabila mereka menyikapi tugas-tugas tersebut secar bermakna.
Linda Anderson (1985) menunjukan bahwa guru jarang menaruh perhatian pada tujuan pekerjaan kelas atau strategi-strategi belajar yang telibat. Sebaliknya, guru menekankan pada arahan-arahan procedural. Sebagai contoh guru dpat menghabiskan waktu banyak menjelaskan kepad siswa di mana menulis nama di kertas atau bagaimana menyusun jawaban-jawabannya. Sementar petunjuk-petunjuk tentang “apa yang dilakukan” adalah penting guru tidak menyertakan penjelasan tentang “mengapa” sesuatu harus dikerjakan dan proses-proses pembelajaran yang terlibat. Sebelum memberikan suatu tugas, guru hendaknya mempertimbangkan cirri penting itu secara seksama dan kemudian menyediakan waktu cukupuntuk menjelaskan cirri penting itu kepada siswa.
2. Menganekaragamkan Tugas-tugas
Sama dengan kehidupan pada umumnya, keanekaragaman menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah.siswa kemungkinan besar ttap terlibata dan mengerjakan pekerjaan mereka jika tugas-tugas lebih bervariasi dan menarik daripada rutindan monoton. Guru yang efektif mengubah panjang dan cara tugas yang diberikan di samping hakikat tugas beljar dan strategi-strategi kognitif yang telibat. Membaca di dalam hati, laporan proyek-proyek khusus, dan bahan-bahan multimedia menawarkn berbagai macam cara untuk menyelesaikan pekerjaan mandiri. Pilihan kemungkinan tidak terbatas dan tidak aka alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari.
3. Menaruh Perhatian pada Tingkat Kesulitan
Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan suatu bahan baku penting untuk keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Apabila siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri, tugas tesebut sehrusnya memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan guru terlalu mudah. Mereka menyikapi tugas-tugas seperti sebagai pekerjaan yang tidak menantang. Pada umumnya tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang, namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri.
4. Memonitor Kemajuan Siswa
Akhirnya, merupakan hal penting bagi guru untuk memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Monitoring hendaknya meliputi pengecekan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka dan proses-proses kognitif yang telibat. Monitoring ini juga termasuk pengecekan pekerjaan siswa dan mengembalikan tugas dengan umpan balik. Pad saat beberfapa siswa diberikan pekerjaan kelas, maka guru dapat bekerja dengan siswa lain.a dianjurkan agar guru menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami tugas tersebut sebelum menangani siswa-siswa lain. Apabila siswa bekerja dalam kelompok-kelompok, maka guru hendaknya berada dalam kelompok-kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. Meskipun mengoreksi tugas menghabiskan waktu, hendaknya guru mengoreksi pekerjaan yang dibuat siswa dan mengembalikan kepda mereka dengan umpan balik.

117. Metode Ceramah
1. Pengertian
Metode ceramah terkadang disebut sebagai metode kuliah, dapat juga disebut metode deskripsi. Sesuai dengan namanya, berceramah dipergunakan sebagai metode mengajar.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjiono (1981), metode ceramah adalah cara penyampain bahan pelajaran dengan komunikasi lisan.
Jadi metode ceramah adalah metode belajar yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan rumusan metode belajar mengajar. Penggunaan metode ceramah secara terus menerus dalam proses belajar kurang tepat karena dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa.
Gambaran pengajaran dengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut; guru mendominasi kegiatan belajar mengajar, definisi dan rumus diberikannya, contoh-contoh soal diberikan dan dekerjakan sendiri oleh guru, langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh siswa.
2. Kebaikan Metode Ceramah
a. Dapat menamung kelas besar dan tidap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan. Oleh karenanya biaya yang diperluan lebih murah.
b. Bahan pelajaran dapat diberikan secara urut, ide atau konsep dapat direncanakan dengan baik.
c. Guru dapat menekankan hal-hal yang penting, sehingga waktu dan energi dapat digunakan sehemat mungkin.
d. Isi silabus dapat dilakukan menurut jadwal, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.
e. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat Bantu pelajaran tidak menghambat jalanya pelajaran.
3. Kelemahan Metode Ceramah
a. Pelajaran berjalan membosankan siswa karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan.
b. Siswa menjadi pasih hanay aktif membuat catatan saja.
c. Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
d. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
e. Ceramah menyebabkan system belajar siswa menjadi “belajar menghafal” dan tidak mengacu pada timbulnya pengertian.
4. Peranan Siswa dalamMetode Ceramah
Walaupun dalam metode ini, seluruh kegiatan didominasi oleh guru, siswa juga berperan dalam metode ceramah yaitu;
a. Mengadakan interpretasi terhadap keterangan guru.
b. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik keterangan guru.
c. Mengadakan asimilasi, apabila tidak ada interpertasi yang benar.
d. Mengadakan pencatatan yang diperlukan
5. Peranan Guru Dalam Metode Ceramah
Dalam metode ceramah, peran utama adalah gru. Karena pelaksanaan metode ceramah merupakan komunikasi satu arah, dalam arti guru mendominasi seluruh kegiatan belajra mengajar. Berhasil tidaknya metode ceramah tergantung sebagian besar pada guru. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru.
a. Satuan bahan pelajaran apa yang disajikan pada siswa.
b. Bagaimana menyajikan satuan bahan pelajaran tersebut.
c. Alat-alat apa yang digunakan oleh guru tersebut.
6. Sepuluh Saran Untuk Mengefektifkan Pengajaran Dengan Ceramah
Berceramah merupakan salah satu dari metode pengajaran yang paling lama digunakan, namun apakah metode semacam ini memiliki tempat dalam lingkungan belajar aktif? Karema terlalu sering digunakan, metode ceramah tidak akan mengantarkan pada pembelajaran, namun ada kalanya cara ini bisa efektif. Agar bisa efektif, guru harus terlebih dahulu membangkitkan minat, memaksimalkan pemahaman dan pengingatan, melibatkan siswa selama penceramahan, dan menekankan kembali apa yang telah disajikan. Berikut adalah sejumlah pilihan untuk melakukan hal itu.
a. Membangkitkan Minat
- Paparkan kisah atau tayangan menarik: Sajikan anekdot yang relevan, kisah fiksi, kartun, atau gambar grafis yang bisa menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan anda ajaran.
- Ajuan soal cerita: Ajukan soal yang nantinya akan menjadikan sajian dalam ceramah pengajaran.
- Pertanyaan penguji: Ajukan pertanyaan kepada siswa (sekalipun mereka baru sedikit memiliki pengetahuan tentang mata pelajaran) agau mereka termotivasi untuk mendengarkan ceramah dalam rangka mendapatkan jawabannya.
b. Memaksimalkan Pemahaman dan Pengingatan
- Headline/kepala berita: Susunlah kembali poin-poin utama dalam ceramah menjadi kata-kata kunci yang berfungsi sebagai subjudul verbal atau bantuan mengingat.
- Contoh dan analogi: Berikan gambaran nyata tentang gagasan dalam perencanaan dan, jika memungkinkan, buatlah perbandingan antara materi dengan pengetahuan dan pengalaman yang siswa miliki.
- Cadangan visual: Gunakan grafik lipat, transparansi, buku pegangan dan peragan yang memungkinkan siswa melihat dan mendengar apa yang guru katakan.
c. Melibatkan Siswa Perceramahan
- Tantangan kecil: Lakukan interupsi ceramah secara berkala dan tantanglah siswa untuk memberikan contoh tentang konsep-konsep yang telah disajikan selama ini atau untuk menjawab pertanyaan kuis ringan.
- Latihan yang memperjelas: Selama menyajikan materi selingilah dengan kegiatan yang memperjelas hal-hal yang disampaikan.
d. Memperkuat Apa yang Telah Disampaikan
- Soal penerangan: Ajukan masalah atau pertanyaan untuk dipecahkan oleh siswa berdasarkan informasi yang disampaikan selama pengajaran.
- Tinjauan siswa: Perintahkan siswa untuk meninjau tes dari penyampaian pelajaran kepada sesama siswa, atau berilah mereka tes penilaian diri.

118. Metode Pembelajaran Kooperatif Model GI (Group Investigation)
Model ini merupakan suatu model yang sangat terstruktur dengan enam tahapan pelaksanaan khusus. Keterlibatan siswa terdapat di dalam setiap tahapan mulai dari pemilihan topik hingga evaluasi belajar siswa.
Tahap 1. Indentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok.
1. Para siswa memeriksa sumber belajar, mengusulkan topik dan mengkategorikan saran-saran.
2. Para siswa bergabung ke dalam kelompok mempelajari topik pilihan mereka.
3. Komposisi membantu didasarkan kepada minat dan heterogen.
4. Guru membantu dan mengumpulkan informasi dan memudahkan organisasi.
Tahap 2. Merencanakan tugas belajar
Para siswa menyusun rencana bersama.

Tahap 3. Melakukan penyelidikan
1. Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan mengambil kesimpulan.
2. Setiap anggota kelompok berkintribusi terhadap upaya kelompok.
3. Para siswa saling bertukar gagasan, berdiskusi, dan melakukan klarifikasi.
Tahap 4. Mempersiapkan laporan akhir
a. Setiap anggota menentukan pesan pokok dan proyek mereka.
b. Setiap anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan.
c. Perwakilan kelompok membentuk bagian pengendali untuk mengkoordinasikan rencana penyajian.
Tahap 5. Menyajikan laporan akhir
1. Presentasi dibuat dalam bentuk yang bervasiasi.
2. Pendengar menilai kejelasan penyajian berdasarkan kriteria yang ditentukan sebelumnya oleh keseluruhan anggota kelas.
Tahap 6. Evaluasi
1. Para siswa berbagi umpan balik tentang topik, pekerjaan yang telah dilakukan, dan pengalaman afektifnya.
2. Guru dan siswa bekerjasama menilai belajar siswa.
3. Penilaian belajar hendaknya menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi.

119. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Siswa bekerja dalam kelomok empat atau lima orang. Setiap angota tim membaca pasal yang berlainan. Selanjutnya para siswa didalam kelompok ahli tersebut kembali lagi ke timnya semula dan bergantian mengerjakan apa yang sudah dipelajarinya kepada anggota tim lain.
Akhirnya, para siswa mengikuti kuis yang mencakup seluruh pasal, dan skor kuis menjadi skor tim. Skor yang disumbangkan oleh siswa ke timnya didasarkan pada peningkatan individual, dan siswa-siswa yang berada di tim dengan skor tertinggi berhak mendapat sertifikat atau penghargaan lain. Jadi para siswa dimotivasi untuk mempelajari bahan sebaik mungkin dan bekerja keras di dalam kelompok ahli sehingga dapat membantu anggota kelompok lainnya.

120. Pembelajaran Kooperatif Model Learning Together
Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang per tim dan heterogen kemampuannya. Para siswa bekerja sebagai suatu keompok untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok, berbagai gagasan, dan membantu satu sama lain dengan jawaban, dan meminta bantuan dari teman yang lain sebelum bertanya kepada guru, dan si guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan kinerja kelompok.

121. Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division)
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif mode STAD sebagai berikut:
1. Kelompokkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai dengan lima orang. Anggota-anggota kelompok dibuat heterogen meliputi karakteristik kecerdasan, kemampuan awal matematika, motivasi belajar, jenis kelamin, atupun latar belakang etnis yang berbeda.
2. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasi guru dalam menjelaskan pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data, pemberian contoh. Tujuan peresentasi adalah untuk mengenalkan konsep dan mendorong rasa ingin tahu siswa.
3. Pemahan konsep dilakukan dengan cara siswa diberi tugas-tugas kelompok. Mereka boleh mengerjakan tugas-tugas tersebut secara serentak atau saling bergantian menanyakan kepada temannya yang lain atau mendiskusikan masalah dalam kelompok atau apa saja untuk menguasai materi pelajaran tersebut. Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisi lembar jawaban tetapi juga untuk mempelajari konsepnya. Anggota kelompok diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai mempelajari materi sampai semua anggota kelompok memahami materi pelajaran tersebut.
4. Siswa diberi tes atau kuis individual dan teman sekelompoknya tidak boleh menolong satu sama lain. Tes individual ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara siswa diberikan soal yang dapat diselesaikan dengan cara menerapkan konsep yang dimiliki sebelumnya.
5. Hasil tes atau kuis selanjutnya dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya dan poin akan diberikan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya. Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentuk skor kelompok.
6. Setelah itu guru memberikan pernghargaan kepada kelompok yang terbaik prestasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaan disini dapat berupa hadiah, sertifikat, dan lain-lain.
Gagasan utama dibalik model STAD adalah untuk memotivasi para siswa untuk mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang disajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka memperoleh penghargaan, mereka harus membantu teman sekelompoknya mempelajari materi yang diberikan. Mereka harus mendorong teman meraka untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajar itu merupakan suatu yang penting, berharga dan menyenangkan.

122. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Team Assisted Individualization
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.
Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.
Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam metode pembelajaran ini.
Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampaui.

123. Metode Pembelajaran Kooperatif Model TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving)
Sehubungan dengan model-model pembelajaran di atas Felder (1994: 5) menambahkan suatu model pembelajaran kooperatif yaitu TAPPS (Thinking Aloud Pair Problem Solving). Dalam model ini siswa mengerjakan permasalahan yang mereka jumpai secara berpasangan, dengan satu anggota pasangan berfungsi sebagai pemecah permasalahan dan yang lainnya sebagai pendengar. Pemecah permasalahan mengucapkan semua pemikiran dan mereka saat mereka mencari sebuah solusi, pendengar mendorong rekan mereka untuk tetap untuk berbicara dan menawarkan anggapan umum atau petunjuk jika bagian pemecah masalah tertekan.
Berdasarkan model pembelajaran tersebut Felder (1994: 6-8) memberikan saran dalam membentuk kelompok pembelajaran kooperatif sebagai beikut:

1. Berikan tugas kelompok yang terdiri dari tiga sampai empat siswa
Saat siswa bekerja terpisah, salah satu diantarannya lebih mendominasi dan biasanya bukanlah mekanisme yang baik untuk memecahkan perdebatan, dan dalam tim yang berisi lima orang atau lebih akan menjadi sulit untuk mempertahankan keterlibatan setiap orang dalam proses. Kumpulkan satu tugas per kelompok.
2. Usahakan membentuk kelompok yang kemampuannya heterogen
Hambatan akan dijumpai jika satu kelompok memiliki anggota yang semuannya lemah akan tampak nyata tetapi dengan mengumpulkan satu kelompok yang memiliki anggota dengan kemapuan kuat juga tidak disarankan.
3. Hindari kelompok dimana siswa perempuan dan siswa minoritas yang banyak jumlahnya.
Studi-studi telah memperlihatkan bahwa gagasan siswa perempuan dan kontribusinya seringkali dikurangi atau dipotong dalam tim yang memiliki kelompok berjenis kelamin campuran, dan para siswa perempuan akhirnya mengambil peran pasif dalam interaksi kelompok.
4. Jika sangat memungkinkan, memilih kelompok sendiri
Dalam membentuk kelompok, siswa menentuknan sendiri anggota kelompoknya.
5. Memberikan tugas regu dengan masing-masing tugas yang berputar.
Dalam kelompok menghendaki perputaran tugas. Tugas-tugas dalam kelompok yaitu: (1) koordinator (mengorganisir tugas ke dalam sub tugas, mengalokasikan tanggungjawab, mempertahankan kelompok tetap berorientasi pada tugas), (2) pemeriksa (memonitor kedua solusi dan pemahaman tiap-tiap anggota regu di antara mereka), (3) perekam (melihat kemungkinan konsensus, menulis solusi kelompok yang lahir), dan (4) skeptis (menyarankan berbagai kemungkinan alternativ, menghindari kelompok melompat pada kesimpulan terlalu awal).
6. Mempertimbangkan hal positif yang saling bergantung
Semua anggota regu perlu merasakan bahwa mereka mempunyai peran unik untuk berperan serta di salah kelompok dan tugas hanya dapat diselesaikan dengan baik jika semua anggota melakukan tugas mereka.
7. Mempertimbangkan tanggungjawab individu
Cara terbaik untuk mencapai tujuan adalah dengan memberikan tes individu, selain itu dalam peSeptemberlihan anggota regu perlu menjajikan atau mejelaskan hasil regu itu.
8. Membuat kelompok secara teratur menilai prestasi mereka
Pada awal tugas, siswa perlu mendiskusikan apa yang sebaiknya dikerjakan, kesulitan apa yang muncul, dan apa yang tiap-tiap angggota dapat lakukan untuk membuat semua hal bekerja lebih baik.
9. Menawarkan gagasan agar kelompok berfungsi efektif
Suatu pendekatan untuk menyiapkan siswa dengan beberapa unsur-unsur arahan yang akan menghasilkan suatu pernghargaan dari apa sebenarnya kerja kelompok dan untuk membantu pengembangan dari keterampilan hubungan antar pribadi yang menopang di dalam pembentukan regu dan prestasi.
10. Menyediakan bantuan regu yang meliki kesukaran dalam bekerja sama.
Kelompok yang mempunyai permasalahan harus dipertemukan dengan pengajar untuk mendiskusikan kemungkinan pemecahan masalah.
11. Jangan membentuk kembali kelompok yang sudah pernah terbentuk
Tujuan bekerjasama yang utama akan membantu para siswa memperluas daftar literatur pendekatan pemecahan masalah mereka, dan tujuan kedua akan membantu mereka mengembangkan keterampilan kepemimpinan kolaboratif, pengambilan keputusan dan tujuan lainnya. Ini hanya dapat dicapai jika para siswa mempunyai cukup waktu untuk mengembangkan suatu dinamika kelompok, persaingan dan menanggulangi berbagai kesulitan dalam bekerja bersama-sama.

124. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share
Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru tersebut memilih metode Think-Pair-Share daripada metode Tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan kawan-kawannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.
2. Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.
Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.
Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam Think Pair Share ini.
Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampau

125. Metode Belajar Aktif Model Memberikan Pertanyaan dan Mendapatkan Jawaban
1. Uraian Singkat
Ini merupakan strategi pembentukan tim untuk melibatkan siswa dalam peninjauan kembali materi pada pelajaran sebelumnya atau pada akhir pelajaran.
2. Prosedur
a. Berikan dua kartu indeks kepada masing-masing siswa.
b. Perintahkan tiap siswa untuk melengkapi kalimat berikut ini.
- Kartu 1 : Saya measih memiliki pertanyaan tentang ¬¬¬__________.
- Kartu 2 : Saya bisa menjawab pertanyaan tentang __________.
1. Buatlah sub-sub kelompok dan perintahkan tiap kelompok untuk memilih “pertanyaan paling relevan untuk diajukan” dan pertanyaan paling menarik untuk dijawab” dari kartu anggota kelompok mereka.
2. Perintahkan tiap sub-kelompok untuk melaporkan “pertanyaan untuk diajukan” yang ia pilih. Pastikan apakah ada siswa yang dapat menjawab pertanyaan itu. Jika tidak, guru harus menjawabnya.
5. Pentahkan tiap kelompok untuk melaporkan “pertanyaan untuk dijawab” yang ia pilih. Perintahkan anggota sub-sub kelompok ntuk berbagai jawaban dengan siswa yang lain.
7. Variasi
a. Siapkan terlebih dahulu beberapa kartu pertanyaan, dan bagikan kepada sub-sub kelompok. Perintahkan sub-sub kelompok untuk memilih satu atau beberapa pertanyaan yang dapat mereka jawab.
c. Siapkan terlebih dahulu beberapa kartu jawaban dan bagikan kepadasub-sub kelompok untuk memilih satu ata beberapa jawaban yang menurut mereka membantu dalam meninjau kembali apa yang telah mereka pelajari.
126. Metode Belajar Aktif Model Meninjau Kesulitan pada Materi Pelajaran
1. Uraian Singkat
Strategi ini dirancang seperti tayangan permainan TV – jawaban diberikan terlebih dahulu, dan tantangannya adalah mengajukan pertanyaanyang cocok atau benar. Format ini bisa dengan mudah digunakan sebagai tinjauan tentang materi pelajaran.
2. Prosedur
d. Buatlah tiga hingga enam kategori pertanyaan tinjauan. Gunakan salah satu dari beberapa kategori umum ini:
- Konsep atau gagasan
- Fakta
- Keterampilan
- Nama
b. Atau buatlah kategori berdasarkan topiknya. Sebagai contoh, anggur berwarna ini biasanya dihidangkan dalai temperature ruangan” bias dicocokan dengan pertanyaan “Minuman rouge itu apa sih? Kita tidak perlu memiliki jumlah pertanyaan dan jawaban yang sama dalai tiap kategori,namun kita harus menyusun petanyaan dan jawaban dengan derajat kesulitan yang terus meningkat.
3. Perlihatkan papan permainan peninjauan kembali pada selembar kertas besar dan tebal. Umumkan kategorinya dan nilai poinnya untuk tiap kategori. Berikut adalah apana permaina sampel.
Bulan Warna Angka
10 poin 10 poin 10 poin
20 poin 20 poin 20 poin
30 poin 30 poin 30 poin
4. Bentuklah tim beranggotakan tiga hingga enam orang siswa dan sediakan kartu penjawab untuk tiap tim. Jika memungkinkan, buatlah kelompok dengan beragam tingkat keterampilan atau pengetahuan.
5. Pentahkan im untuk memilih kapten dan pencatat nilai tim.
- Kapten tim mewakili tim. Ia merupakan salah satunya yang bisa mengacungkan kartu penjawab dan memberikan jawabanya. Kapten tim harus merundingan dengan tim sebelum memberikan jawaban.
- Pencatat nilai bertanggung jawab menambahkan dan mengurangi nilai untuk tim mereka.
Catatan: Sebagai moderator permainan, anda bertanggung jawab mencermati pertanyaan mana saja yang telah diajukan. Ketia tiap pertanyaan diajukan, beri tanda silang pada papan permainan. Berikan tanda centang pada pertanyaan yangsulit dijawab oleh siswa. Anda bisa kembli kepada pertanyaan ini bila permainan selesai.
Tinjaulah beberapa aturan permainan berikut ini.
- Kapten tim yang memegang kartu penjawab pertama mendapatan kesempatan untuk menjawab.
- Semua jawaban harus diberikan dalai bentuk pertanyaan.
- Jika jawaban yang diberikan benar, nilai angka untuk kategorinya akan diberikan. Jika jawabannya tidak benar, nilai angka pada skor tim dikurangi, dan tim lain berkesemapatan untuk menjawab.
- Tim yang memberikan jawaban terakhir yang benar akan menguasai papan permainan.
6. Variasi
a. Sebagai alternative dari penggunaan kapten tim, perintahkan tiap anggota tim untuk mengambil giliran memainkan permainan tinjauan ulang. Dia tidak boleh berkonsultasi dengan anggota tim sebelum menjawab.
b. Perintahkan siswa untuk membuat pertanyaan permainan.

127. Metode Belajar Aktif Model Tinjauan Ala Permainan Bingo
1. Uraian Singkat
Strategi ini membantu mengingatkan kembali akan istilah-istilah yang telah siswa pelajari selama menempuh mata pelajaran. Strategi ini menggunakan format permainan Bingo.
2. Prosedur
e. Susunlah sejumlah 24 atau 25 pertanyan tentang materi pelajaran anda yang bisa dijawab dengan istilah baku yang digunakan dalam mata pelajaran anda. Berikut adalah beberapa contoh istilahnya.
- Angka penyebut yang paling sedikit
- Hieroglifik
- Inflasi
- Otokrasi
- Database
- Hokum humurabi
- Byte
- Garis lintang
- Impresionisme
- Alegori
- Fotosintesa
- Bilangan urutan
- Skozofrenia
- Klausa pengadaian
Anda juga dapat menggunakannama, sebagai alternative dari istilah. Berikut adalah beberapa contohnya:
- Freud
- Caesar
- Blake
- Roosevelt
- Marco Polo
- Joan of Arc
- Dewey
- Pasteur
- Van Gogh
- Curie
- Chaucer
- Rusself
- Alley
f. Sortirlah pertanyaan menjadi lima tumpukan. Labeli tiap tumpukan denga huruh B-I-N-G-O…… kartu Bingo untuk tiap siswa. Kartu ini mesti mirip betul dengan kartu Bingo biasa, dengan nomor-nomor dalam tiap 24 celah dalam matrik 5 x 5 (celah tengah “Kosong.”)
g. Bacalah sebuah pertanyaan dengan angka yang terkait. Jika seorang siswa memiliki angkanya dan dia dapat menuliskan jawabannya dengan benar, maka dia dapat mengisi celah tersebut.
h. Bila seorang siswa mencapai lima jawaban benar dalam sebuah deretan (baik vertical, horizontal maupun diagonal), siswa tersebut boleh meneriakkan “Bingo”. Permainan dapat diteruskan hingga ke 25 celah tersebut terisi.
3. Variasi
c. Sediakan hadiah yang tidak mahal, semisal sebungkus coklat, bila siswa mendapatkan Bingo.
d. Buatlah kartu yang memiliki sel-sel yang sebelumnya diisi dengan 24 istilah utama (plus sel “kosong” di tengahnya). Ketika sebuah pertanyaan dibacakan, jika siswa yakinbahwa salah satu dari jawaban pada kartu itu cocok dengan pertanyaan tersebut, dia bisa menuliskan nomor pertanyaanya di sampingnya.

128. Pengajaran Terarah
1. Uraian Singkat
Dalam teknik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori.metode pengajaran terarah merupakan selingan yang mengasyikan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan dipahami oleh siswa sebelu memaparkan apa yang guru ajarkan. Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak.
2. Prosedur
a. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal “Bagaimana kamu menjelaskan seberapa cerdanya seseorang?”
b. Berikan waktu yang cukup kepada bagi siswa dalam pasangan atau kelompok untuk membahas jawaban mereka.
c. Perintahkan siswa untuk kembali ke tempat masing-masing dan catatlah pendapat mereka. Jika memungkinkan, seleksi jawaban mereka menjadi beberapa kategori terpisah yang terkait dengan kategori atau konsep yang berbeda semisal “kemampuan membuat mesin” pada kategori kecerdasan kinestetika-tubuh.
d. Sajikan poin-poin pembelajaran utama yang ingin anda ajarkan. Perintahkan siswa untuk menjelaskan kesesuaian jawaban mereka dengan poin-poin ini. Catatlah gagasan yang memberi informasi tambahan bagi poin pembelajaran.
3. Variasi
a. Jangan memilah-milah jawaban siswa menjadi daftar yang terpisah. Sebagai gantinya, buatlah satu daftar panjang dan perintahkan mereka untuk mengkategorikan gagasan mereka terlebih dahulu sebelum guru membandingkannya dengan konsep yang ada di pikiran anda.
c. Mulailah pelajaran dengan tanpa kategori yang sudah ada di benak guru. Cermati bagaimana siswa dan guru secara bersama-sama bisa memilah-milah gagasan mereka menjadi kategori yang berguna.

129. Metode Ceramah
1. Pengertian
Metode ceramah terkadang disebut sebagai metode kuliah, dapat juga disebut metode deskripsi. Sesuai dengan namanya, berceramah dipergunakan sebagai metode mengajar.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjiono (1981), metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan.
Jadi metode ceramah adalah metode belajar yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan rumusan metode belajar mengajar. Penggunaan metode ceramah secara terus menerus dalam proses belajar kurang tepat karena dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa.
Gambaran pengajaran dengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut; guru mendominasi kegiatan belajar mengajar, definisi dan rumus diberikannya, contoh-contoh soal diberikan dan dekerjakan sendiri oleh guru, langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh siswa.
2. Kebaikan Metode Ceramah
f. Dapat menamung kelas besar dan tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan. Oleh karenanya biaya yang diperlukan lebih murah.
g. Bahan pelajaran dapat diberikan secara urut, ide atau konsep dapat direncanakan dengan baik.
h. Guru dapat menekankan hal-hal yang penting, sehingga waktu dan energi dapat digunakan sehemat mungkin.
i. Isi silabus dapat dilakukan menurut jadwal, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.
j. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran tidak menghambat jalanya pelajaran.
3. Kelemahan Metode Ceramah
f. Pelajaran berjalan membosankan siswa karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan.
g. Siswa menjadi pasif hanya aktif membuat catatan saja.
h. Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
i. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
j. Ceramah menyebabkan sistem belajar siswa menjadi “belajar menghafal” dan tidak mengacu pada timbulnya pengertian.
4. Peranan Siswa dalamMetode Ceramah
Walaupun dalam metode ini, seluruh kegiatan didominasi oleh guru, siswa juga berperan dalam metode ceramah yaitu;
e. Mengadakan interpretasi terhadap keterangan guru.
f. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik keterangan guru.
g. Mengadakan asimilasi, apabila tidak ada interpertasi yang benar.
h. Mengadakan pencatatan yang diperlukan.
5. Peranan Guru Dalam Metode Ceramah
Dalam metode ceramah, pemeran utama adalah garu. Karena pelaksanaan metode ceramah merupakan komunikasi satu arah, dalam arti guru mendominasi seluruh kegiatan belajar mengajar. Berhasil tidaknya metode ceramah tergantung sebagian besar pada guru. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru.
d. Satuan bahan pelajaran apa yang disajikan pada siswa.
e. Bagaimana menyajikan satuan bahan pelajaran tersebut.
f. Alat-alat apa yang digunakan oleh guru tersebut.
6. Sepuluh Saran Untuk Mengefektifkan Pengajaran Dengan Ceramah
Berceramah merupakan salah satu dari metode pengajaran yang paling lama digunakan, namun apakah metode semacam ini memiliki tempat dalam lingkungan belajar aktif? Karema terlalu sering digunakan, metode ceramah tidak akan mengantarkan pada pembelajaran, namun ada kalanya cara ini bisa efektif. Agar bisa efektif, guru harus terlebih dahulu membangkitkan minat, memaksimalkan pemahaman dan pengingatan, melibatkan siswa selama penceramahan, dan menekankan kembali apa yang telah disajikan. Berikut adalah sejumlah pilihan untuk melakukan hal itu.
a. Membangkitkan Minat
- Paparkan kisah atau tayangan menarik: Sajikan anekdot yang relevan, kisah fiksi, kartun, atau gambar grafis yang bisa menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan anda ajaran.
- Ajuan soal cerita: Ajukan soal yang nantinya akan menjadikan sajian dalam ceramah pengajaran.
- Pertanyaan penguji: Ajukan pertanyaan kepada siswa (sekalipun mereka baru sedikit memiliki pengetahuan tentang mata pelajaran) atau mereka termotivasi untuk mendengarkan ceramah dalam rangka mendapatkan jawabannya.
b. Memaksimalkan Pemahaman dan Pengingatan
- Headline/kepala berita: Susunlah kembali poin-poin utama dalam ceramah menjadi kata-kata kunci yang berfungsi sebagai subjudul verbal atau bantuan mengingat.
- Contoh dan analogi: Berikan gambaran nyata tentang gagasan dalam perencanaan dan, jika memungkinkan, buatlah perbandingan antara materi dengan pengetahuan dan pengalaman yang siswa miliki.
- Cadangan visual: Gunakan grafik lipat, transparansi, buku pegangan dan peragan yang memungkinkan siswa melihat dan mendengar apa yang guru katakan.
c. Melibatkan Siswa Perceramahan
- Tantangan kecil: Lakukan interupsi ceramah secara berkala dan tantanglah siswa untuk memberikan contoh tentang konsep-konsep yang telah disajikan selama ini atau untuk menjawab pertanyaan kuis ringan.
- Latihan yang memperjelas: Selama menyajikan materi selingilah dengan kegiatan yang memperjelas hal-hal yang disampaikan.
d. Memperkuat Apa yang Telah Disampaikan
- Soal penerangan: Ajukan masalah atau pertanyaan untuk dipecahkan oleh siswa berdasarkan informasi yang disampaikan selama pengajaran.
- Tinjauan siswa: Perintahkan siswa untuk meninjau tes dari penyampaian pelajaran kepada sesama siswa, atau berilah mereka tes penilaian diri.

130. Pengajaran Autentik
Pengajran autentik yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata. Siswa sering kali mengalami kesulitan dalam menerapkan keterampilan yang telah mereka dapatkan di sekolah ke dalam kehidupan nyata sehari-hari karena keterampilan-keterampilan itu lebih diajarkan dalam konteks (situasi yang ada hubungannya dengan) sekolah ketimbang konteks kehidupan nyata.
Tugas-tugas sekolah sering lemah dalam konteks (tidak autentik), sehingga tidak bermakna bagi kebanyakan siswa karena siswa tidak dapat menghubungkan tugas-tugas ini denga apa yang telah mereka ketahui. Guru dapat membantu siswa untuk belajar memecahkan masalah dengan memberi tugas-tugas yang memiliki konteks kehidupan nyata dan kaya dengan kandungan akademik serta keterampilan yang terdapat dalam konteks kehidupan nyata. Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, siswa harus mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi kemungkinan pemecahannya, memilih suatu pemecahan, melaksanakan pemecahana atas masalah mereka. Dengan begitu, siswa akan belajar menerapkan keterampilan akademik seperti pengumpulan informasi, menghitung, menulis dan berbicara di dalam konteks kehidupan nyata.

131. Kerja Kelompok
Teknik ini sebagai salah satu strategi belajar mengajar. Ialah suatu cara mengajar, dimana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 (lima) atau 7 (tujuh) siswa, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang ditentukan pula oleh guru.
Robert L. Cilstrap dan William R Marti, memberikan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar. Keberhasilan kerja kelompok untuk mengajar mempunyai tujuan agar siswa mampu bekerja sama dengan teman yang lain dalam mencapai tujuan bersama.
Adapun pengelompokkan itu biasanya didasarkan pada:
1. Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya.
Agar penggunaannya dapat lebih efisien dan efektif, maka siswa perlu dijadikan kelomok-kelompok kecil. Karena bila seluruh siswa sekaligus menggunakan alat-alat itu tidak mungkin. Dengan pembagian kelompok mereka dapat memanfaatkan alat-alat yang terbatas itu sebaik mungkin, tanpa saling menunggu gilirannya.
2. Kemampuan belajar siswa
Di dalam satu kelas kemampuan belajar siswa tidak sama. Siswa yang pandai di dalam bahasa Inggris, belum tentu sama pandainya dalam pelajaran sejarah. Dengan adanya perbedaan kemampuan belajar itu, maka perlu dibentuk kelompok menurut kemampuan belajar masing-masing, agar setiap siswa dapat belajar sesuai kemampunnya.
3. Minat Khusus
Setiap individu memiliki minat khusus yang perlu dikembangkan: hal mana yang satu pasti bereda dengan yang lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada anak yang minat khususnya sama, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok, agar mereka dapat dibina dan mengembangkan bersama minat khusus tersebut.
4. Memperbesar partisipasi siswa.
Di sekolah pada tiap kelas biasanya jumlah siswa terlalu besar, dan kita tahu bahwa jumlah jam pelajaran adalah sangat terbatas, sehingga dalam jam pelajaran yang sedang berlangsung sukar sekali untuk guru akan mengikutsertakan setiap murid dalam kegiatan itu. Bila itu terjadi siswa yang ditunjuk guru akan aktif, yang tidak disuruh akan tetap pasif saja. Karena itulah bila berkelompok, dan diberikan tugas yang sama pada masing-masing kelompok, maka banyak kemungkinan setiap siswa ikut serta melaksanakan dan memecahkannya.
5. Pembagian tugas atau pekerjaan.
Di dalam kelas bila guru menghadapi suatu masalah yang meliputi berbagai persoalan, maka perlu tugas membahas masing-masing persoalan pada kelompok, sesuai dengan jumlah persoalan yang akan dibahas. Dengan demikian masing-masing kelompok harus membahas tugas yang diberikan. Itu.
6. Kerja sama yang efektif.
Dalam kelompok siswa harus bisa bekerja sama, mampu menyesuaikan diri, menyeimbangkan pikiran/pendapat atau tenaga untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai suatu tujuan bersama pula.
Apakah keuntungan penggunaan teknik kerja kelompok itu? Keuntungannya ialah:
i. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah.
ii. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah.
iii. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
iv. Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
v. Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
vi. Dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
Tetapi ini tidak ditunjang oleh penelitian yang khusus.
vii. Kerja kelompok sering-sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.
viii. Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda pula.
ix. Keberhasilan strategi kelompok ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kekompok atau untuk bekerja sendiri.
Bentuk-bentuk kerja kelompok yang bisa dilaksanakan ialah:
a. Keja kelompok berjangka pendek.
Bentuk ini dapat disebutu pula “rapat kilat” karena hanya mengambil waktu ± 15 menit, yang mempunyai tujuan untuk memecahkan persoalan khusus yang terdapat pada sesuatu masalah. Umpamanya: Ketika instruktur menjelaskan sesuatu pelajaran terdapat suatu masalah yang perlu didiskusikan. Guru dapat menunjuk beberapa siswa, atau membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk membahas masalah itu dalam waktu yang singkat.


b. Kerja Kelompok berjangka panjang.
Pembicaraan di sini memakan waktu yang panjang, misalnya memakan waktu 2 hari, satu minggu atau mungkin tiga bulan, tergantung pada luas dan banyaknya tugas yang harus diselesaikan siswa. Apabila siswa telah menyelesaikan tugasnya di dalam suatu kelompok, ia boleh memilih membantu kelompok lain sesuai dengan minat mereka.
Kerja kelompok berjangka panjang dapat dilaksanakan dengan tujuan:
b.1. Membahas masalah yang benar-benar ada di dalam masyarakat, umpamanya: masalah koperasi, lingkungan sehat, pembuangan sampah dan lain sebagainya. Masalah itu dibahas agar siswa mengetahui, memahami dan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat tersebut.
b.2. Memotivasi siswa ke arah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat. Misalnya: penerangan tentang makanan sehat, penggunaan metode mengajar yang lebih efisien, menggalakkan KB dan sebagainya. Jadi dengan kerja kelompok di sini siswa dapat menerapkan teori yang dipelajari di sekolah ke dalam praktek hidup sehari-hari, di samping dapat menyumbangkan pemikirannya/ide-ide serta tenagannya bagi masyarakat sekitarnya.
b.3. Dengan melaksanakan kerja kelompok kerja kelompok memberi pengalaman kepada siswa untuk mengenal kepemimpinan/leadership, seperti membuat rencana sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, membagi pekerjaan, memecahkan masalah/menyelesaikan tugas dengan bekerja bersama.
b.4. Dengan bekerja sama itu siswa dapat mengumpulkan bahan-bahan informasi atau data lebih banyak tentang berbagai jenis aspek suatu masalah di dalam waktu relatif singkat.
c. Kerja Kelompok Campuran
Di sini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa. Dalam kerja kelompok ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sessuai dengan kemampuan masing-masing sehingga kelompok yang pintar dapat selesai terlebih dahulu tidak usah menunggu kelompok yang lain. Kelompok siswa yang agak lamban, diizinkan menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesuai dengan kemampuannya.agar kerja kelompok campuran itu mencapai sasaran, guru perlu memperhatikan hal-hal ialah harus menyediakan tugas atau kegiatan belajar yang sesuai dengan kemampuan belajar setiap kelompok, kemudian setiap tugas harus disusun sedemikian rupa sehingga setiap kelompok dapat mengerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain atau guru. Akhirnya guru harus memberi petunjuk yang jelas, sehingga siswa tahu apa yang harus dilakukan, dan apa yang diharapkan dari mereka masing-masing.
Supaya kerja kelompok dapat lebih berhasil, maka harus melalui langkah-langkah sebagai berikut:
x. Menjelaskan tugas kepada siswa.
xi. Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu.
xii. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
xiii. Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kerja kelompok tersebut.
xiv. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan.
xv. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

132. Metode Ceramah
1. Pengertian
Metode ceramah terkadang disebut sebagai metode kuliah, dapat juga disebut metode deskripsi. Sesuai dengan namanya, berceramah dipergunakan sebagai metode mengajar.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjiono (1981), metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan.
Jadi metode ceramah adalah metode belajar yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan rumusan metode belajar mengajar. Penggunaan metode ceramah secara terus menerus dalam proses belajar kurang tepat karena dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa.
Gambaran pengajaran dengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut; guru mendominasi kegiatan belajar mengajar, definisi dan rumus diberikannya, contoh-contoh soal diberikan dan dekerjakan sendiri oleh guru, langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh siswa.
2. Kebaikan Metode Ceramah
k. Dapat menamung kelas besar dan tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan. Oleh karenanya biaya yang diperlukan lebih murah.
l. Bahan pelajaran dapat diberikan secara urut, ide atau konsep dapat direncanakan dengan baik.
m. Guru dapat menekankan hal-hal yang penting, sehingga waktu dan energi dapat digunakan sehemat mungkin.
n. Isi silabus dapat dilakukan menurut jadwal, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.
o. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran tidak menghambat jalanya pelajaran.
3. Kelemahan Metode Ceramah
k. Pelajaran berjalan membosankan siswa karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan.
l. Siswa menjadi pasif hanya aktif membuat catatan saja.
m. Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
n. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
o. Ceramah menyebabkan sistem belajar siswa menjadi “belajar menghafal” dan tidak mengacu pada timbulnya pengertian.
4. Peranan Siswa dalamMetode Ceramah
Walaupun dalam metode ini, seluruh kegiatan didominasi oleh guru, siswa juga berperan dalam metode ceramah yaitu;
i. Mengadakan interpretasi terhadap keterangan guru.
j. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik keterangan guru.
k. Mengadakan asimilasi, apabila tidak ada interpertasi yang benar.
l. Mengadakan pencatatan yang diperlukan.
5. Peranan Guru Dalam Metode Ceramah
Dalam metode ceramah, pemeran utama adalah garu. Karena pelaksanaan metode ceramah merupakan komunikasi satu arah, dalam arti guru mendominasi seluruh kegiatan belajar mengajar. Berhasil tidaknya metode ceramah tergantung sebagian besar pada guru. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru.
g. Satuan bahan pelajaran apa yang disajikan pada siswa.
h. Bagaimana menyajikan satuan bahan pelajaran tersebut.
i. Alat-alat apa yang digunakan oleh guru tersebut.
6. Sepuluh Saran Untuk Mengefektifkan Pengajaran Dengan Ceramah
Berceramah merupakan salah satu dari metode pengajaran yang paling lama digunakan, namun apakah metode semacam ini memiliki tempat dalam lingkungan belajar aktif? Karema terlalu sering digunakan, metode ceramah tidak akan mengantarkan pada pembelajaran, namun ada kalanya cara ini bisa efektif. Agar bisa efektif, guru harus terlebih dahulu membangkitkan minat, memaksimalkan pemahaman dan pengingatan, melibatkan siswa selama penceramahan, dan menekankan kembali apa yang telah disajikan. Berikut adalah sejumlah pilihan untuk melakukan hal itu.
a. Membangkitkan Minat
- Paparkan kisah atau tayangan menarik: Sajikan anekdot yang relevan, kisah fiksi, kartun, atau gambar grafis yang bisa menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan anda ajaran.
- Ajuan soal cerita: Ajukan soal yang nantinya akan menjadikan sajian dalam ceramah pengajaran.
- Pertanyaan penguji: Ajukan pertanyaan kepada siswa (sekalipun mereka baru sedikit memiliki pengetahuan tentang mata pelajaran) atau mereka termotivasi untuk mendengarkan ceramah dalam rangka mendapatkan jawabannya.
b. Memaksimalkan Pemahaman dan Pengingatan
- Headline/kepala berita: Susunlah kembali poin-poin utama dalam ceramah menjadi kata-kata kunci yang berfungsi sebagai subjudul verbal atau bantuan mengingat.
- Contoh dan analogi: Berikan gambaran nyata tentang gagasan dalam perencanaan dan, jika memungkinkan, buatlah perbandingan antara materi dengan pengetahuan dan pengalaman yang siswa miliki.
- Cadangan visual: Gunakan grafik lipat, transparansi, buku pegangan dan peragan yang memungkinkan siswa melihat dan mendengar apa yang guru katakan.
c. Melibatkan Siswa Perceramahan
- Tantangan kecil: Lakukan interupsi ceramah secara berkala dan tantanglah siswa untuk memberikan contoh tentang konsep-konsep yang telah disajikan selama ini atau untuk menjawab pertanyaan kuis ringan.
- Latihan yang memperjelas: Selama menyajikan materi selingilah dengan kegiatan yang memperjelas hal-hal yang disampaikan.
d. Memperkuat Apa yang Telah Disampaikan
- Soal penerangan: Ajukan masalah atau pertanyaan untuk dipecahkan oleh siswa berdasarkan informasi yang disampaikan selama pengajaran.
- Tinjauan siswa: Perintahkan siswa untuk meninjau tes dari penyampaian pelajaran kepada sesama siswa, atau berilah mereka tes penilaian diri.

133. Sumbang Saran (Brain-Storming)
Brain Storming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat.
Tujuan penggunaan teknik ini ialah untuk menguras habis apa yang dipikirkan para siswa dalam menanggapi masalah yang dilontarakan guru ke kelas tersebut.
Dalam pelaksanaan metode ini tugas guru adalah memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka menanggapi, dan guru tidak boleh mengomentari bahwa pendapat siswa itu benar/salah, juga tidak perlu komentar atau evaluasi.
Murid bertugas menanggapi masalah dengan mengemukakan pendapat, komentar atau bertanya, atau mengemukakan masalah batu, mereka belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik. Siswa yang kurang aktif perlu dipancing dengan pertanyaan dari guru agar turut berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.
Teknik brain storming digunakan karena memiliki banyak keunggulan sepeti:
xvi. Anak-anak aktif berfikir untuk menyatakan pendapat.
xvii. Melatih siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
xviii. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
xix. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang pandai atau dari guru.
xx. Terjadi persaingan yang sehat.
xxi. Anak merasa bebas dan gembira.
xxii. Suasana demokrasi dan disiplin dapat ditumbuhkan.
Dan yang perlu diatasi ialah:
xxiii. Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik.
xxiv. Anak yang kurang selalu ketinggalan.
xxv. Kadang-kadang pembicaraan hanya dimonopoli oleh anak yang pandai saja.
xxvi. Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan.
xxvii. Siswa tidak segera tahu apakah pendapatnya itu betul/salah.
xxviii. Tidak menjamin hasil pemecahan masalah.

134. Model Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode Jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari atau enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Pada anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu desebut “kelompok pakar” (expert group). Selanjutnya, para pakar siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompoknya semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam “home teams”, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari. Dalam metode Jigsaw versi Slavin. Individu atau tim yang memperoleh skor tinggi diberi penghargaan oleh guru.

135. Model Learning Together
Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang per tim dan heterogen kemampuannya. Para siswa bekerja sebagai suatu keompok untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok, berbagai gagasan, dan membantu satu sama lain dengan jawaban, dan meminta bantuan dari teman yang lain sebelum bertanya kepada guru, dan si guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan kinerja kelompok.

136. Model Numbered Head Together
Model ini kembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur 4 langkah sebagai berikut:
1. Langkah 1 – Penomoran (Numbering): Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa daslam tim tersebut memiliki nomor yang berbeda.
2. Langkah 2 – Pengajuan Pertanyaan (Questioning): Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Contoh pertanyaan yang bersifat spesifik adalah “Di mana letak kerajaan Tarumanegara?”, sedangkan contoh pertanyaan yang bersifat umum adalah “Mengapa Diponegoro memberontak kepada pemerintah Belanda?”.
3. Langkah 3 – Berpikir Bersama (Head Together): Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
4. Langkah 4 – Pemberian Jawaban (Answering): Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

137. Pemberian Balikan
Dengan mengutip beberapa pandangan, Panjaitan (1993: 23) mengemukakan tentang pengertian pemberian balikan sebagai berikut:
a. Pemberian balikan adalah pemberian informasi kepada siswa tentang hasil kerjanya dalam mengerjakan tes atau latihan (‘Cardelle dan Corno, 1985: 162-173).
b. Pemberian balikan adalah pemberian informasi kepada peserta didik sampai sejauh mana ia telah mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Dawdan Gage, 1967: 181-188).
c. Pemberian balikan adalah pemberian informasi kepada siswa seberapa jauh ia talah memahami isi pembelajaran sesuai dengan tes dan latihan yang diberikan guru kepadanya (Kulik dan Kulik, 1988: 79-97).
d. Pemberian balikan adalah suatu komunikasi antara guru dan siswa dalam hal memudahkan siswa memperbaiki kekurangannya dalam proses pembelajaran (Measn, dkk, 1978: 373-387).
e. Pemberian balikan adalah pemberian informasi kepada siswa tentang pemahamannya dalam mengerjakan tes atau latihan setelah menyelesaikan suatu topik atau satu sub pokok bahasan yang diberikan guru setelah selang waktu tertentu (Rochim dan Thomson, 1985: 368-372).
f. Pemberian balikan adalah salah satu cara untuk memudahkan siswa belajar, yaitu memberi informsi kepada siswa tentang hasil kerjanya dalam mengerjakan tes atau latihan (Anderson dan Faust, 1973: 271-295).
g. Pemberian balikan adalah merupakan interaksi antara guru dan siswa yang digunakan sebagai korekasi terhadap jawaban siswa dalam mengerjakan tes atau latihan agar siswa tahu apakah jawabannya dalam mengerjakan tes atau latihan menjawab soal-soal itu benar atau salah (Hill, 1980).
h. Benne, dkk, (1975) menyatakan bahwa dengan pemberian balikan siswa akan mengetahui kesalahan/kekurangan dan penilain serta komentar yang diberikan oleh guru tentang tampilannya dalam mengerjakan tes atau latihan dengan maksud agar memudahkan siswa dalam memperbaikinya.
i. Pemberian balikan adalah informasi yang diberikan kepada siswa setalah ia memberikan respon atas tes atau latihan yang diberikan guru setelah melakukan proses pembelajaran sesuai denga program yang dirancang oleh guru (Skodmore, dkk. 1979: 89).
Berdasarkan makna pengertian pemberian balikan dalam pembelajaran, secara teoritis seperti yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pemberian balikan adalah informsi atau pemberitahuan guru kepada siswa baik secara lisan atau tertulis terhadap salah benarnya jawaban siswa dari hasil dalam mengerjakan tes atau latihan setelah selesai mengikuti program pembelajaran yang dirumuskan oleh guru dengan tujuan agar siswa terangsang atau termotivasi untuk berusaha merespon mencari pembetulan.
2. Langkah Pemberian Balikan
Menurut Panjaitan (1993: 24) ada dua cara pemberian balikan, sebagia berikut:
a. Pemberian Balikan Secara Simbol
Pemberian balikan secara simbol adalah pemberian informasi guru kepada siswa secara tertulis yang dituangkan pada lembar jawaban hasil kerja siswa dalam mengerjakan tes atau latihan, dengan memberikan tanda benar (B) pada jawaban yang benar, dan memberikan tanda salah (S) pada jawaban yang salah tanpa memberikan keterangan apapun.
Tanda-tanda tersebut sebagai simbol apakah pekerjaan siswa benar atau salah.
b. Pemberian Balikan Secara Ekspositorik
Pemberian balikan secara ekspositorik, adalah pemberian informasi guru kepada siswa secara tertulis yang dituangkan pada lembar jawaban hasil kerja siswa dalam mengerjakan tes atau latihan, yaitu dengan memberikan tanda benar (B) pada jawaban yang benar, dan memberikan tanda salah (S) pada jawaban yang salah dan sekaligus memberi penjelasan singkat/terperinci atas kesalahannya dan petunjuk perbaikan serta buku sumber acuannya agar siswa dapat memperbaiki kekurangannya dan kesalahannya yang telah diperbuatnya.
Catatan yang diberikan oleh guru (pada umumnya untuk jawaban yang salah) dapat diberikan dengan jelas atau petunjuk lain yang dapat membantu siswa memperbaiki pekerjaannya yang salah.
Pembelajaran dengan cara memberikan balikan baik secara simbol maupun secara ekspositorik dari guru kepada siswa agar memudahkan siswa untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya dan diprediksi dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan perolehan hasil belajar.
3. Kebijaksanaan Pemberian Balikan
Pemberian balikan dalam bentuk informasi atau pemberitahuan dari guru kepada siswa tentang kekurangan-kekurangannya atau tentang kesalahan-kesalahannya terhadap hasil kerjanya dalam menjawab tes atau latihan setelah selesai mengikuti eksperimen dalam pembelajaran, yang pengaruhnya dapat menimbulkan reaksi minimal tiga kemungkinan pada diri siswa.
Kemungkinan yang timbul dalam pemberian balikan dapat menjadikan siswa apatis, patah semangat, atau patah hati, dan menjadi pendorong semangat belajar. Hal demikian tergantung kebijaksaan atau kepandaian akal budi sang guru dalam memberikan balikan. Cara pemberi balikan dapat bersifat positif dan dapat negative. (Jarolimek dan Foster, 1978; Panjaitan, 1993: 27).
Pemberian balikan yang bersifat positif dikandung maksud informasi atau pemberitahuan terhadap kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan yang diperbuat oleh siswa, baik yang lisan maupun yang tertulis pada lembar jawaban siswa hsil pengerjaan tes atau latihan seharusnya balikan yang bersifat membangun, harus merupakan balikan yang bersifat konstruktif yaitu informasi atau pemberitahuan yang disampaikan guru kepada siswa harus mampu memberikan dorongan atau motivasi berhasil yang dapat membangkitkan semangat dan kerja keras dalam diri siswa untuk lebih giat berusaha belajar memperbaiki kekurangan-kekurangannya dan kesalahan-kesalahannya yang telah diperbuatnya. Karenanya informasi atau pemberitahuan itu harus dilaksanakan dengan seksama, bersifat pujian, jelas, cermat, dan spesifik, mudah dipahami siswa, sehingga siswa tergerak jiwanya untuk berusaha memperbaikinya. Adapun sebaliknya pemberian balikan yang bersifat negative adalah balikan yang bersifat destruktif atau balikan yang bersifat merusak yaitu informasi atau pemberitahuan guru kepada siswa terhadap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya yang disampaikan dengan nada kecaman, cemoohan, penghinaan, lebih-lebih diikuti dengan rasa emosional guru dengan marah-marah. Tindakan yang demikian dapat menimbulkan:
- Rasa apatis pada diri siswa, siswa menjadi masa bodoh terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru.
- Rasa patah hati, patah semangat pada diri siswa, sehingga siwa menjadi tidak mau belajar lagi terhadap pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Guru yang bijaksana adalah guru yang selalu menggunakan akal budinya untuk memberikan balikan yang bersifat konstruktif, dan selalu menghindari pemberian balikan yang bersifat destruktif atau balikan yang bersifat merusak terhadap hasil pekerjaan siswa dalam mengerjakan tes atau latihan. Pemberian balikan harus mampu mendorong siswa untuk lebih bersemangat lagi dalam meningkatkan belajarnya.

138. Model Team Assisted Individualization
Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa.
Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program ilmu penetahuan sosial sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.
Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam metode pembelajaran ini.
Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampaui.

139. Pengajaran Berbasis Tugas/Proyek
Pengajaran berbasis proyek/tugas terstruktur (Project-Based Learning) membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa disain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermana lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Eduction, 2001).
Siswa diberikan tugas/proyek yang kompleks, sulit, lengkap, tetapi realistis/autentik dan kemudian diberikan bantuan secekupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas mereka (bukan diajar sedikit demi sedikit komponen-komponen suatu tugas kompleks yang padu suatu diharapkan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk menyelesaikan tugas kompleks tersebut). Prinsip ini digunakan untuk menunjang pemberian tugas kompleks di kelas seperti proyek, simulasi, penyelidikan masyarakat, menulis untuk disajikan kepada forum pendengar yang sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya. Istilah situated learning (Prawat, 1992) digunakan untuk menggambarkan pembelajaran yang terjadi di dalam kehidupan nyata, tugas-tugas outentik/asli yang sebenarnya.
Tidak memandang apakah suatu tugas harus dikerjaklan sebagai pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah, empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif.
5. Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantang
Salah satu tantangan paling sukar yang dihadapi guru pada saat mereka menggunakan pekerjaan kelas atau pekerjaan rumah adalah menjaga siswa tetap terlibat. Pada saat bekerja sendiri, sangat mudah bagi sisa untuk kehilangan minat dan melalukan tindakan yang tidak relevan, khususnya apabila tugas-tugas itu rutin.
Kebanyakan guru setuju bahwa tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah mandiri yang dapat mempertahankan keterlibatan siswa memiliki tujuan yang jelas. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan, mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu, dan apa yang dibutuhkanuntuk menyelsaikan pekerjaan itu. Siswa-siswa itu tetap berada dalam tugas selama pekerjaan kelas dan menyelesaikan pekerjaan rumah apabila mereka menyikapi tugas-tugas tersebut secar bermakna.
Linda Anderson (1985) menunjukan bahwa guru jarang menaruh perhatian pada tujuan pekerjaan kelas atau strategi-strategi belajar yang telibat. Sebaliknya, guru menekankan pada arahan-arahan procedural. Sebagai contoh guru dpat menghabiskan waktu banyak menjelaskan kepad siswa di mana menulis nama di kertas atau bagaimana menyusun jawaban-jawabannya. Sementar petunjuk-petunjuk tentang “apa yang dilakukan” adalah penting guru tidak menyertakan penjelasan tentang “mengapa” sesuatu harus dikerjakan dan proses-proses pembelajaran yang terlibat. Sebelum memberikan suatu tugas, guru hendaknya mempertimbangkan cirri penting itu secara seksama dan kemudian menyediakan waktu cukupuntuk menjelaskan cirri penting itu kepada siswa.
6. Menganekaragamkan Tugas-tugas
Sama dengan kehidupan pada umumnya, keanekaragaman menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah.siswa kemungkinan besar ttap terlibata dan mengerjakan pekerjaan mereka jika tugas-tugas lebih bervariasi dan menarik daripada rutindan monoton. Guru yang efektif mengubah panjang dan cara tugas yang diberikan di samping hakikat tugas beljar dan strategi-strategi kognitif yang telibat. Membaca di dalam hati, laporan proyek-proyek khusus, dan bahan-bahan multimedia menawarkn berbagai macam cara untuk menyelesaikan pekerjaan mandiri. Pilihan kemungkinan tidak terbatas dan tidak aka alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari.
7. Menaruh Perhatian pada Tingkat Kesulitan
Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan suatu bahan baku penting untuk keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Apabila siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri, tugas tesebut sehrusnya memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan guru terlalu mudah. Mereka menyikapi tugas-tugas seperti sebagai pekerjaan yang tidak menantang. Pada umumnya tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang, namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri.
8. Memonitor Kemajuan Siswa
Akhirnya, merupakan hal penting bagi guru untuk memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Monitoring hendaknya meliputi pengecekan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka dan proses-proses kognitif yang telibat. Monitoring ini juga termasuk pengecekan pekerjaan siswa dan mengembalikan tugas dengan umpan balik. Pad saat beberfapa siswa diberikan pekerjaan kelas, maka guru dapat bekerja dengan siswa lain.a dianjurkan agar guru menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami tugas tersebut sebelum menangani siswa-siswa lain. Apabila siswa bekerja dalam kelompok-kelompok, maka guru hendaknya berada dalam kelompok-kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. Meskipun mengoreksi tugas menghabiskan waktu, hendaknya guru mengoreksi pekerjaan yang dibuat siswa dan mengembalikan kepda mereka dengan umpan balik.
140. Metode Penampilan
Metode penampilan adalah berbentuk pelaksaan praktik oleh siswa di bawah bimbingan dari dekat oleh pengajar. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau penampilan yang diterima atau diamati siswa.
Metode ini dipergunakan pengajar harus:
1. Memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama siswa berpraktik
2. Melakukan tindakan pengamatan sebelum kegaitan praktik di mulai untuk keselamatan siswa yang digunakan.
Metode penampilan ini tepat digunakan manakala:
1. Pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan
2. Kegiatan pembelajaran bersifat formal, latihan kerja atau magang
3. Siswa mendapat kemungkinan untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam situasi sesungguhnya
4. Kondisi praktik sama dengan kondisi kerja
5. Dapat disediakan bombing kepada siswa secara dekat selama praktik
6. Kegiatan ini menjadi remedial bagi siswa
Keterbatasan penggunaan metode penampilan adalah:
1. Membutuhkan waktu panjang, karena siswa harus mendapatkan kesempatan berpraktik sampai baik.
2. Membutuhkan fasilias dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh dan dipelihara secara terus menerus.
3. Membutuhkan pengajar yang lebih banyak, karena setiap pengajar hanya dapat membantu sejumlah siswa.